
Rupiah Mengalami Pelemahan di Awal Pekan
Nilai tukar atau kurs rupiah terpantau mengawali perdagangan awal pekan dengan performa yang kurang memuaskan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Senin (13/4/2026). Berdasarkan data Bloomberg hingga pukul 09.04 WIB, rupiah bertengger di level Rp17.131 per dolar AS, melemah sebesar 27 atau 0,16 persen dibandingkan posisi sebelumnya. Rupiah dibuka di Rp17.124 per dolar AS.
Ancaman Blokade Trump Bikin Investor Waswas
Pengamat pasar uang Lukman Leong menyebutkan bahwa rupiah diperkirakan akan terus tertekan terhadap dolar AS. Hal ini dipicu meningkatnya ketidakpastian situasi di Timur Tengah setelah perundingan antara AS dan Iran menemui jalan buntu. "Rupiah diperkirakan melemah terhadap dolar AS di tengah meningkatnya ketidakpastian seputar geopolitik di Timur Tengah menyusul ancaman Trump untuk menutup Selat Hormuz setelah perundingan yang gagal dengan Iran," ujarnya.
Harga Minyak Dunia Tembus 100 Dolar AS Per Barel
Ketegangan yang terjadi berdampak langsung pada meroketnya harga energi dunia. Pada Minggu (12/4/2026), harga minyak kembali menembus angka 100 dolar AS per barel setelah Trump menyatakan akan memblokade setiap kapal yang keluar-masuk Selat Hormuz. Jalur tersebut merupakan urat nadi pengiriman minyak dunia, sehingga ancaman blokade berpotensi mengacaukan aliran pasokan global. Akibatnya, harga minyak mentah brent melonjak 8 persen ke level 102 dolar AS per barel, sementara minyak mentah AS juga naik 8 persen menjadi 104 dolar AS per barel.
Proyeksi Pergerakan Rupiah pada Perdagangan Senin
Jika melihat pergerakan sejak awal tahun, rupiah kini sudah mencatatkan pelemahan sebesar 2,54 persen. Dalam kurun waktu satu tahun terakhir, nilai tukar mata uang Garuda telah bergerak pada rentang Rp16.079 hingga Rp17.124 per dolar AS. Melihat dinamika pasar terkini, Lukman memproyeksikan rupiah akan bergerak fluktuatif pada kisaran Rp17.050 hingga Rp17.200 per dolar AS pada perdagangan hari ini.
Sejarah Bank Indonesia, Bank Sentral Penjaga Kestabilan Nilai Rupiah
Bank Indonesia (BI) adalah lembaga yang bertanggung jawab atas stabilitas nilai rupiah. Sejak didirikan, BI telah menjalankan berbagai kebijakan moneter dan fiskal untuk menjaga pertumbuhan ekonomi serta mencegah inflasi. Selain itu, BI juga berperan dalam mengatur sistem perbankan nasional agar tetap stabil dan dapat memberikan layanan keuangan yang aman bagi masyarakat. Dengan peran pentingnya, BI menjadi tulang punggung perekonomian Indonesia dan menjadi penjaga utama nilai rupiah di tengah berbagai tantangan eksternal maupun internal.