
Deklinasi kekuatan Amerika Serikat bukanlah topik yang baru. Perdebatan tentang kemunduran dominasi AS telah berlangsung sejak era Presiden Ronald Reagan. Namun, setelah menjadi fondasi utama tatanan global selama delapan dekade, sulit untuk membayangkan AS bisa menjadi entitas yang memicu resistensi global.
Donald Trump berhasil menciptakan situasi tersebut. Bukan lagi dianggap sebagai “negara yang sangat diperlukan”, seperti yang pernah disampaikan oleh Madeleine Albright, AS justru mengumpulkan banyak ketidaksukaan, bahkan dari pihak-pihak yang sebelumnya dianggap mendukungnya. Trump membawa AS untuk melawan dunia.
Contra Mundum!
— dalam konteks yang negatif.
Trump dan Dunia
Dalam wawancara dengan New York Times pada Januari lalu, Trump menyatakan bahwa ia tidak memerlukan hukum internasional, dan menegaskan bahwa hanya moralitasnya sendiri yang membatasi kekuasaannya. Ini sungguh ironis, mengingat AS adalah salah satu negara yang paling berkontribusi dalam pembentukan hukum internasional.
Manusia harus menyaksikan kengerian dua perang dunia untuk menyadari pentingnya hukum internasional. Bahkan lebih jauh lagi, konsep Hugo Grotius tentang hukum internasional lahir saat Perang Tiga Puluh Tahun yang mengerikan terjadi di Eropa abad ke-17.
Cara Trump memandang dunia adalah campuran dari arogansi, kebodohan, hawkisme, dan ilusi akan supremasi. Tatanan dan ketertiban internasional tidak memiliki tempat dalam kamus kebijakan Trump. Ancaman dan gertakan melalui media sosial menjadi rumusan kebijakannya. Semua ini digunakan untuk “melawan dunia”.
Dimulai dengan ambisi untuk mengakuisisi Greenland. Dengan alasan kepentingan nasional, ia mengancam untuk memiliki Greenland secara paksa dan ilegal. Hubungan dengan Kanada juga memburuk karena kesombongan Trump yang menyebutkan bahwa negara itu bisa menjadi negara bagian ke-51. Trump bahkan menyebut Justin Trudeau dan suksesornya, Mark Carney, sebagai “governor”.
Hubungan aliansi dengan Eropa Barat juga semakin mengkhawatirkan. Mulai dari pidato Wakil Presiden JD Vance di Munich Security Conference (MSC) pada Februari tahun lalu, yang dengan berani mengkritik negara-negara Eropa, terutama soal demokrasi dan kebijakan imigrasi. Dilanjutkan dengan kebijakan tarif perdagangan dan ancaman untuk meninggalkan NATO, membuat AS perlahan menjauh dari sekutunya di Eropa Barat.

Di forum Majelis Umum PBB pada September 2025, Trump juga mengkritik PBB dengan mempertanyakan efektivitas dan relevansinya. Ia kemudian menginisiasi Board of Peace (BoP), yang dalihnya adalah untuk menghadirkan perdamaian, khususnya di Palestina dan dunia. Dalih ini tidak hanya mengundang skeptisisme, tetapi juga kontradiktif dengan tindakan yang dilakukannya kemudian.
Kurang dari satu bulan sebelum penandatanganan Piagam BOP di Davos, pada awal Januari, Trump menangkap Presiden Nicolas Maduro dari Venezuela. Presiden negara berdaulat itu ditangkap dan dibawa ke AS—sebuah pertunjukan terbuka dari pencemaran terhadap hukum internasional dan kedaulatan negara.
Terbaru adalah serangan ke Iran. Melalui koordinasi dengan Israel, AS menyerang Teheran pada 28 Februari lalu dan menewaskan banyak pemimpin Iran, termasuk Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei. Implikasinya terasa ke seluruh penjuru dunia, terutama sejak Selat Hormuz ditutup. Perang berlangsung lebih dari sebulan, hingga gencatan senjata sementara dan upaya perundingan di Islamabad yang berbuah kegagalan.
Hawkisme Trump mendapat kritikan, bahkan dari Paus Leo XIV yang selalu menyerukan perdamaian. Trump justru membalas dengan kritik yang meremehkan kepada Paus. Trump sudah melampaui batas-batas wajar dalam sopan santun diplomasi dan hubungan internasional. Ia sedang melawan dunia. Trump Contra Mundum.
Amerika Kehilangan Dunia?
Istilah “contra mundum” biasanya dilekatkan dengan keteguhan dalam memegang prinsip luhur di tengah kebimbangan. Istilah ini dilekatkan pada Santo Athanasius di Abad ke-4 yang gigih dalam membela ajaran Kristus. Lahirlah istilah Athanasius Contra Mundum.
Namun dalam konteks ini, Trump melakukan hal-hal yang sama sekali kontradiktif. Ia memang melawan dunia, tapi bukan karena idealismenya yang luhur, melainkan karena perilakunya yang penuh arogansi dan kebencian. Pikirannya dipenuhi ilusi akan supremasi yang tak pernah hadir dalam dekapannya. Superioritas tanpa tanding itu hanya hadir di bayang-bayangnya.
Dampak dari kebijakan Contra Mundum Trump justru perlahan akan membawa Amerika pada keadaan yang tidak hanya menyulitkannya, tetapi juga bisa mengasingkan, bahkan mengisolasinya.

Pertama, Trump memutus tali erat aliansi. Trump yang selalu terobsesi terhadap relasi dominasi AS dan menuntut sikap submisif dari negara lain, termasuk aliansinya, hanya akan membuat aliansi itu pudar dan bahkan hancur sama sekali.
Kepercayaan yang mengikat aliansi perlahan terkikis dan raib, seiring dengan pameran arogansi AS dan beberapa ancaman kosong bahwa AS akan meninggalkan aliansi. Ini akan berdampak pada keadaan yang sesuai dengan judul tulisan Margaret MacMillan di Foreign Affairs pada Juli 2025, “Make America Alone Again”. Amerika akan—kembali—sendirian.
Kedua, akhir Kekaisaran Amerika adalah kepastian yang tak terelakkan. Era dominasi AS yang berlangsung kurang lebih delapan dekade, yang juga sering dinamakan Abad Amerika (the American Century), sedang berderap dalam langkah menuju akhir.
Dependensi terhadap AS perlahan akan berkurang, kepercayaan akan sirna, pemujaan terhadap keagungan sejarah dan prinsip yang selama ini melekat dengan AS hanya akan menjadi lelucon. Sebagaimana ditulis oleh pemikir Inggris John Gray di The New Statesman, berbagai dinamika terbaru menjadi pertanda dari “The End of America Empire.”
Ketiga, peta geopolitik yang berubah. Momentum kedigdayaan AS yang perlahan memudar membuat rivalnya di ujung Timur belahan bumi, yakni Tiongkok, semakin memancarkan pengaruhnya. Bahkan, para pemimpin Eropa mulai melakukan pendekatan yang lebih intens dengan Beijing.
Ini bisa menjadikan Tiongkok semakin memiliki ruang yang lebih besar dalam mengepakkan sayap pengaruhnya di dunia. Di saat kepercayaan kepada Washington DC tak lagi hadir, tidak menutup kemungkinan jika kita akan segera memasuki era Pax Sinica, era di mana Tiongkok akan menguasai dunia.