Walhi Jabar Minta Pemprov Fokus Tangani Sampah Hulu, Bukan Bergantung Teknologi WTE di TPA

admin.aiotrade 21 Okt 2025 3 menit 13x dilihat
Walhi Jabar Minta Pemprov Fokus Tangani Sampah Hulu, Bukan Bergantung Teknologi WTE di TPA
Walhi Jabar Minta Pemprov Fokus Tangani Sampah Hulu, Bukan Bergantung Teknologi WTE di TPA

Penanganan Sampah di Hulu Lebih Efektif Daripada Teknologi Waste To Energi

Wahana Lingkungan Hidup Indonesia Jawa Barat (Walhi Jabar) menyoroti pentingnya fokus pada penanganan sampah dari hulu, bukan hanya mengandalkan teknologi Waste To Energi (WTE) di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sarimukti. Pendekatan ini dinilai lebih bijak dan berkelanjutan dibandingkan metode yang hanya mengatasi masalah di hilir.

Menurut M. Jefry Rohman, Manager Divisi Pendidikan dan Koordinator Tim Advokasi Sampah Walhi Jabar, upaya penanganan sampah sebaiknya dimulai dari sumbernya. Hal ini mencakup pemilahan sampah di tingkat awal, sehingga sampah organik dapat ditangani melalui komposting, penggunaan maggot, atau biodigester. Sementara sampah nonorganik bisa didaur ulang atau dijual kembali untuk dimanfaatkan.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

"Teknologi WTE bersifat penanganan di hilir. Alangkah bijaknya jika difokuskan di hulunya," ujar Jefry. Dengan cara ini, produksi sampah bisa diminimalisir. Di Bandung Raya, 60% sampah merupakan jenis organik, sehingga penanganan sampah secara efektif sangat penting.

Penanganan sampah di hulu juga dilakukan di sumber produksinya, seperti kawasan komersil, permukiman, maupun perkantoran. Pendekatan ini dinilai lebih efektif karena mencegah terjadinya penumpukan sampah di tempat pembuangan akhir.

Jika konsep WTE tetap diterapkan tanpa penanganan sampah di hulu, beberapa persoalan akan muncul. Salah satunya adalah beban biaya yang lebih berat bagi pemerintah. Proses pengeringan sampah organik membutuhkan biaya tambahan, dan jika semua jenis sampah digebrukkan ke mesin, daya tahan serta umur pakai mesin akan terganggu. "Mesin akan berumur pendek," ujarnya.

Selain itu, dampak terhadap kesehatan dan lingkungan juga menjadi perhatian serius. Metode pembakaran sampah, yang digunakan dalam WTE, menghasilkan kandungan kimia berbahaya seperti dioksin, furan, dan timbal. Meskipun asap tidak terlihat, dampaknya tetap merugikan lingkungan dan kesehatan masyarakat.

Beban biaya juga akan terus berlanjut bagi pemerintah daerah yang membuang sampah ke TPA Sarimukti. "Yang paling memberatkan adalah tipping fee, pemerintah daerah harus setor sampah agar mesin terus berputar dan berproses," jelas Jefry. Selain itu, biaya pengiriman sampah juga harus ditanggung oleh pemerintah daerah.

Jefry juga mengkritik pendekatan pemerintah dalam mengatasi sampah yang selama ini menggunakan pendekatan proyek atau pengadaan mesin/teknologi. Hal ini dinilai rentan terhadap korupsi. "Pendekatan dari dulu selalu pendekatan proyek, bahkan KPK mewanti-wanti kalau segala sesuatu dijadikan proyek, indikasi korupsi terbuka lebar," ujarnya.

Masalah Pengelolaan Sampah yang Belum Selesai

Jefry menduga munculnya wacana penerapan WTE di Sarimukti menunjukkan bahwa pemerintah masih bingung dalam memastikan solusi pengelolaan sampah setelah rencana pembangunan PLTSa di TPPAS Legoknangka belum jelas kelanjutannya.

Sebelumnya, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengusulkan lima aglomerasi di Jabar untuk diintervensi dalam hal pengelolaan sampah. Tujuannya adalah untuk memproduksi tenaga listrik yang akan dibiayai sepenuhnya oleh Danantara atas instruksi presiden. Salah satu aglomerasi yang sedang dipersiapkan adalah Sarimukti.


Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan