
Perayaan Dies Natalis Unsoed dengan Pagelaran Wayang Kulit
Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed Purwokerto) merayakan Dies Natalis ke-62 dengan menggelar pagelaran wayang kulit bertajuk “Bima Ngaji” di halaman Kantor Pusat Administrasi, pada Sabtu 25 Oktober 2025. Acara ini menjadi momen penting dalam memperingati hari jadi kampus yang telah berdiri selama lebih dari enam dekade.
Pagelaran dimulai dengan sambutan dari Rektor Unsoed, Prof. Dr. Ir. Akhmad Sodiq, M.Sc.Agr., IPU., ASEAN Eng. Acara ini turut dihadiri oleh para dosen, mahasiswa, serta masyarakat umum yang antusias menyaksikan pertunjukan budaya yang kental akan nilai-nilai lokal.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Dalam sambutannya, Rektor menjelaskan bahwa pertunjukan wayang kulit ini merupakan bentuk komitmen Unsoed untuk melestarikan budaya dan kearifan lokal. Menurutnya, acara ini bukan hanya sekadar hiburan, tetapi juga sarat dengan nilai pendidikan karakter, literasi, serta semangat menuntut ilmu sepanjang hayat.
“Kisah Bima Ngaji menggambarkan perjuangan mencari ilmu yang penuh rintangan, namun berujung pada kesuksesan. Nilai ketekunan dan pantang menyerah ini sejalan dengan karakter mahasiswa Unsoed,” ujar Rektor.
Selain itu, Rektor juga menyampaikan bahwa simbol-simbol dalam pementasan, seperti gunungan dan tali wayang, mencerminkan filosofi pendidikan karakter yang diterapkan di lingkungan kampus. Hal ini menunjukkan bahwa Unsoed tidak hanya fokus pada pengembangan intelektual, tetapi juga pada pembentukan kepribadian yang utuh.
Lakon “Bima Ngaji” bercerita tentang perjalanan Bratasena (Bima) yang berguru kepada Resi Durna untuk mencari ilmu sejati. Namun, perjalanannya penuh cobaan hingga akhirnya bertemu Dewa Ruci yang memberinya pemahaman tentang ilmu kasampurnan. Cerita ini mengandung pesan moral yang kuat tentang pentingnya keuletan, ketekunan, serta penghargaan terhadap guru.
Dalang utama, Ki Lulut Ardiyanto, yang juga merupakan mahasiswa Fakultas Hukum Unsoed Purwokerto, mengungkapkan bahwa kisah ini dipilih langsung oleh Rektor karena sarat pesan moral tentang pentingnya restu guru dan ketulusan dalam menimba ilmu. Ia juga menyampaikan bahwa cerita ini memiliki makna mendalam yang relevan dengan nilai-nilai pendidikan yang dianut oleh kampus.
Pagelaran dibuka oleh dalang cilik Faeyza Arya Lana yang tampil enerjik selama satu jam pertama sebelum dilanjutkan oleh Ki Lulut. Kehadiran dua generasi dalang ini menjadi simbol kesinambungan budaya. Melalui acara ini, Unsoed menegaskan perannya sebagai universitas yang tidak hanya berorientasi pada ilmu pengetahuan, tetapi juga turut menjaga warisan budaya bangsa.
Pertunjukan ini menunjukkan bahwa Unsoed tidak hanya menjadi pusat pendidikan, tetapi juga tempat pelestarian budaya. Dengan menghadirkan pertunjukan wayang kulit, kampus ini membuktikan bahwa nilai-nilai tradisional tetap relevan dalam dunia pendidikan modern.