Tantangan dan Optimisme dalam Iklim Investasi Indonesia
Wakil Menteri Investasi Todotua Pasaribu menegaskan bahwa iklim investasi di dalam negeri tidak berantakan seperti yang disampaikan oleh Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. Meski demikian, ia mengakui bahwa masih ada sejumlah tantangan yang harus dihadapi, terutama terkait tingginya Incremental Capital Output Ratio (ICOR).
ICOR adalah salah satu parameter penting yang dapat menunjukkan tingkat efisiensi investasi di suatu negara. Semakin kecil angka ICOR, semakin efisien biaya investasi yang dikeluarkan untuk menghasilkan output tertentu.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
"Ya, tantangan iklim investasi bukan berarti kondisinya berantakan. Hanya saja memang ada tantangan, ada challenge-nya, bukan berantakan," kata Todotua saat ditemui usai acara IDN Times Leadership Forum di IDN HQ, Jakarta, Senin (8/12/2025).
1. Masuknya Investasi Belum Sepenuhnya Dorong Produktivitas

Menurut Todotua, posisi ICOR Indonesia saat ini masih berada pada level yang relatif tinggi. Kondisi tersebut menyebabkan peningkatan investasi belum sepenuhnya mampu mendorong produktivitas secara optimal.
"ICOR masih relatif sangat tinggi. Itulah juga yang memang impact-nya, investasi pun kalau memang growth tapi ICOR-nya tinggi, itu kan berarti tidak menggerakkan kapasitas produksi sama produktivitinya, daya saing kompetitifnya dan lain-lain. Kondisi ini pun berdampak pada sisi konsumsi, ini lah yang menjadi pekerjaan rumah (PR) untuk diselesaikan," tuturnya.
2. Optimistis Target Investasi Tahun Ini Akan Tercapai

Meski demikian, Todotua tetap optimistis target investasi tahun ini dapat tercapai. Realisasi investasi periode Januari-September sudah terealisasi Rp1.434,3 triliun dari target Rp1.905,6 triliun atau tersisa Rp471,3 triliun untuk mewujudkan target tersebut. Menurutnya, sejumlah sektor masih menunjukkan perkembangan positif dan menjadi penopang pertumbuhan.
"Tapi kalau dari sektor realisasi investasi (tumbuh positif) dan kita masih punya optimis tahun ini," ucapnya.
3. Menkeu Purbaya Sebut Iklim Investasi Indonesia Masih Berantakan

Menkeu Purbaya sebelumnya menilai iklim investasi di Indonesia saat ini masih belum tertata dengan baik. Kondisi tersebut, menurutnya, membuat Indonesia kalah bersaing dalam menarik investasi dibandingkan negara-negara tetangga.
Purbaya menjelaskan, Indonesia kini tertinggal dari sejumlah negara di kawasan, seperti Vietnam, Thailand, Singapura, dan Malaysia. Ia mencontohkan kasus terbaru ketika perusahaan teknologi raksasa, Nvidia lebih memilih menanamkan investasi di Johor, Malaysia, ketimbang di Indonesia.
“Sekarang kita kalah dari Vietnam, Thailand, Singapura, dan Malaysia dalam menarik investasi. Kemarin Nvidia memilih Johor dibanding Indonesia,” ujar Purbaya dalam Pembukaan Rapimnas 2025 Kadin Indonesia, Senin (1/12).
Ia menambahkan, meskipun pemerintah telah menerapkan sistem perizinan terpadu, persoalan di lapangan masih belum terselesaikan secara menyeluruh. Jika hambatan-hambatan tersebut dapat dituntaskan, menurutnya, ekonomi Indonesia seharusnya bisa melaju lebih cepat dan iklim investasi akan menjadi jauh lebih kompetitif.
“Iklim investasi kita masih berantakan. Benar kan? Sistem one single, one stop service itu belum selesai juga. Kalau beres, ekonomi kita pasti sudah lari dan investasi bisa ngebut,” katanya.
Respons dari Bos Kadin tentang Iklim Investasi Indonesia
Bos Kadin Subut menyatakan bahwa iklim investasi di Indonesia baik-baik saja. Namun, pendapat Menkeu Purbaya yang menyebut iklim investasi RI berantakan mendapat respons dari Rosan. Meski begitu, banyak pihak percaya bahwa dengan penyelesaian beberapa tantangan, Indonesia dapat meningkatkan daya saingnya dalam menarik investasi.