Presiden AS Donald Trump Instruksikan Angkatan Laut untuk Menembak Kapal Iran di Selat Hormuz
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump telah memberikan instruksi yang sangat tegas kepada Angkatan Laut AS, yaitu menembak setiap kapal Iran yang tertangkap memasang ranjau di Selat Hormuz. Instruksi ini diumumkan melalui akun pribadinya di platform media sosial Truth Social pada hari Kamis (23/4/2026). Trump juga memerintahkan peningkatan operasi kapal penyapu ranjau hingga tiga kali lipat demi memastikan keamanan pelayaran di kawasan tersebut.
Eskalasi ini dinilai berisiko merusak kesepakatan gencatan senjata yang rapuh antara AS dan Iran. "Saya telah memerintahkan Angkatan Laut Amerika Serikat untuk menembak dan membunuh kapal mana pun yang memasang ranjau di perairan Selat Hormuz. Tidak boleh ada keraguan sedikit pun dalam pelaksanaan perintah militer ini," tegas Trump.
AS-Iran Saling Balas Cegat Kapal
Perintah Trump muncul tak lama setelah pasukan militer AS mencegat kapal tanker M/T Majestic X yang tengah berlayar di kawasan Samudra Hindia. Kapal kargo tersebut diduga sedang berusaha menyelundupkan minyak Iran yang terkena sanksi menuju pelabuhan di wilayah China. Sebelumnya, armada AS juga telah menyita kapal tanker Tifani atas tuduhan pelanggaran sanksi ekonomi yang serupa.
Sebagai balasan, Angkatan Laut Iran mengklaim telah menyita kapal kargo MSC Francesca dan Epaminondas yang melintasi Selat Hormuz. Komando Pusat AS (CENTCOM) mencatat pihaknya telah memaksa setidaknya 33 kapal komersial untuk putar balik. Aksi saling cegat dan blokade ganda telah semakin menghambat aktivitas pelayaran di selat yang biasa menyalurkan 20 persen minyak mentah dunia.

Gencatan Senjata AS-Iran Diperpanjang
Di tengah ketegangan, pemerintah AS justru memutuskan untuk memperpanjang masa gencatan senjata. Keputusan ini diambil dengan mempertimbangkan permintaan dari Pakistan yang bertindak selaku mediator perdamaian. Walaupun intensitas pertempuran mereda, AS bersikeras untuk tetap mempertahankan blokade terhadap pelabuhan Iran. Blokade tersebut membuat Iran meradang dan menolak prospek pembicaraan lebih lanjut dengan AS.
"Tidak ada satu pun kapal yang dapat masuk atau keluar tanpa persetujuan resmi dari Angkatan Laut Amerika Serikat. Kawasan strategis itu dipastikan tertutup rapat sampai Iran bersedia membuat kesepakatan yang baru," tutur Trump.
Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menegaskan bahwa pihaknya tidak mungkin membuka kembali Selat Hormuz selama blokade AS masih berlaku. Menurutnya, blokade tersebut merupakan pelanggaran terang-terangan terhadap poin-poin gencatan senjata.

Trump Klaim Ada Perpecahan di Internal Iran
Selain memberi tekanan maritim, Trump juga menyebarkan isu mengenai adanya perpecahan kepemimpinan di internal Iran. Ia mengklaim faksi moderat dan kelompok garis keras di Teheran sedang bersitegang. Tudingan Trump langsung dibantah oleh Presiden Iran Masoud Pezeshkian melalui pernyataan resmi di akun media sosialnya. Pemerintah Iran menegaskan bahwa seluruh elemen sipil maupun militer di negaranya tetap bersatu di bawah komando Pemimpin Tertinggi.
Di saat yang bersamaan, Israel dilaporkan sedang bersiap melancarkan serangan ke Iran. Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menyatakan pihaknya telah menentukan sejumlah target vital untuk operasi serangan selanjutnya.
