Presiden AS Donald Trump Menegaskan Tidak Terburu-buru Mengakhiri Konflik dengan Iran
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menegaskan bahwa dirinya tidak terburu-buru dalam mengakhiri konflik dengan Iran. Ia menekankan bahwa keputusan harus diambil dengan perhitungan matang, bukan karena dorongan waktu. Pernyataan ini menunjukkan pendekatan hati-hati yang diambilnya dalam menghadapi situasi yang kompleks.
Konflik antara AS dan Iran telah berlangsung hampir dua bulan sejak konflik bersenjata pecah pada 28 Februari 2026. Situasi ini menjadi sorotan dunia karena berpotensi memicu dampak geopolitik yang lebih luas. Meski demikian, proses negosiasi antara kedua pihak masih menemui jalan buntu.
Trump juga menegaskan bahwa dirinya tidak berada dalam tekanan untuk segera mengakhiri konflik tersebut. Ia menilai bahwa keputusan harus diambil dengan perhitungan matang, bukan karena dorongan waktu. "Saya tidak ingin terburu-buru," katanya.

Di tengah ketegangan yang belum mereda, Trump secara terbuka mengklaim bahwa Selat Hormuz kini berada dalam kendali penuh Amerika Serikat. Jalur perairan yang sangat strategis bagi perdagangan minyak dunia itu disebutnya sebagai kunci dalam tekanan terhadap Iran. Ia bahkan menegaskan bahwa akses terhadap selat tersebut akan dibuka kembali jika Iran bersedia mencapai kesepakatan.
Saya yang membuatnya tetap tertutup. Jika mereka tidak ingin membuat kesepakatan, maka saya akan menyelesaikannya secara militer, kata Trump. Lebih lanjut, ia dengan tegas menyatakan tidak akan memberikan ruang bagi Iran untuk memperoleh keuntungan ekonomi selama masa gencatan senjata berlangsung. Ia menilai bahwa pendapatan dari penjualan minyak dapat memperkuat posisi Iran dalam konflik ini.
Saya tidak ingin mereka menghasilkan 500 juta dolar per hari sampai mereka menyelesaikan ini, ucap Trump. Pernyataan tersebut memperlihatkan strategi tekanan ekonomi yang terus diterapkan oleh Washington.
Melalui berbagai pernyataannya, Trump berulang kali menekankan bahwa waktu tidak berpihak pada Iran. Ia menggambarkan situasi ini sebagai tekanan yang semakin meningkat bagi Teheran untuk segera mengambil keputusan. Dalam unggahannya di Truth Social, ia kembali menegaskan posisinya yang tidak terburu-buru.
Saya mungkin orang yang paling tidak berada di bawah tekanan dalam posisi ini. Saya punya seluruh waktu di dunia, tetapi Iran tidak, waktu terus berjalan! tulis Trump di Truth Social. Ia kemudian menegaskan kembali pesannya dengan kalimat yang lebih tajam. Waktu tidak berpihak pada mereka! lanjut dia.
Pernyataan ini memperlihatkan keyakinannya bahwa tekanan waktu akan memaksa Iran untuk berkompromi. Trump juga menambahkan bahwa setiap kesepakatan damai nantinya akan ditentukan sepenuhnya oleh Amerika Serikat. Ia menegaskan bahwa kesepakatan hanya akan dibuat jika benar-benar menguntungkan pihaknya dan sekutunya.
Sebuah kesepakatan hanya akan dibuat ketika itu tepat dan baik bagi Amerika Serikat, sekutu kami, dan pada akhirnya seluruh dunia, tutur Trump. Hal ini menunjukkan pendekatan negosiasi yang berfokus pada kepentingan nasional.
Persoalan Negosiasi dengan Iran
Pada Rabu (22/4/2026), Trump kembali menegaskan bahwa tidak ada batas waktu tertentu untuk mengakhiri perang ini. Ia menyampaikan bahwa proses menuju gencatan senjata maupun perdamaian tidak terikat pada tenggat waktu tertentu. Pernyataan tersebut memperjelas bahwa strategi yang diambil bersifat fleksibel dan situasional.
Melansir The Guardian, Gedung Putih juga menegaskan bahwa durasi konflik antara Washington dan Teheran sepenuhnya bergantung pada keputusan presiden. Pernyataan ini muncul dalam konteks meningkatnya pertanyaan publik mengenai arah dan akhir konflik tersebut. Hal ini disampaikan oleh Juru Bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, saat memberikan keterangan kepada media. Ia menjawab pertanyaan mengenai estimasi durasi perang dalam konferensi pers di Washington.
Hal itu bergantung pada presiden, yang akan mengambil keputusan ketika ia merasa itu demi kepentingan terbaik Amerika Serikat dan rakyat Amerika, kata Leavitt kepada awak media. Pernyataan tersebut menegaskan bahwa kendali penuh atas arah konflik berada di tangan presiden.
Iran Menolak Hadiri Negosiasi
Dalam konflik ini, AS dan Iran sudah melakukan perundingan di Islamabad yang berujung tanpa kesepakatan. Di tengahi oleh Pakistan, peluang perundingan lanjutan sempat muncul ke permukaan. Namun, Iran dilaporkan menolak menghadiri pembicaraan tersebut. Mengutip dari The Guardian, Iran enggan hadir dalam perundingan selama masih melakukan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, yang mereka sebut pelanggaran gencatan senjata.
Melansir dari Al Jazeera pada Senin (20/4/2026), Ketua Parlemen Iran sekaligus Kepala Negosiator Mohammad Ghalibaf menegaskan Iran tidak akan bersedia berunding di bawah bayang-bayang ancaman. Ia juga mengatakan bahwa negaranya telah menyiapkan kemampuan militer baru jika pembicaraan gagal.
Kami tidak menerima negosiasi di bawah ancaman, dan dalam dua minggu terakhir kami telah bersiap menyiapkan langkah-langkah baru di medan pertempuran, kata Ghalibaf dalam unggahan di media sosial.