Trump Bersikeras Iran Sudah Diamankan, Intelijen AS Bocorkan Fakta: Masih Berbahaya

Trump Bersikeras Iran Sudah Diamankan, Intelijen AS Bocorkan Fakta: Masih Berbahaya

Kekuatan Militer Iran Masih Signifikan, Meski Mengalami Kerusakan

Laporan intelijen terbaru menunjukkan bahwa kekuatan militer Iran masih bertahan meskipun mengalami kerusakan akibat serangan yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel. Temuan ini bertentangan dengan pernyataan sebelumnya dari beberapa pejabat tinggi AS seperti Presiden Donald Trump dan Menteri Pertahanan Pete Hegseth yang menyatakan bahwa pertahanan Iran telah hancur total.

Menurut laporan tersebut, Iran masih memiliki sekitar 40 persen dari armada drone pra-perangnya dan lebih dari 60 persen sistem peluncur rudalnya tetap beroperasi. Hal ini menunjukkan bahwa Iran belum sepenuhnya kehilangan kemampuan militer mereka.

Sejumlah pejabat intelijen dan militer AS juga mengungkapkan bahwa Iran masih mempertahankan sebagian besar kekuatan persenjataannya. Pernyataan ini menjadi sorotan karena bertentangan dengan klaim yang selama ini disampaikan oleh para petinggi Negeri Paman Sam.

Sebelumnya, Trump dan Hegseth mengklaim bahwa pertahanan Iran telah lumpuh total akibat gempuran dari AS dan Israel dalam beberapa minggu terakhir. Namun, laporan penilaian intelijen yang diterbitkan oleh New York Times pada Sabtu (18/4/2026) justru menunjukkan gambaran yang berbeda.

Pemulihan Kapasitas Operasional Militer Iran

Para pejabat AS menyebutkan bahwa lebih dari 100 sistem peluncur yang disembunyikan di dalam gua dan bungker telah ditemukan sejak gencatan senjata dua minggu dimulai pada 8 April lalu. Temuan ini menjadi indikasi kuat bahwa Iran tengah bergerak aktif untuk memulihkan kapasitas operasional militer mereka.

Mereka juga menambahkan bahwa Iran sedang berupaya untuk mengambil rudal yang terkubur di bawah reruntuhan setelah serangan terhadap gudang dan fasilitas bawah tanah. Diperkirakan, Iran dapat merebut kembali sebanyak 70 persen dari persenjataan sebelum perangnya setelah upaya pemulihan selesai.

Meskipun infrastruktur manufaktur senjatanya mengalami kerusakan parah, para pejabat AS meyakini bahwa Iran masih memiliki cukup persenjataan untuk menyandera kapal-kapal di Selat Hormuz di masa mendatang.

Perubahan Strategi Pertahanan Iran

Para analis mengatakan bahwa strategi pencegahan Iran semakin bergantung pada geografi dan kemampuan asimetris. Sekarang semua orang tahu bahwa jika terjadi konflik di masa depan, menutup selat itu akan menjadi hal pertama yang ada dalam rencana Iran, kata Danny Citrinowicz, mantan pejabat intelijen militer Israel.

Meskipun kapal perang AS mampu mencegat ancaman yang datang, para pejabat mencatat bahwa kapal tanker komersial memiliki sedikit pertahanan. Menurut sebuah laporan, Rusia juga telah memberikan tanggapannya mengenai implikasi strategisnya.

Satu hal yang pasti, Iran telah menguji 'senjata nuklirnya'. Itu disebut Selat Hormuz. Potensinya tak terbatas, kata wakil kepala Dewan Keamanan Rusia, Dmitry Medvedev.

Tindakan Iran yang Terbatas

Sejauh ini, Iran telah menahan diri untuk tidak melakukan eskalasi langsung terhadap tindakan angkatan laut AS, termasuk blokade yang telah mengganggu perdagangan maritim. Para pejabat mencatat bahwa perdagangan maritim menyumbang sekitar 90 persen dari aktivitas ekonomi Iran yang diperkirakan sebesar 340 juta dollar AS per hari.

Namun, sebagian besar telah terhenti dalam beberapa hari terakhir. Meskipun begitu, Iran tampaknya masih memegang kendali atas jalur vital yang menghubungkan pasar global.