PEKANBARU, aiotrade
Warga di kawasan Jalan Yuzura, Desa Rimbo Panjang, Kecamatan Tambang, Kabupaten Kampar, Riau, kini harus berjuang menghadapi dampak kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Kebakaran yang terjadi di lahan gambut dekat permukiman warga ini hingga saat ini masih belum padam. Meskipun api di permukaan lahan telah berhasil dipadamkan, bara api yang masih menyala di dalam gambut menghasilkan asap yang mencemari udara di sekitar.
Area yang paling terdampak adalah Perumahan Zaira Permai. Citra (37), seorang warga yang ditemui aiotrade, mengungkapkan bahwa ia sudah merasakan dampak kabut asap selama dua hari terakhir. "Bau asap kebakaran gambut sangat menyengat, bikin sakit hidung dan tenggorokan. Karena lokasi kebakaran dekat dari rumah saya," ujarnya pada Senin (10/11/2025).
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Kesehatan Warga Mulai Terganggu
Citra juga mengaku mengalami demam yang diduga akibat menghirup asap karhutla. "Hari pertama kebakaran itu asapnya parah sekali. Abu kebakaran beterbangan memenuhi teras rumah. Saya sekarang lagi demam, mungkin faktor asap. Tenggorokan sakit, batuk dan napas sesak. Kemarin sudah bawa berobat, agak sedikit mendingan," tambahnya.
Citra merasa khawatir dengan kesehatan anaknya yang masih kecil, berusia 2,5 tahun. "Pagi itu bau asap menyengat sekali. Sudah tutup pintu, tapi masih masuk ke dalam rumah. Saya khawatir anak masih kecil, rentan terpapar asap. Makanya kami di Kampar saja tutup semua pintu," sebutnya.
Dia juga menyoroti minimnya peran Pemerintah Kabupaten Kampar dalam menangani karhutla dan dampak kabut asap ini. "Saya rasa sudah banyak warga yang terdampak asap ini. Tapi, sejauh ini belum ada petugas kesehatan yang datang mengecek. Dari desa pun tak ada kasih bantuan masker. Saya harap pemerintah lebih serius menangani dampak kebakaran ini," harapnya.
Warga lainnya, Hera (40), juga mengeluhkan kondisi udara yang tidak sehat. "Tadi saya antar anak sekolah, bau asap menyengat. Kalau tak pakai masker, sesak napas kami," ungkapnya. Ia mengingatkan bahwa setiap kali mengantar anak-anaknya ke sekolah, mereka harus menggunakan masker untuk mencegah paparan asap.
Kepala Desa Rimbo Panjang, Ben Zainal, belum memberikan tanggapan saat ditanya mengenai langkah-langkah yang diambil untuk mencegah warga terpapar asap.
Penyebab Asap Kebakaran
Sebelumnya, kebakaran hebat melanda lahan gambut di Jalan Yuzura, Desa Rimbo Panjang, Kecamatan Tambang, Kabupaten Kampar, pada Sabtu (8/11/2025). Kebakaran ini terjadi dekat dua perumahan, yakni Perumahan Zaira Permai dan Perumahan Marwah, dan membuat warga panik karena jarak titik api dari permukiman hanya sekitar 100 meter.
Banyak warga yang berlarian keluar rumah karena ketakutan, dan beberapa di antaranya mengalami sesak napas akibat pekatnya asap. Petugas gabungan TNI, Polri, dan Manggala Agni Daops Sumatera IV/Pekanbaru masih berusaha memadamkan api. Namun, hingga memasuki hari ketiga, api tak kunjung padam karena jumlah personel pemadam yang terbatas.
Beberapa upaya telah dilakukan oleh warga setempat untuk mengurangi dampak asap. Mereka membentuk kelompok sementara untuk saling menjaga kesehatan dan membagikan masker kepada pengunjung atau pengguna jalan yang melewati area tersebut. Selain itu, warga juga mulai memperkuat sistem ventilasi di rumah mereka agar asap tidak mudah masuk.
Dalam situasi seperti ini, penting bagi masyarakat untuk tetap waspada dan menghindari aktivitas luar ruangan yang berlebihan. Selain itu, masyarakat juga diminta untuk segera melaporkan apabila menemukan titik api atau tanda-tanda kebakaran yang bisa membahayakan lingkungan sekitar.
Selain itu, masyarakat juga berharap adanya bantuan dari pihak berwenang, baik dalam hal penyediaan alat pelindung diri maupun dalam bentuk edukasi tentang cara menghadapi kabut asap. Hal ini sangat penting untuk melindungi kesehatan masyarakat, terutama anak-anak dan lansia yang lebih rentan terhadap paparan asap.
Masalah karhutla tidak hanya menjadi isu lokal, tetapi juga nasional. Oleh karena itu, diperlukan kolaborasi yang kuat antara pemerintah daerah, lembaga swadaya masyarakat, dan masyarakat sendiri dalam mencegah dan menangani kebakaran hutan dan lahan. Dengan kerja sama yang baik, diharapkan dapat mengurangi risiko kebakaran dan dampak negatifnya terhadap kesehatan dan lingkungan.