
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengumumkan bahwa Amerika Serikat akan melakukan blokade terhadap Selat Hormuz. Keputusan ini diambil setelah perundingan antara AS dan Iran di Pakistan berakhir tanpa kesepakatan.
Pengumuman blokade tersebut dikhawatirkan akan menghancurkan harapan perdamaian setelah pembicaraan damai di Islamabad. Dalam pernyataannya di platform media sosial Truth Social, Trump menyatakan: Mulai sekarang, Angkatan Laut AS, yang terbaik di dunia, akan memulai proses BLOKADE semua kapal yang mencoba masuk atau keluar dari Selat Hormuz.
Trump menilai bahwa tindakan blokade ini adalah upaya untuk mencegah Iran menguasai Selat Hormuz dan mengambil keuntungan ekonomi dari wilayah strategis tersebut. Ia juga menegaskan bahwa blokade ini merupakan bentuk perlawanan terhadap pemerasan dunia, khususnya dari para pemimpin negara seperti Amerika Serikat.
Perundingan dengan AS Buntu, Iran Mengklaim Ada Ketidakpercayaan
Sebelumnya, dua kapal perang AS dilaporkan telah melintasi Selat Hormuz. Peristiwa ini menjadi transit pertama kapal militer AS sejak konflik dengan Iran meletus pada akhir Februari lalu.
Trump menyatakan bahwa Washington sedang melakukan proses "pembersihan" jalur laut strategis tersebut. Menurut laporan The Wall Street Journal (WSJ), dua kapal perusak berpeluru kendali milik Angkatan Laut AS melewati selat itu tanpa hambatan.
Sementara itu, media AS lainnya, Axios, melaporkan bahwa operasi tersebut dilakukan tanpa koordinasi dengan otoritas di Iran. Dalam unggahannya di Truth Social, Trump menyatakan bahwa AS mulai membersihkan Selat Hormuz. Ia menilai langkah ini sebagai bentuk "bantuan" bagi negara-negara seperti Cina, Jepang, dan Prancis, yang menurutnya tidak memiliki keberanian atau kemauan untuk melakukan hal serupa.
Wakil Presiden AS Sebut Negosiasi Gagal
Sebelumnya, Wakil Presiden Amerika Serikat, JD Vance, juga membenarkan bahwa kedua negara belum menemukan kesepakatan. Iran dan AS bernegosiasi selama 14 jam guna mengakhiri konflik. Namun, Vance menyatakan bahwa Iran memilih untuk tidak menerima persyaratan yang diberikan AS.
Kabar buruknya adalah kita belum mencapai kesepakatan, ujar JD Vance dalam konferensi pers di Islamabad.
Tindakan Militer dan Kekhawatiran Global
Selain itu, pengamatan terhadap situasi di Selat Hormuz menunjukkan bahwa tindakan militer AS semakin meningkat. Kapal-kapal tanker yang melintasi selat ini menjadi fokus utama karena pentingnya jalur laut ini bagi pasokan energi global.
Beberapa pihak khawatir bahwa tindakan blokade ini bisa memicu eskalasi konflik yang lebih besar. Selat Hormuz adalah jalur vital bagi ratusan juta barel minyak mentah yang diekspor setiap hari, sehingga setiap gangguan di sana dapat berdampak signifikan pada pasar global.
Perspektif Internasional
Negara-negara seperti Cina, Jepang, dan Prancis yang bergantung pada pasokan minyak dari Timur Tengah turut merasa terpengaruh oleh kebijakan AS. Mereka mungkin harus mencari alternatif jalur laut atau meningkatkan keamanan kapal mereka untuk menghindari risiko ancaman.
Dengan adanya ancaman blokade, situasi di Selat Hormuz kini semakin memanas. Pihak-pihak yang terlibat, baik AS maupun Iran, terus memperkuat posisi mereka, sementara dunia internasional berusaha mencari solusi damai agar konflik tidak berkembang lebih jauh.