Wall Street Berfluktuasi, Investor Pantau Perdamaian AS-Iran

Wall Street Berfluktuasi, Investor Pantau Perdamaian AS-Iran

Wall Street Berfluktuasi, Investor - Wall Street Berfluktuasi, Investor Pantau Perdamai pt 1

Pergerakan Indeks Bursa Saham di Wall Street

Indeks bursa saham Wall Street di Amerika Serikat ditutup dengan pergerakan yang beragam pada perdagangan Jumat (10/4). Para pelaku pasar masih memantau perkembangan gencatan senjata dua pekan antara Amerika Serikat dan Iran.

Indeks S&P 500 mengalami penurunan tipis sebesar 0,11% ke level 6.816,89. Di sisi lain, Nasdaq Composite justru mengalami kenaikan sebesar 0,35% ke posisi 22.902,89, didorong oleh kenaikan saham-saham semikonduktor seperti Nvidia dan Broadcom. Adapun Dow Jones Industrial Average terkoreksi sebesar 269,23 poin atau 0,56% ke level 47.916,57.

Meski ditutup dengan pergerakan yang bervariasi pada akhir pekan, ketiga indeks utama Wall Street mencatatkan kinerja positif selama sepekan. S&P 500 naik sebesar 3,6% dalam sepekan, Nasdaq melonjak hingga 4,7%, sedangkan Dow Jones Industrial Average juga mengalami kenaikan sebesar 3%.

Pandangan dari Ahli Investasi

Chief Investment Officer Orion Tim Holland menyampaikan bahwa kemungkinan besar bank sentral AS atau The Fed akan mengabaikan beberapa data inflasi jangka pendek. “The Fed akan melakukan segala cara untuk melihat melampaui data Maret dan April,” ujar Holland dikutip dari CNBC, Senin (13/4).

Ia menilai skenario tersebut bergantung pada adanya jalan keluar dari konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Holland juga memperkirakan bahwa jika perang mulai mereda, hal ini berpotensi diikuti dengan normalisasi harga minyak.

Namun ia mengingatkan risiko inflasi akan semakin besar apabila harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) masih bertahan di kisaran US$ 100 per barel hingga awal atau pertengahan Juni.

“Kita menghadapi kombinasi berbahaya antara lemahnya sentimen konsumen dan kenaikan ekspektasi inflasi. Ini akan menjadi tantangan bagi ekonomi dan menempatkan The Fed pada posisi sulit,” ujarnya.

Komentar Presiden AS tentang Iran

Dari sisi geopolitik, Presiden AS Donald Trump menuduh Iran melakukan pemerasan terhadap dunia dengan memanfaatkan jalur perairan internasional. Dalam unggahan di Truth Social, ia menyebut Iran tidak memiliki posisi tawar kuat dan hanya bertahan untuk bernegosiasi.

Pernyataan tersebut disampaikan sehari setelah Trump memperingatkan Iran agar tidak mengenakan biaya terhadap kapal tanker minyak yang melintasi Selat Hormuz. Ia menyatakan Iran harus segera menghentikan praktik tersebut jika benar dilakukan.

Fluktuasi Harga Minyak

Seiring dengan itu, kekhawatiran stabilitas jalur distribusi energi global membuat harga minyak bergerak fluktuatif. Pada akhir perdagangan Jumat lalu, harga minyak mentah WTI turun 1,33% ke level US$ 96,57 per barel, sementara minyak Brent turun 0,75% menjadi US$ 95,20 per barel.

Data Inflasi Terbaru

Sementara itu, data inflasi terbaru menunjukkan tekanan harga masih sesuai ekspektasi. Indeks harga konsumen (CPI) Maret tercatat naik 0,9% secara bulanan dan 3,3% secara tahunan, termasuk lonjakan biaya energi sebesar 10,9% akibat konflik Timur Tengah.

Namun, inflasi inti yang tidak memasukkan komponen energi menunjukkan tekanan yang lebih terkendali. Core CPI hanya naik 0,2% secara bulanan dan 2,6% secara tahunan, lebih rendah dari perkiraan pasar. Sebelumnya, inflasi sempat bertahan di level 3% sebelum konflik Iran yang telah berlangsung hampir enam minggu.