
Harga saham PT Diamond Citra Propertindo Tbk (DADA) masih terpaku di level terendahnya, meskipun sudah memasuki akhir pekan. Pada hari Sabtu (15/11/2025), saham perusahaan properti ini tidak menunjukkan pergerakan sama sekali. Berdasarkan data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) yang dirilis pada Jumat (14/11/2025), DADA ditutup stagnan di harga Rp 50 per lembar.
Ini bukanlah kejadian yang baru terjadi. Data historis selama 30 hari terakhir menunjukkan bahwa saham DADA telah terkunci mati di harga gocap sebesar Rp 50 selama 18 hari perdagangan berturut-turut. Harga saham ini bahkan tidak bergerak satu poin pun sejak ditutup di Rp 50 pada 22 Oktober 2025. Kondisi ini mencerminkan ketidakstabilan dan kurangnya minat dari para pelaku pasar terhadap saham DADA.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Investor Ritel Terjebak dalam Kondisi "Nyangkut"
Kondisi saham yang "tidur" ini menjadi akhir dari euforia yang sempat terjadi pada pertengahan Oktober 2025. Menurut Laporan Bulanan Registrasi Pemegang Efek (LRPE), saham DADA diserbu oleh 55.598 investor ritel baru selama bulan Oktober. Para investor ini diduga kuat masuk saat harga saham sedang naik tajam hingga menyentuh level tertingginya di Rp 240 per lembar pada 10 Oktober 2025.
Ironisnya, saat ratusan ribu investor ritel membeli saham DADA karena rasa takut ketinggalan (FOMO), pemegang saham pengendali (PT Karya Permata Inovasi Indonesia) justru melakukan aksi jual besar-besaran sebanyak 2,15 miliar lembar saham. Aksi penjualan ini kemungkinan besar memberikan tekanan negatif terhadap harga saham.
Volume Perdagangan yang Sangat Rendah
Kini, 55 ribu investor ritel tersebut terjebak dalam situasi yang disebut sebagai "nyangkut massal". Mereka yang membeli saham DADA di harga puncak tidak bisa menjualnya kembali. Hal ini terlihat dari data perdagangan pada 14 November 2025. Volume perdagangan saham DADA sangat rendah, hanya 1,6 juta lembar saham dengan nilai transaksi sebesar Rp 83,3 juta.
Angka ini sangat jauh dibandingkan saat "pesta" pada 10 Oktober, di mana nilai transaksi harian DADA sempat mencapai Rp 900,8 miliar. Saat itu, volume perdagangan sangat tinggi dan minat investor terhadap saham DADA sangat besar. Namun, kini kondisinya jauh berbeda.
Antrean Jual Menggunung, Permintaan Beli Kosong
Di sisi lain, antrean jual (Offer) di harga Rp 50 semakin menumpuk. Saat ini, jumlah saham yang ingin dijual mencapai 361 juta lot (36,1 miliar lembar saham), sementara permintaan beli (Bid) kosong. Kondisi ini menunjukkan bahwa para investor ritel kesulitan untuk menjual saham mereka.
Ketidakseimbangan antara penawaran dan permintaan membuat harga saham DADA tetap terkunci di level terendah. Investor yang membeli saham pada harga tinggi kini harus menunggu lama untuk mendapatkan harga yang lebih baik atau bahkan mengalami kerugian.
Kesimpulan
Situasi saham DADA yang terus terkunci di harga Rp 50 menunjukkan bahwa pasar sedang mengalami ketidakpastian. Minat investor terhadap saham ini turun drastis setelah aksi jual besar-besaran oleh pemegang saham pengendali. Kondisi ini juga membawa dampak buruk bagi para investor ritel yang terjebak di harga tinggi.
Meskipun demikian, situasi ini juga menjadi pelajaran penting bagi investor untuk lebih hati-hati dalam memilih saham dan memperhatikan pergerakan pasar secara keseluruhan.