
UGM Berkomitmen Melestarikan Batik Klasik dengan Teknologi
Universitas Gadjah Mada (UGM) terus menunjukkan komitmennya dalam menjaga warisan budaya bangsa melalui pengembangan inovasi teknologi dan pemberdayaan UMKM batik. Langkah ini diwujudkan dalam Workshop UMKM Class Series #32 bertajuk “Mempertahankan Motif Batik Klasik dengan Teknologi” yang digelar oleh Direktorat Pengabdian kepada Masyarakat (DPkM) UGM, Kamis (23/10), di Ruang Multimedia, Gedung Pusat UGM.
Batik yang telah menjadi bagian dari identitas nasional Indonesia, kini menghadapi tantangan serius berupa menurunnya minat generasi muda menjadi pembatik dan tingginya biaya produksi. Melalui kegiatan ini, UGM berupaya menghadirkan solusi dengan memanfaatkan teknologi tanpa meninggalkan nilai-nilai budaya yang melekat.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Gusti Kanjeng Bendoro Raden Ayu Adipati Paku Alam atau Gusti Putri menegaskan pentingnya menjaga nilai seni dan filosofi batik klasik. “Batik bukan sekadar tekstil, melainkan karya seni dan ekspresi jiwa,” ujarnya. Ia menambahkan, motif batik di DIY umumnya terbagi dalam empat kategori utama, yaitu Parang dan Lereng, Ceplok dan Kawung, Semen dan Lumbungan, serta Nitik.
Sebagai pelestari budaya, Gusti Putri juga kerap menciptakan motif batik berdasarkan naskah kuno leluhur Pura Pakualaman. “Contohnya batik bertema Batara Suryo yang menggambarkan matahari dan simbol kepemimpinan yang memberi terang bagi rakyat. Selain itu, ada pula batik Batara Indra, yang melambangkan kebijaksanaan dan pendidikan,” jelasnya.
Sementara itu, Dosen Arsitektur dan Perencanaan Fakultas Teknik UGM sekaligus penggagas Jogja Heritage Society, Dr. Laretna Trisnantari Adhisakti, menilai perlunya strategi yang sinergis antara pemerintah, akademisi, dan pelaku usaha untuk menjaga keberlanjutan industri batik di tengah perkembangan busana modern. “Sebagai akademisi, kami telah mengembangkan kurikulum summer course bertema praktik (batik) yang diikuti peserta dari seluruh dunia secara daring,” ungkapnya.
Menurutnya, teknologi berpotensi besar mendukung pelestarian batik apabila digunakan dengan mempertimbangkan karakter lokal. “Dalam world heritage sites, penggunaan teknologi ini perlu disesuaikan lagi dengan konteks lokal agar tidak merusak nilai warisan,” paparnya.
Pandangan serupa disampaikan oleh Andi Sudiarso, Ph.D., dari Departemen Teknik Mesin dan Industri Fakultas Teknik UGM. Ia menekankan bahwa teknologi dalam proses membatik seharusnya menjadi pelengkap, bukan pengganti. “Membatik bisa dilakukan dengan cara modern tanpa meninggalkan nilai budaya. Justru dengan teknologi, batik dapat berkembang dan dikenal lebih luas,” katanya.
Andi juga memperkenalkan sistem Smart Factory Batik 4.0 yang dikembangkan melalui usaha batik miliknya, Batik Budimo. Sistem ini memungkinkan kolaborasi global dalam desain batik dengan tetap mempertahankan proses produksi di Indonesia. “Melalui inovasi ini, kami ingin menjadikan batik tidak hanya sebagai warisan budaya, tetapi juga sebagai bagian dari industri kreatif masa depan yang berdaya saing tinggi,” ujarnya.
Direktur Pengabdian kepada Masyarakat UGM, Dr. dr. Rustamaji, M.Kes., menegaskan bahwa UGM berkomitmen untuk terus memberikan kontribusi nyata dalam pelestarian budaya nasional sekaligus memperkuat peran UMKM sebagai penggerak ekonomi rakyat. “Batik bukan hanya sebagai tekstil, tetapi sebagai karya seni, dan juga sebagai bentuk ekspresi budaya Indonesia,” tuturnya.
Dengan kolaborasi antara kearifan lokal dan teknologi modern, UGM berharap pelestarian batik klasik dapat bertransformasi menjadi kekuatan ekonomi dan kebanggaan budaya yang relevan di era industri 4.0.