Ustad Masrul Aidi Menyangkal Bullying Jadi Alasan Pembakaran Pesantren: Kesimpulan Polresta Terburu-

admin.aiotrade 07 Nov 2025 4 menit 18x dilihat
Ustad Masrul Aidi Menyangkal Bullying Jadi Alasan Pembakaran Pesantren: Kesimpulan Polresta Terburu-
Ustad Masrul Aidi Menyangkal Bullying Jadi Alasan Pembakaran Pesantren: Kesimpulan Polresta Terburu-buru

Pemimpin Dayah Babul Maghfirah Menolak Kesimpulan Polresta Terkait Pembakaran Asrama

Pimpinan Dayah (Pondok Pesantren) Babul Maghfirah, Ustad Masrul Aidi, menyatakan kekecewaannya terhadap hasil pers-release pihak Polresta Banda Aceh yang menyebut aksi pembakaran asrama pesantren oleh santri dilakukan karena motif bullying. Ia menilai kesimpulan tersebut terlalu prematur dan berpotensi merugikan citra lembaga pendidikan dayah di Aceh.

Masrul mengungkapkan bahwa kesimpulan yang disampaikan oleh pihak kepolisian tidak didasarkan pada penyelidikan mendalam. Ia mempertanyakan logika tudingan bullying sebagai penyebab tindakan pembakaran tersebut.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

“Biasanya pembulian itu terjadi kepada anak-anak yang level di bawah, kelas-kelas yang di bawah oleh seniornya, sedangkan dia adalah murid kelas 3 SMA. Artinya nggak ada lagi senior di atasnya, dia yang paling senior,” jelasnya.

Ia juga menambahkan bahwa pelaku memiliki saudara di kelas yang sama, sehingga mustahil ia dibuli tanpa sepengetahuan saudaranya. Selain itu, selama tiga tahun menimba ilmu di Babul Maghfirah, santri tersebut tidak pernah melapor kepada guru, wali kamar, ataupun keluarganya terkait dugaan perundungan.

“Bukankah itu sesuatu yang wajar terjadi dalam keseharian, walaupun itu bully, tetapi tidak (jadi faktor utama. Rasanya tidak masuk akal hanya gara-gara disebut bodoh tolol menggerakkan dia untuk melakukan kejahatan separah itu,” tambahnya.

Masrul juga menyebut pelaku dikenal berprestasi dan aktif dalam kegiatan akademik pesantren. Ia bahkan pernah menjadi juara kelas dan mewakili pesantren dalam berbagai lomba cerdas cermat. Hal ini sangat bertolak belakang dengan kriteria anak-anak yang mengalami perundungan.

“Jadi bagaimana anak yang cerdas begini dianggap sebagai anak korban bully. Yang biasanya kita tahu orang yang dibully itu tidak berkembang intelektualitasnya, tidak berkembang kemampuan akademiknya,” ujarnya.

Lebih jauh, Masrul mengungkap bahwa santri tersebut memiliki latar belakang keluarga yang bermasalah. Orang tuanya disebut tengah mengalami konflik rumah tangga yang berat.

“Dan dari keterangan ibunya yang ditanyakan oleh wali kamar, ibunya bercerita bahwa dia dalam kondisi depresi karena persoalan keluarga sampai ibunya bercerita dia sudah pernah minum apa namanya kapur barus dan seumpamanya,” jelasnya.

Tak hanya itu, kata Masrul, dari keterangan teman akrabnya, bahwa pelaku santri jauh hari sudah pernah merencanakan pembakaran pesantren. Namun, waktu itu ada dua pilihan karena ada dua bangunan asrama yang masih berkonstruksi kayu di lantai duanya.

“Menurut cerita kawan-kawan akrabnya ini dia bertanya, apa saya bakar yang ini saja atau saya bakar yang itu. Maka kalau alasannya dia bakar asrama itu supaya terbakar barang-barang kawan-kawannya karena dia sudah lelah dibully, maka patut dipertanyakan karena dia punya pilihan bukan menargetkan bangunan tersebut, dia punya pilihan,” katanya.

Di sisi lain, Masrul menyoroti kebiasaan pelaku bermain gim daring, khususnya Roblox. Ia menduga ada kemungkinan santri tersebut terpengaruh tantangan (challenge) di dalam gim, yang mana gim tersebut sering dimainkan di ruang komputer.

“Jadi ada banyak persoalan yang melatarinya. Maka saya sebagai pimpinan pesantren ketika sudah positif bahwa dia yang melakukan pembakaran, saya punya dua dugaan. Enggak mungkin motif bully itu yang menjadi dugaan utamanya, enggak mungkin setelah sekian lama dia dibully dia melampiaskan itu ke pesantren, padahal yang melakukan kekerasan bukan unsur kepanitiaan pesantren, bukan ustadnya, bukan pengurus pesantren, tapi kawan-kawannya,” ungkapnya.

Ia menilai penyidik Polresta terlalu cepat menarik kesimpulan tanpa mendalami latar belakang lain yang lebih kompleks. Ia berharap kepolisian dapat melakukan penyelidikan yang lebih menyeluruh dan tidak hanya berpatokan pada isu bullying.

Pasalnya, pihak pesantren selalu menanamkan nilai sopan santun, saling menghormati, dan menolak segala bentuk kekerasan di lingkungan dayah.

“Kita mengajarkan anak-anak untuk berkomunikasi yang sopan, untuk hormat kepada kawan-kawannya. Saya selalu menekankan kalimat-kalimat tersebut setiap kali berinteraksi dan setiap kali menyampaikan nasihat kepada mereka,” sebutnya.

Sebagai informasi, pada tahun Juli 2024 lalu SMAS Babul Maghfirah telah membentuk Tim Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Lingkungan Sekolah SMAS Babul Maghfirah Tahun Pelajaran 2024-2025. Tim tersebut beranggotakan tujuh orang, terdiri dari unsur tenaga pendidik di pesantren, komite sekolah, siswa, serta orang tua wali.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan