
Banjir Kembali Melanda Kampung Bojongasih
BANDUNG — Banjir dengan ketinggian sekitar 100 sentimeter (1 meter) kembali melanda Kampung Bojongasih, Desa Dayeuhkolot, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Banjir ini terjadi akibat hujan deras yang mengguyur wilayah Bandung Raya sejak kemarin siang. Luapan Sungai Cipalasari, anak Sungai Citarum, menyebabkan hampir seluruh rumah warga terendam air.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Air mulai menggenangi kawasan tersebut sejak pukul 20.00 WIB malam kemarin. Warga setempat yang beraktivitas di pagi hari telah memindahkan sepeda motor mereka ke tempat yang lebih tinggi sebelum hujan deras melanda. Di SDN Bojongasih 2, siswa-siswi terpaksa diliburkan karena air masuk ke dalam kelas.
Persiapan Warga Menghadapi Banjir
Septian Amirudin (32), salah seorang warga, mengaku telah mempersiapkan peralatan kerjanya sejak semalam untuk pindah ke tempat sanak saudaranya yang lebih aman. "Motor saya sudah dipindahkan ke rumah saudara pas hujan kemarin malam, kemarin kan hujannya gede banget, udah pasti air kiriman pasti datang," katanya saat ditemui di lokasi, Jumat (24/10/2025).
Septian yang telah tinggal di Kampung Bojongasih bertahun-tahun mengaku sudah terbiasa mempersiapkan diri ketika hujan deras mengguyur. Terutama menyiapkan pakaian, perlengkapan mandi, hingga sepeda motor yang dievakuasi ke lokasi yang lebih tinggi. "Karena rumah saudara lebih tinggi deket ke jalan, kalau beliau enggak ada ya saya tidur di masjid, mandi, persiapan di situ," ungkapnya.
Ia juga menjelaskan bahwa ketinggian air di Kampung Bojongasih tidak merata. Saat ini banjir terparah setinggi paha orang dewasa. Septian mengaku sudah terbiasa beraktivitas di tengah banjir, sehingga lebih bisa beradaptasi.
Warga Tetap Berdagang Meski Banjir
Hal serupa diungkapkan Marni Aisah (48), pemilik warung kelontongan di Kampung Bojongasih. Marni tetap membuka warungnya setiap kali banjir datang. Sebab warga sekitar masih membutuhkan. Marni mengaku telah bersahabat dengan banjir selama hampir 25 tahun. "Wah saya mah sudah lama di sini, asli orang sini, kalau ditanya sudah biasa ya gimana karena ini setahun sekali banjir kiriman," tutur dia.
Meskipun begitu, Marni mengakui bahwa pendapatannya sedikit berkurang saat banjir melanda. Biasanya warga membeli sembako.
Pengalaman Nana Junjana
Nana Junjana (58) juga menyampaikan bahwa banjir kiriman dari Kota Bandung sudah menjadi hal yang biasa di Kampung Bojongasih. Nana, yang telah tinggal di Desa Dayeuhkolot selama puluhan tahun, mengaku belum ada solusi konkret terkait penanganan banjir di wilayah tersebut. "Jadi kan Citarum udah besar di sini, enggak ada penampung buat nahan air jadi gini. Kalau di Ciputat mah kan udah punya, jadi kalau Ciputat bisa enggak banjir karena penampungan airnya udah ada tiga," ujarnya.
Nana menekankan bahwa penampungan atau folder air akan menjadi solusi konkret untuk menangani banjir di Kampung Bojongasih. Meskipun warga sudah terbiasa, mereka tetap merindukan kehidupan normal tanpa banjir. "Kalau asli orang sini mah enggak bosen sih, kalau bisa kaya orang Ciputat aja jadi ada penampungan. Jadi biar enggak gini lagi. Intinya mah segera diatasi," tutupnya.