Uni Eropa Tetap Pertimbangkan Sanksi terhadap Israel Meski Gencatan Senjata Sudah Terwujud
Uni Eropa masih mempertimbangkan opsi untuk menjatuhkan sanksi terhadap Israel. Langkah ini dilakukan dengan tujuan memastikan bahwa gencatan senjata di Jalur Gaza sepenuhnya dapat dilaksanakan. Pernyataan ini disampaikan oleh Kaja Kallas, kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa, setelah pertemuan para menteri luar negeri Uni Eropa di Brussels, Belgia, pada Senin (20/10/2025).
“Gencatan senjata telah mengubah konteks – hal itu sangat jelas bagi semua orang,” ujar Kallas. Namun, ia menegaskan bahwa ancaman sanksi tetap ada di atas meja selama tidak ada perubahan nyata dan berkelanjutan di lapangan, termasuk peningkatan bantuan yang mencapai Gaza.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Sebelum kesepakatan gencatan senjata tercapai, Uni Eropa sempat mempertimbangkan beberapa opsi sanksi terhadap Israel. Di antaranya adalah mengekang hubungan perdagangan dan mencantumkan menteri negara tersebut ke daftar hitam. “Kami tidak bergerak dengan langkah-langkah tersebut sekarang, tetapi kami juga tidak menariknya dari meja perundingan, karena situasinya rapuh,” tambah Kallas.
Uni Eropa ingin melihat Israel mengambil serangkaian langkah, seperti meningkatkan pasokan bantuan kemanusiaan yang masuk ke Gaza, mengizinkan jurnalis melakukan peliputan ke Gaza, dan menyerahkan pendapatan Palestina yang masih dikunci oleh Israel.

Serangan Israel Masih Berlangsung Meski Gencatan Senjata Telah Dicapai
Meskipun gencatan senjata telah tercapai, Israel masih melancarkan serangan ke Gaza. Pada Ahad (19/10/2025), misalnya, Israel menyerang puluhan titik di Gaza yang diklaimnya sebagai basis Hamas. “Gencatan senjata di Gaza baru saja menghadapi ujian berat pertamanya,” kata Kallas.
Dia pun menyoroti kelompok Hamas yang enggan melucuti persenjataannya. Menurut Kallas, hal itu membuat kesepakatan gencatan senjata semakin rapuh.
Uni Eropa Berupaya Tingkatkan Keterlibatan di Gaza
Uni Eropa, sebagai donor internasional terbesar bagi Palestina, sedang mempertimbangkan bagaimana mereka dapat meningkatkan keterlibatannya di Gaza pascaperang. Mereka telah mengaktifkan kembali misi untuk membantu mengawasi penyeberangan Rafah antara Gaza dan Mesir. Namun misi tersebut masih ditunda. Saat ini Israel pun masih menutup gerbang penyeberangan Rafah.
Seruan Semua Penyeberangan Dibuka
PBB dan Komite Internasional Palang Merah (ICRC) menyerukan agar semua titik penyeberangan ke Jalur Gaza dibuka. Hal itu agar bantuan kemanusiaan dapat dikirimkan secara maksimal ke wilayah tersebut.
PBB dan ICRC mengingatkan bahwa bencana kelaparan di Gaza masih membutuhkan penanganan maksimal. Kedua lembaga tersebut berpendapat, saat ini merupakan momen tepat untuk membuka semua titik penyeberangan ke Gaza karena gencatan senjata antara Israel dan Hamas mulai diterapkan.
“Itulah yang telah diserukan oleh para pekerja kemanusiaan, termasuk ICRC, dalam beberapa jam terakhir: memastikan bahwa, karena kebutuhan yang sangat besar, semua titik masuk dapat dibuka,” kata Juru Bicara (Jubir) ICRC, Christian Cardon, kepada wartawan di Jenewa, Swiss, Selasa (14/10/2025) lalu.
Jubir Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA), Jens Laerke, turut menyampaikan hal serupa. "Kita perlu membuka semuanya (pintu penyeberangan ke Gaza)," ujarnya.
Terdapat setidaknya tujuh gerbang penyeberangan menuju Gaza. Sejak 2007, hanya tiga gerbang yang dioperasikan, yakni Rafah, Beit Hanoun, dan Karem Abu Salem. Dua gerbang terakhir dikontrol Israel, sementara Rafah dikendalikan Mesir.
Jens Laerke mengakui bahwa saat ini tidak semua penyeberangan berfungsi karena beberapa di antaranya mengalami kerusakan sebagian. Sementara pembersihan puing-puing di dalam Gaza dibutuhkan untuk memungkinkan truk-truk dapat melintas. “Kami menyerukan agar itu diperbaiki agar dapat beroperasi. Kami mendorong semua orang,” katanya.
Laerke mengungkapkan, PBB memiliki 190 ribu metrik ton bantuan yang siap dikirim ke Gaza. Badan pemantau yang didukung PBB, Integrated Food Security Phase Classification (IPC), secara resmi menyatakan bahwa Gaza dibekap bencana kelaparan pada 22 Agustus 2025 lalu. Menurut lembaga yang berbasis di Roma, Italia, tersebut, diblokadenya pasokan bantuan kemanusiaan oleh Israel menjadi pemicu terjadinya krisis tersebut.
Selama dua tahun perang yang dimulai pada Oktober 2023, agresi Israel ke Gaza telah membunuh lebih dari 67 ribu warga Palestina.