Menteri Keuangan Tidak Terlibat dalam Penyelesaian Utang Kereta Cepat Whoosh
Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, menyatakan bahwa pihaknya tidak akan terlibat langsung dalam penyelesaian utang proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) atau Whoosh. Pernyataan ini disampaikannya menanggapi informasi mengenai kesepakatan antara pemerintah Indonesia dan China untuk merestrukturisasi utang proyek tersebut.
Purbaya mengatakan bahwa ia menyambut baik kesepakatan tersebut, meskipun ia mengklaim bahwa Kementerian Keuangan tidak terlibat dalam proses negosiasi dengan pihak China. Ia menegaskan bahwa Kemenkeu berupaya untuk tidak terlibat dalam masalah utang Whoosh.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
"Bagus! Saya enggak ikut (negosiasi) kan? Top!" ujar Purbaya saat ditemui di Kantor Kementerian Keuangan, Kamis (23/10/2025).
Menurut Purbaya, utang Whoosh adalah permasalahan yang harus diselesaikan secara bisnis oleh pihak-pihak terkait. Ia menekankan bahwa Kemenkeu akan memastikan agar tidak terlibat dalam isu-isu keuangan proyek tersebut.
"Saya sebisa mungkin enggak ikut (campur), biar aja mereka selesaikan business to business. Top!" tegasnya.

Sebelumnya, Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Luhut Binsar Pandjaitan, menyatakan bahwa Indonesia dan China sepakat untuk merestrukturisasi utang Whoosh. Ia menjelaskan bahwa skema baru ini membuat beban keuangan proyek menjadi lebih ringan karena masa pembayaran utang diperpanjang hingga 60 tahun mendatang.
Luhut juga menuturkan bahwa perpanjangan tenor pembayaran akan menurunkan kewajiban tahunan secara signifikan. Contohnya, kewajiban pembayaran tahunan bisa ditekan menjadi sekitar Rp2 triliun per tahun.
"Kita mau lakukan tadi restructuring dengan pihak Tiongkok. Dan itu mereka sudah setuju," kata Luhut dalam acara 1 Tahun Prabowo-Gibran, Senin (20/10/2025).
Ia menambahkan, "Jadi kita misalnya (bayar) Rp 2 triliun kira-kira satu tahun, dan kemudian penerimaan (dari operasional) Rp 1,5 triliun."
Tim Danantara Akan Mengirimkan Tim ke China
Sementara itu, Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria, memastikan pihaknya masih terus bernegosiasi dengan China soal utang Whoosh, meski dua negara sudah sepakat restrukturisasi. Ia mengatakan bahwa Danantara akan mengirim tim ke China untuk proses negosiasi tersebut.
Dony menyebut tim itu nantinya merupakan perwakilan Danantara dan pemerintah Indonesia. Meski demikian, Dony belum merinci siapa saja yang akan ikut terbang ke China, sebab masih berdiskusi dengan Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).
"Kita sedang atur waktu. Hubungan kita juga bagus (dengan China). Komunikasi bagus dan sebagainya," kata Dony ketika ditemui di kantor Kemenkeu, Jakarta Pusat, Kamis (23/10/2025).
Lebih lanjut, Dony menjelaskan poin-poin negosiasi termasuk syarat dan ketentuan penyelesaian utang. Tak hanya itu, jangka waktu pinjaman, suku bunga, serta aspek yang berkaitan dengan mata uang, juga akan dibahas.
Dony pun memastikan beberapa opsi untuk menyelesaikan masalah utang Whoosh sedang dikaji lebih lanjut. Opsi yang terpilih nanti dipastikan Dony merupakan keputusan tepat yang paling menguntungkan bagi kereta cepat.
"Dalam kajian itu ada beberapa opsi, masing-masing tentu ada plus minusnya. Nah, semua alternatif ini nanti akan kita sajikan dan mana yang terbaik," ujarnya.
Ia pun menegaskan masyarakat tak perlu khawatir soal Whoosh. Sebab, kata dia, Whoosh akan membawa banyak manfaat, terutama di bidang transportasi, bagi masyarakat.
Dony juga menyinggung, operasional Whoosh mencatatkan tren positif. "Tetapi, yang perlu dikomunikasikan kepada masyarakat, enggak usah khawatir, Whoosh ini kan memberikan banyak manfaat banyak. Memberikan manfaat terutama sekali (dalam hal) transportasi," urainya.
"Dan mengenai penyelesaian keuangan, menurut saya itu kan hanya opsi aja. Tetapi yang paling penting, kita sampaikan kepada masyarakat bahwa, secara operasional KCIC (PT Kereta Cepat Indonesia China) itu sudah membukukan positif," imbuh dia.
AHY Berupaya Cari Solusi Terbaik
Di sisi lain, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) memastikan pihaknya bakal mencari solusi terbaik untuk menyelesaikan masalah tersebut. AHY mengungkapkan pihaknya sudah memiliki dua pilihan pendanaan yang sedang dikembangkan bersama lintas kementerian dan lembaga.
Namun, AHY mengaku belum bisa menyampaikan secara detail sebab masih dalam proses penghitungan dan pengkajian. "Nah, di sini masih terus dikembangkan sejumlah opsi. Saya belum bisa menyampaikan secara final karena semuanya masih dihitung dan dikaji," kata dia usai sidang kabinet paripurna di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Senin (20/10/2025).
Opsi-opsi yang disinggung AHY, telah dibahas dalam rapat koordinasi bersama Danantara serta Kemenhub dan PT KAI beberapa waktu lalu. Menurutnya, penyelesaian utang menjadi penting agar tidak menghambat pengembangan jaringan transportasi cepat di masa depan.
AHY menyebut, sejauh ini ada dua alternatif yang sedang dikaji, yakni restrukturisasi utang melalui Danantara atau kontribusi pembiayaan dari Kementerian Keuangan melalui skema tertentu di APBN.
Meski begitu, AHY menegaskan pihaknya masih menunggu arahan langsung dari Presiden Prabowo Subianto. "Kami masih menunggu arahan Pak Presiden sambil terus mengembangkan opsi terbaik yang berkelanjutan. Harapannya, setelah masalah ini selesai, kita bisa melangkah ke tahap pengembangan kereta cepat Jakarta–Surabaya," pungkasnya.