
Aiotrade, JAKARTA Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali memuncak setelah jalur diplomasi antara Iran dan Amerika Serikat (AS) mengalami kebuntuan. Situasi ini terjadi di tengah meningkatnya aktivitas militer Israel di wilayah Lebanon selatan.
Presiden AS Donald Trump memutuskan untuk membatalkan rencana pengiriman utusan ke Pakistan guna melanjutkan perundingan damai. Keputusan ini diambil karena Washington merasa Teheran belum memberikan tawaran yang memadai untuk menyelesaikan konflik. Langkah Trump ini terjadi tidak lama setelah Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi meninggalkan Islamabad.
Selama kunjungannya ke Islamabad, Araghchi menyampaikan kerangka awal kepada para mediator sebagai upaya untuk mengakhiri konflik dan meredakan ketegangan di kawasan. Namun, tampaknya sinyal kompromi masih jauh dari realisasi. Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan kepada Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif bahwa Teheran tidak akan berunding dengan AS di bawah tekanan, ancaman, atau situasi "pengepungan".
Di tengah kebuntuan diplomasi tersebut, eskalasi militer tetap berlangsung. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memerintahkan serangan "kuat" ke Lebanon selatan. Israel menuduh kelompok Hezbollah telah menggagalkan upaya perdamaian. Serangan terbaru ini memperburuk situasi keamanan regional yang sebelumnya sudah rapuh akibat konflik berkepanjangan.
Sementara itu, upaya diplomasi tetap berjalan meskipun dalam jalur lain. Menjelang kepulangannya ke Islamabad, Araghchi melakukan pembicaraan via telepon dengan Perdana Menteri Qatar Sheikh Mohammed bin Abdulrahman bin Jassim Al Thani. Dalam percakapan tersebut, dia membahas perkembangan gencatan senjata dan tantangan dalam menjaga stabilitas pascakonflik.
Araghchi juga menekankan bahwa Iran terus mendorong upaya diplomatik untuk mengakhiri perang dan menurunkan tensi di kawasan. Meski demikian, format perundingan gencatan senjata antara Iran dan AS ke depan masih belum jelas.
Di sisi lain, kekhawatiran global meningkat terhadap dampak konflik terhadap jalur energi dunia. Perdana Menteri Inggris Keir Starmer dalam pembicaraan dengan Trump menyoroti urgensi membuka kembali arus pelayaran di Selat Hormuz. Pemerintah Inggris memperingatkan bahwa gangguan di selat tersebut dapat berdampak serius terhadap ekonomi global, termasuk lonjakan biaya hidup di berbagai negara.
Starmer juga menyampaikan perkembangan inisiatif bersama Presiden Prancis Emmanuel Macron untuk memulihkan kebebasan navigasi. Pengamat menilai kebuntuan negosiasi saat ini dipengaruhi oleh posisi kedua pihak utama. Mantan pejabat Departemen Luar Negeri AS Mark Kimmitt menyebut baik AS maupun Iran tidak merasakan tekanan langsung dari konflik.
Menurutnya, dampak terbesar justru dirasakan negara lain, terutama yang bergantung pada jalur distribusi energi dan logistik global. Sektor pertanian menjadi salah satu yang paling terdampak, termasuk negara-negara di Afrika yang bergantung pada pasokan pupuk, helium, dan minyak.
Negara-negara yang paling terdampak justru yang menginginkan solusi cepat, ujar Kimmitt menyoroti ketimpangan dampak dari konflik yang berkepanjangan.
Dengan jalur diplomasi yang belum menemukan titik terang dan eskalasi militer yang terus berlanjut, kawasan Timur Tengah kini menghadapi ketidakpastian yang kian dalam, dengan implikasi luas terhadap stabilitas global dan ekonomi dunia.