
Inspirasi dari Surat Yasin dan Perjalanan Panjang Penemuan Bobibos
Aroma tanah basah bercampur wangi batang padi yang hangus sisa panen—bau yang sudah akrab di banyak desa, namun baginya justru menjadi awal dari sebuah pencarian panjang. Di balik kepulan asap jerami yang kerap dibakar petani, ia melihat sesuatu yang berbeda: kemungkinan bahwa sisa panen itu menyimpan energi yang belum tersentuh. Kabar mengenai bahan bakar nabati Bobibos kembali menjadi sorotan publik.
Di media sosial, video pernyataan Muhammad Ikhlas Thamrin—penemu Bobibos—viral setelah ia menyebut bahwa ide awal pengembangan bahan bakar tersebut terinspirasi dari Surat Yasin Ayat 80. Pernyataannya memantik diskusi luas, tidak hanya soal inovasi energi alternatif, tetapi juga cara riset ilmiah dan spiritualitas dapat hadir dalam satu ruang pencarian.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Di dalam video yang beredar, Ikhlas memaparkan ayat yang ia anggap sebagai petunjuk awal penelitiannya: “Alladzî ja'ala lakum minasy-syajaril-akhdhari nâran fa idzâ antum minhu tûqidûn.” Ia menyampaikan bahwa ayat yang berbicara tentang api yang dapat muncul dari kayu berwarna hijau itu menjadi momen ketika gagasan tentang energi yang bersumber dari tanaman mulai ia dalami.
Menurut Ikhlas, ayat tersebut membukakan pemahaman bahwa tumbuhan memiliki potensi energi. Dari penafsiran itu, ia memulai serangkaian riset panjang untuk menemukan bahan baku tanaman yang dapat diolah menjadi energi terbarukan.
“Ayat itu menunjukkan bahwa sumber energi dapat berasal dari tanaman hijau. Dari situlah pencarian saya dimulai,” ujar Ikhlas dalam video yang ramai dibagikan.
Riset Mandiri Lebih dari 10 Tahun
Ikhlas merupakan lulusan Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret (UNS). Meski bukan berasal dari disiplin ilmu teknik atau energi, kegelisahannya mengenai ketergantungan Indonesia terhadap impor energi mendorongnya menempuh jalur riset mandiri. Sejak 2007, ia mulai menelusuri berbagai jenis tanaman, terutama yang mudah dibudidayakan petani di wilayah persawahan.
Sebelumnya, Ikhlas mendirikan PT Baterai Freeneg Generasi, perusahaan yang mengembangkan teknologi kompor dan motor listrik berbasis pulsa—produk yang pernah diuji lembaga pengujian internasional ICTT. Setelah itu, fokus penelitiannya bergeser ke bahan bakar nabati.
Perjalanan lebih dari sepuluh tahun itu akhirnya membawanya pada formula yang kemudian ia namakan Bobibos, singkatan dari Bahan Bakar Original Buatan Indonesia Bos.
Klaim RON 98 dan Produk Dua Varian
Bobibos hadir dalam dua varian: bensin dan solar. Dalam sejumlah penjelasan publik, Ikhlas menyampaikan bahwa produk tersebut memiliki karakteristik yang mendekati RON 98. Klaim itu membuat Bobibos menarik perhatian, terutama ketika isu energi alternatif menjadi semakin relevan bagi banyak negara.
Bobibos disebut diproduksi dari tanaman hijau—salah satunya jerami—yang diolah melalui proses bioenergi dan serum tertentu. Pendekatan ini, menurut Ikhlas, merupakan cara memaksimalkan bahan baku lokal untuk menciptakan energi yang lebih ramah lingkungan.
Sejumlah keunggulan yang disampaikan antara lain potensi emisi yang lebih rendah, performa mesin yang diklaim stabil, biaya produksi yang relatif kecil, serta pemanfaatan bahan baku pertanian yang melimpah. Penjelasan-penjelasan tersebut membuat publik semakin penasaran terhadap proses ilmiah di baliknya.
Peluncuran Bobibos dilakukan di Bumi Sultan Jonggol, Bogor, menjadi langkah awal memperkenalkan produk tersebut ke masyarakat luas.
Persimpangan Sains dan Spiritualitas
Ikhlas menegaskan bahwa inspirasinya dari Surah Yasin bukan dimaksudkan sebagai dasar ilmiah, melainkan sebagai pintu masuk yang membuatnya menaruh perhatian lebih besar pada potensi energi dalam tanaman. Baginya, spiritualitas dan sains dapat berjalan saling melengkapi sebagai dorongan pencarian, selama riset teknisnya tetap dilakukan melalui uji coba dan pengembangan.
Pernyataan mengenai inspirasi ayat Al-Qur’an itu yang kemudian viral. Publik menanggapi beragam, mulai dari apresiasi terhadap kreativitas pencarian solusi energi alternatif, hingga diskusi mengenai hubungan antara keyakinan dan inovasi teknologi.
Meski diskursus teknis terkait RON, proses produksi, dan validasi ilmiah masih menjadi topik lanjutan yang menunggu kajian lebih mendalam, Bobibos telah terlanjur menyita perhatian nasional. Inovasi ini menjadi bahan pembicaraan bukan hanya karena aspek teknisnya, tetapi juga karena kombinasi antara perjalanan riset mandiri dan inspirasi spiritual yang jarang muncul dalam pengembangan energi alternatif.
Di tengah upaya mencari sumber energi yang lebih bersih dan dapat diproduksi di dalam negeri, Bobibos menjadi salah satu contoh bagaimana penemuan bisa lahir dari jalur nonkonvensional—melibatkan pengalaman batin, keinginan mandiri melakukan riset, serta dorongan untuk menawarkan solusi energi berbasis tanaman.
Dengan semakin meningkatnya perhatian publik, langkah selanjutnya yang ditunggu adalah bagaimana bahan bakar ini diuji lebih luas, dievaluasi oleh para ahli, serta seberapa jauh potensinya untuk menjadi alternatif nyata dalam konteks energi nasional.