
Perjalanan Umrah Mandiri: Keuntungan dan Risiko yang Harus Diperhatikan
Umrah mandiri kini menjadi topik yang menarik perhatian masyarakat Indonesia, terutama setelah diatur dalam Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2025 tentang Penyelenggaraan Ibadah Haji dan Umrah (PIHU). Meski memberikan kebebasan bagi jemaah untuk merencanakan perjalanan sendiri, istilah ini juga memicu berbagai pertanyaan dan kekhawatiran.
Pengalaman Pribadi dengan Umrah Mandiri
Mieke Rubiyanti, seorang jemaah umrah, mengungkapkan pengalamannya melakukan umrah mandiri pada Ramadan tahun ini. Ia berangkat bersama empat orang teman dan kakaknya, mencoba pengalaman baru yang berbeda dari biasanya. “Saya sudah sering umrah bersama agen travel yang rombongannya besar. Nah, tahun ini ada kenalan yang bisa bantu untuk umrah mandiri, jadi saya mencobanya. Alhamdulillah, ternyata lebih nyaman umrah mandiri karena bisa menentukan tujuan sendiri dan ibadah juga lebih leluasa karena enggak perlu menunggu rombongan dalam jumlah besar,” katanya.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Meskipun mandiri, Mieke tetap dibimbing oleh seorang ketua rombongan yang terbiasa mengurusi perjalanan umrah mandiri. Sang ketua mengurus visa, tiket pesawat, dan hotel. Dengan jejaring yang sudah dibangun, Mieke bisa mendapat pengalaman yang berbeda jika dibandingkan perjalanan-perjalanan umrah sebelumnya. Ia bahkan bisa menentukan destinasi selain Mekah dan Madinah untuk dikunjungi.
Selain itu, dengan jumlah anggota rombongan yang sedikit, mengaturnya jadi lebih mudah. Semua orang, kata Mieke, bisa sat-set dan kompak. Ibadah juga bisa bersama dan tidak perlu saling menunggu lama.
Biaya dan Fleksibilitas dalam Umrah Mandiri
Terkait dengan biaya, Mieke bersyukur karena bisa ditentukan berdasarkan harga tiket pesawat. Tak hanya itu, dengan umrah mandiri, Mieke tidak dibebankan beban biaya lain, seperti koper dan seragam rombongan. “Biasanya, kalau umrah Ramadan mahal. Alhamdulillah tahun ini saya dapat murah. Soalnya, saya mampir ke Turki dulu, baru ke Mekah, jadi harga tiket pesawatnya bisa diatur. Hal fleksibel seperti ini yang bikin nyaman dan pengin lagi umrah mandiri,” ungkap Mieke.
Antusiasme dan Kebutuhan Pelatihan
Nurdan Firmansyah, seorang pegiat umrah mandiri, menjelaskan bahwa ada dua tipe jemaah umrah. Pertama, mereka yang memiliki pengalaman traveling tinggi dan memilih umrah mandiri karena tahu seluk beluknya. Kedua, traveler yang awam yang pasti memilih umrah dengan agen travel karena tidak memahami bagaimana menyiapkan perjalanan ke luar negeri, khususnya mengurus birokrasi.
“Biasanya, yang awam itu tidak tahu urusan teknis perjalanan. Seperti jalur pembuatan visa seperti apa atau pesan tiket pesawat bagaimana. Lagi pula, semandiri-mandirinya umrah, tetap harus berhubungan dengan agen travel untuk mengurus visa,” kata Nurdan.
Antusiasme masyarakat, khususnya kaum urban untuk melakoni umrah mandiri cukup tinggi. Pasalnya, mereka kerap memiliki rencana perjalanan dan ibadah sendiri. Apalagi, sekarang pemerintah telah mengizinkan perjalanan umrah sendiri karena sebelumnya harus melewati penyelenggara perjalanan ibadah umrah (PPIU).
Risiko yang Terkait dengan Umrah Mandiri
Di sisi lain, Asosiasi Muslim Penyelenggara Haji dan Umrah Republik Indonesia (AMPHURI) menyoroti dampak negatif dari munculnya istilah umrah mandiri dalam UU PIHU tersebut. Sekretaris Jenderal (Sekjen) AMPHURI Zaky Zakariya mengatakan, ketentuan tersebut menimbulkan kegelisahan di kalangan penyelenggara resmi dan pelaku usaha haji-umrah di seluruh Indonesia. Umrah mandiri berpotensi menimbulkan risiko besar bagi jemaah, ekosistem keumatan, dan kedaulatan ekonomi umat.
“Jika legalisasi umrah mandiri benar-benar diterapkan tanpa pembatasan, maka akan terjadi efek domino,” ujar Zaky di Jakarta, kemarin.
Secara konsep, kata dia, umrah mandiri dipahami sebagai perjalanan ibadah yang dilakukan jemaah tanpa melalui penyelenggara perjalanan ibadah umrah (PPIU) resmi. Ia menilai konsep tersebut tampak memberikan kebebasan, namun sebenarnya mengandung risiko besar, seperti bimbingan manasik, perlindungan hukum, maupun pendampingan di Tanah Suci.
Kritik dari Biro Perjalanan Wisata
Agus Komarudin Hidayat dari Biro Perjalanan Wisata (BPW) Asro Ibad Haramain memberikan kritik tajam dampak kebijakan umrah mandiri bagi biro perjalanan resmi. Agus menyuarakan keprihatinan mendalam mengenai dampak kebijakan umrah mandiri. Kebijakan ini dapat mematikan biro perjalanan secara perlahan.
“Umrah mandiri bagi biro atau travel itu merupakan kematian secara perlahan karena tadinya jemaah mau bersama travel menjadi mandiri,” katanya.
Agus menjelaskan, biro perjalanan telah melalui proses panjang dan sulit untuk mendapatkan izin resmi, mulai dari pendirian PT, BPW, hingga mendapatkan status PPIU yang memerlukan verifikasi berkala setiap dua tahun. “Dengan adanya kebijakan umrah mandiri ini, jadi buat apa ada PPIU? Peran PPIU jadi semakin sempit dan pada akhirnya suatu saat bakalan mati suri,” tutur Agus.
Tantangan dan Potensi Risiko
Pemilik Albahri Haramain Tour and Travel, Andi Syamsul Bahri, mengatakan, regulasi baru mengenai umrah mandiri yang dinilai masih memerlukan penafsiran lebih detail. Aturan tersebut memiliki celah yang berpotensi dimanfaatkan oleh oknum tidak bertanggung jawab sehingga menimbulkan risiko baru.
“Aturan umrah mandiri ini masih perlu dikaji dan didetailkan. Kami melihat, ada celah yang bisa dimanfaatkan oleh sebagian kecil oknum untuk 'umrah panjang', yaitu tinggal dari umrah sampai musim haji, atau bahkan untuk bekerja di Arab Saudi,” ujar Andi.