Wall Street Berfluktuasi, Sektor Energi dan Kesehatan Tergelincir

admin.aiotrade 16 Des 2025 3 menit 17x dilihat
Wall Street Berfluktuasi, Sektor Energi dan Kesehatan Tergelincir


Indeks bursa di Wall Street, Amerika Serikat, mengalami pergerakan yang beragam pada perdagangan hari Selasa (16/12). Indeks Nasdaq berhasil menutup sesi perdagangan dengan kenaikan, sementara indeks Dow Jones dan S&P 500 mengalami penurunan. Penurunan ini terjadi karena tekanan terhadap saham-saham sektor kesehatan dan energi.

Pelaku pasar juga sedang memantau data ekonomi terbaru untuk menilai arah kebijakan moneter dari bank sentral AS, Federal Reserve, di tahun mendatang. Data-data tersebut menjadi faktor penting dalam menentukan kebijakan suku bunga yang akan diambil oleh The Fed.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Secara lebih spesifik, indeks Dow Jones Industrial Average turun sebesar 302,30 poin atau 0,62% menjadi 48.114. Sementara itu, indeks S&P 500 terkoreksi sebesar 16,25 poin atau 0,24% menjadi 6.800. Di sisi lain, indeks Nasdaq Composite justru naik sebesar 54,05 poin atau 0,23% menjadi 23.111.

Data dari Departemen Tenaga Kerja AS menunjukkan bahwa jumlah lapangan kerja non-pertanian bertambah sebanyak 64.000 pada November. Angka ini meningkat dibandingkan bulan sebelumnya yang sempat mengalami penurunan akibat pemangkasan belanja pemerintah. Namun, tingkat pengangguran justru naik menjadi 4,6% pada November. Kenaikan ini terjadi karena meningkatnya ketidakpastian ekonomi yang dipicu oleh kebijakan perdagangan agresif Presiden Donald Trump.

Mark Hackett, Kepala Strategi Pasar Nationwide, menyatakan bahwa mayoritas data ekonomi dilihat dari dampaknya terhadap kebijakan The Fed. Ia mengatakan bahwa data yang dirilis hari ini kemungkinan tidak akan banyak mengubah pandangan pasar terhadap arah kebijakan moneter bank sentral.

Laporan lain menunjukkan bahwa penjualan ritel stagnan pada Oktober. Angka ini sedikit di bawah proyeksi ekonom yang disurvei Reuters, yang memperkirakan kenaikan sebesar 0,1%. Beberapa analis percaya bahwa data ini mungkin terdistorsi akibat lambatnya proses pengumpulan data selama masa penutupan pemerintahan baru-baru ini.

Setelah rilis data tersebut, pelaku pasar memprediksi bahwa The Fed akan melakukan pemangkasan suku bunga acuan setidaknya sebesar 58 basis poin pada tahun depan. Angka ini jauh lebih besar dari sinyal penurunan 25 basis poin yang disampaikan oleh The Fed pekan lalu.

Di sisi lain, Wall Street Journal melaporkan bahwa Presiden Trump akan mewawancarai Gubernur The Fed Christopher Waller pada Rabu (17/12) untuk mengisi posisi Ketua Federal Reserve.

Dari segi sektoral, delapan dari 11 sektor utama dalam indeks S&P 500 ditutup melemah. Sektor energi mencatatkan penurunan terbesar, hampir 3%, akibat harga minyak mentah yang menyentuh level terendah sejak 2021. Sektor kesehatan juga turun sebesar 1,28%.

Saham Humana anjlok sebesar 3,4% setelah perusahaan memproyeksikan 2026 sebagai tahun yang penuh tantangan. Hal ini disebabkan oleh melemahnya penjualan produk COVID-19 dan tekanan margin. Saham perusahaan farmasi tersebut bahkan turun hingga 6% setelah mengumumkan perubahan kepemimpinan.

Sebaliknya, saham B. Riley melonjak sebesar 53,8% setelah bank investasi tersebut membukukan laba pada kuartal kedua. Ini menjadi pertanda positif setelah sebelumnya mengalami kerugian.

Nasdaq telah mengajukan dokumen ke Komisi Sekuritas dan Bursa AS untuk meluncurkan perdagangan saham selama 24 jam. Langkah ini menyusul rencana serupa yang sebelumnya diumumkan oleh Bursa Efek New York dan Cboe Global Markets.

Di Bursa Efek New York, jumlah saham yang melemah melampaui saham yang menguat dengan rasio 1,63:1. Tercatat 127 saham mencetak rekor tertinggi baru dan 88 saham mencatatkan rekor terendah baru. Sebanyak 2.064 saham menguat dan 2.596 saham melemah, dengan rasio penurunan terhadap kenaikan sebesar 1,26:1.

Volume perdagangan di bursa AS mencapai 16,70 miliar saham. Nilai tersebut sedikit di bawah rata-rata 16,99 miliar saham dalam 20 hari perdagangan terakhir.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan