
JAKARTA Bursa saham Amerika Serikat mengalami kenaikan signifikan pada perdagangan Jumat. Hal ini terjadi setelah investor menyambut positif keputusan Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz bagi kapal komersial. Keputusan ini diambil setelah adanya kesepakatan gencatan senjata di Lebanon antara pasukan Israel dan kelompok Hezbollah yang didukung Iran.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, melalui media sosial X menyatakan bahwa jalur pelayaran komersial melalui Selat Hormuz sepenuhnya terbuka selama sisa masa gencatan senjata 10 hari. Langkah ini menjadi momentum penting yang memengaruhi sentimen pasar keuangan global.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, sebelumnya menyatakan bahwa Washington memiliki peluang untuk segera mencapai kesepakatan damai dengan Iran. Perkembangan ini memberikan harapan bagi pasar keuangan, meskipun masih ada ketidakpastian terkait komitmen Iran dalam jangka panjang.
Harga Minyak Turun Tajam
Kabar tentang dibukanya kembali Selat Hormuz langsung berdampak pada harga minyak mentah. Harga minyak anjlok hingga 10,6%, sehingga sektor energi dalam indeks S&P 500 turun sebesar 4,5%. Saham perusahaan energi besar seperti Exxon Mobil melemah 5%, sedangkan Chevron turun 4%.
Sebaliknya, sektor yang sebelumnya terdampak oleh lonjakan harga energi justru mengalami kenaikan. Saham maskapai penerbangan seperti American Airlines dan United Airlines naik lebih dari 7%. Operator kapal pesiar juga mencatat kenaikan signifikan. Saham Carnival Corporation & plc naik 8%, sementara Norwegian Cruise Line Holdings melonjak 8,5%.
Indeks Wall Street Cetak Rekor
Indeks volatilitas pasar CBOE Volatility Index turun ke level terendah dalam dua bulan terakhir, yaitu 17,77. Penurunan ini menunjukkan bahwa investor semakin percaya diri untuk kembali masuk ke aset berisiko.
Indeks utama Wall Street terus mencatat rekor baru. S&P 500 dan Nasdaq Composite sebelumnya ditutup di level tertinggi sepanjang masa pada Kamis. Jika tren ini berlanjut, Nasdaq akan mencatat kenaikan selama 13 hari berturut-turut, menjadi reli terpanjang sejak Januari 1992.
Ketiga indeks utamaDow Jones Industrial Average, S&P 500, dan Nasdaqjuga diperkirakan menorehkan kenaikan mingguan untuk pekan ketiga berturut-turut. Indeks saham berkapitalisasi kecil Russell 2000 bahkan mencatat rekor intraday pertamanya sejak konflik AS-Iran meletus.
Pada pukul 09.45 waktu New York, indeks Dow Jones naik 554,22 poin atau 1,14% ke level 49.136,99. S&P 500 menguat 54,59 poin atau 0,78% ke level 7.095,87, sedangkan Nasdaq naik 252,37 poin atau 1,05% ke level 24.355,07.
Sektor Teknologi dan Konsumen Jadi Pendorong
Sektor teknologi informasi menjadi penyumbang terbesar penguatan pasar, sementara sektor consumer discretionary memimpin kenaikan dengan lonjakan sekitar 2%. Namun tidak semua saham bergerak positif. Saham Netflix anjlok 10,7% setelah memproyeksikan laba kuartal berjalan di bawah ekspektasi. Penurunan ini juga terjadi setelah salah satu pendiri sekaligus chairman lama perusahaan, Reed Hastings, mengundurkan diri setelah 29 tahun memimpin.
Produsen aluminium Alcoa turun 9% setelah melaporkan laba dan pendapatan kuartal pertama yang berada di bawah perkiraan analis akibat tingginya biaya dan melemahnya permintaan. Sementara itu, saham Fifth Third Bancorp naik 1,2% setelah membukukan laba kuartal pertama yang lebih baik.
Peluang Pemangkasan Suku Bunga Meningkat
Pelaku pasar kini juga menyoroti arah kebijakan suku bunga dari Federal Reserve. Berdasarkan kontrak berjangka fed funds, pasar memperkirakan peluang sebesar 60% bahwa bank sentral AS akan memangkas suku bunga pada Desember. Angka ini meningkat drastis dibandingkan peluang 20% pada awal sesi perdagangan.
Dengan meredanya ketegangan geopolitik dan terbukanya kembali Selat Hormuz, pasar global kini berharap tekanan harga energi dapat berkurang dan memberikan ruang lebih besar bagi pertumbuhan ekonomi dunia.