
Tim SAR Berjuang Melawan Waktu untuk Menyelamatkan Korban
Di hari ketiga penanganan kejadian ambruknya bangunan Pondok Pesantren Al Khoziny, Sidoarjo, tim SAR gabungan terus berupaya keras untuk mengevakuasi korban yang masih terjebak dalam reruntuhan. Kejadian ini terjadi pada Senin (29/9) sekitar pukul 15.35 WIB, saat para santri sedang menjalani Salat Ashar dua rakaat di lantai 1. Akibatnya, banyak dari mereka terjebak dalam puing-puing bangunan yang runtuh.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Kasubdit Pengerahan dan Pengendalian Operasi (RPDO) Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Emi Frizer, menyampaikan bahwa periode waktu kritis atau golden time untuk penyelamatan korban adalah selama 72 jam. Dengan mengacu pada waktu kejadian, maka golden time akan berakhir pada Kamis sore (2/10).
"Target utama yang sedang kami kejar saat ini adalah 15 lokasi. Di mana dari 15 lokasi ini, delapan berstatus hitam, tujuh berstatus merah (masih ada tanda kehidupan)," ujar Frizer di Posko Darurat, Rabu (1/10).
Dari tujuh titik status merah tersebut, enam di antaranya masih belum bisa dijangkau langsung oleh petugas. Upaya yang dilakukan hanya sebatas menyalurkan makanan, minuman, dan oksigen kepada korban yang masih terjebak. "Dengan kondisi ini, enam posisinya ada di kolom sebelah yang kami belum bisa akses secara langsung. Artinya kami belum bisa touch langsung ke mereka," tambahnya.
Pendekatan Secara Aman dan Perlahan
Selain itu, dua ekskavator sudah disiapkan sejak Senin malam (29/9). Namun hingga kini, alat berat tersebut belum digunakan karena dikhawatirkan bisa memengaruhi struktur bangunan di sekitarnya. Oleh karena itu, personel SAR gabungan berusaha menjangkau korban dengan membuat lubang galian pada tanah.
Operasi pencarian hari ketiga dibagi menjadi tiga zona, yaitu:
- Zona A1: Lokasi dekat pintu keluar
- Zona A2: Bagian belakang dan berhadapan langsung dengan dinding asrama
- Zona A3: Bagian atas bangunan
Frizer menjelaskan bahwa saat melakukan pengangkatan beban di akses A1, ternyata berdampak pada bangunan samping yang bersambungan dengan gedung di depan. Hal ini menunjukkan betapa kompleksnya situasi yang dihadapi tim SAR.
Kepatuhan pada Proses dan Kesabaran
Selama periode golden time, tim rescue berusaha semaksimal mungkin untuk melakukan pendekatan secara aman kepada korban. Mereka berhati-hati agar tidak menimbulkan ambruk susulan. "Informasi hasil analisis dari ITS ini semua sudah kegagalan struktur, karena satu titik kita colek maka rembetan getaran itu bisa sampai ke semua sektor yang terconnected dengan bangunan tersebut," jelas Frizer.
Ia juga meminta masyarakat untuk mempercayai kemampuan tim penyelamat agar dapat bekerja maksimal, sehingga berhasil mengevakuasi seluruh korban, baik yang masih merespons maupun yang tidak.
Kronologi Singkat dan Jumlah Korban
Insiden tragis ini terjadi pada Senin (29/9) sekitar pukul 15.35 WIB. Bangunan empat lantai tersebut ambruk saat para santri sedang melakukan Salat Ashar dua rakaat di lantai 1. Akibatnya, banyak santri yang terjebak dalam puing-puing bangunan.
Hingga Rabu siang (1/10), sebanyak 104 orang menjadi korban tragedi ini. Dari jumlah tersebut, 4 dilaporkan meninggal dunia. Hingga berita ini ditulis, Rabu (1/10) pukul 17.4 WIB, Tim SAR gabungan terus berjibaku untuk menyelamatkan korban yang masih terjebak.