Wali Kota Agustina Dorong Sineas Muda Semarang Berani Berkarya Melalui LSSFF 2025

admin.aiotrade 26 Okt 2025 3 menit 13x dilihat
Wali Kota Agustina Dorong Sineas Muda Semarang Berani Berkarya Melalui LSSFF 2025

Kegiatan Workshop dan Mini Lab LSSFF 2025 Ditutup oleh Pemerintah Kota Semarang

Pemerintah Kota Semarang melalui Asisten Administrasi Umum, Wing Wiyarso Poespojoedho, menutup kegiatan Workshop dan Mini Lab Lawang Sewu Short Film Festival (LSSFF) 2025 yang berlangsung selama tiga hari di Hotel Kotta, Semarang. Acara ini menjadi momen penting bagi para sineas muda untuk mengembangkan kreativitas mereka dalam dunia perfilman.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng, menyampaikan bahwa kegiatan ini bukan hanya sekadar pelatihan, tetapi juga menjadi perjalanan kreativitas bagi para peserta. Menurutnya, ide bisa muncul dari ruang belajar dan berkembang menuju layar yang lebih luas di masa depan.

“Kami telah menyaksikan bagaimana ide ketika dibimbing dengan ilmu dan semangat kolaborasi bisa tumbuh menjadi cerita yang kuat,” ujar Agustina yang diwakili oleh Wing Wiyarso. Ia menekankan bahwa kegiatan ini merupakan wadah bagi generasi muda untuk mengekspresikan gagasan mereka secara kreatif.

Selain itu, Agustina juga memberikan apresiasi kepada peserta dan pemenang Lomba Ide Cerita yang mendapatkan bantuan produksi senilai Rp 50 juta. Menurutnya, dukungan tersebut bukan sekadar hadiah, melainkan bentuk kepercayaan agar ide peserta dapat diwujudkan menjadi karya nyata.

“Bantuan produksi ini adalah kepercayaan. Agar ide kalian benar-benar hidup di layar, bukan hanya di naskah,” katanya. Dengan dana tersebut, para peserta diharapkan mampu memproduksi film yang mampu menyampaikan pesan dan makna yang dalam.

Pihak pemerintah juga menyoroti pentingnya membangun ekosistem film lokal di Semarang sebagai ruang bagi anak muda untuk belajar, berjejaring, dan berani bercerita. Agustina mencontohkan, festival besar dunia seperti Sundance Film Festival di Amerika Serikat dan Busan Short Film Festival di Korea Selatan bermula dari ruang-ruang serupa.

“Saya percaya, Semarang bukan tidak mungkin menuju ke sana. Kami tidak kekurangan talenta, melainkan ruang dan keberanian untuk terus mencoba,” ujarnya. Ia berharap, dengan adanya kegiatan ini, Semarang dapat menjadi pusat pengembangan film yang lebih matang dan berkualitas.

Agustina juga mengimbau kepada seluruh peserta untuk terus berkarya meskipun fasilitas terbatas. Menurutnya, film tidak lahir dari peralatan mahal, melainkan dari empati dan pandangan hidup yang tulus.

“Setiap sudut kota dan kisah kecil di sekitar kita bisa menjadi cerita besar bila diceritakan dengan hati,” pesannya. Ia berharap, para peserta mampu merangkul kisah-kisah lokal dan menjadikannya sebagai bahan inspirasi untuk karya-karya mereka.

Akhirnya, Agustina menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam pelaksanaan kegiatan ini, mulai dari panitia LSSFF, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Semarang, para mentor, hingga peserta. Ia berharap, apa yang dimulai hari ini menjadi pijakan menuju ekosistem film yang lebih matang.

“Semarang bukan hanya tempat syuting, tetapi rumah bagi para pencerita,” tutur Agustina. Dengan demikian, ia berharap, Semarang akan menjadi pusat pengembangan kreativitas dan inovasi dalam dunia perfilman.

Pemenang Lomba Ide Cerita

Dalam Lomba Ide Cerita pada Workshop dan Mini Lab LSSFF 2025, pemenangnya adalah Iwan Resdiyanto dengan judul film The Last Swing. Film ini bercerita tentang Arum (11), yang mengumpulkan dan menjual 38 bola golf bekas untuk membayar kegiatan pelajaran luar sekolah. Sayangnya, bola golf ke-38 yang melayang dari para borjuis justru menghancurkan mimpinya secara tragis dan ironis.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan