
Warga Indonesia yang tinggal di kota Sydney mengungkapkan rasa khawatir setelah terjadi serangan penembakan di Pantai Bondi, yang terjadi pada hari Minggu kemarin (14/12).
Menurut laporan dari pihak kepolisian, pelaku penembakan adalah Sajid Akram dan anaknya, Naveed Akram. Dalam aksi tersebut, 15 orang tewas, termasuk seorang perempuan berusia 10 tahun. Lebih dari 20 korban lainnya masih menjalani perawatan di rumah sakit.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Pantai Bondi merupakan salah satu destinasi ikonik di Sydney yang selalu ramai dikunjungi oleh warga lokal maupun wisatawan, terutama saat musim panas seperti sekarang ini. Pada masa liburan Natal dan Tahun Baru, pantai ini menjadi tempat favorit untuk berkumpul dan bersenang-senang.
Beberapa warga Indonesia yang tinggal di sekitar Pantai Bondi juga merasakan dampak dari kejadian tersebut. Salah satunya adalah Joshua Michael Sagala, atau lebih dikenal dengan nama Michael. Ia tinggal dan bekerja di kawasan Pantai Bondi. Setiap hari Minggu, istrinya biasanya bekerja di sana, dan keluarga mereka sering menghabiskan waktu di sana.
Namun, pada hari penembakan, istrinya tidak enak badan, sehingga mereka pulang sebelum jam 4 sore. Saat dalam perjalanan mengisi bensin, Michael melihat kondisi pantai yang dipadati oleh banyak orang. Ia memutuskan untuk turun dari mobil dan menyaksikan langsung suasana di sekitar.
"Banyak orang tampak sedih, menangis, dan kecewa," ujar Michael. "Tidak pernah terpikirkan bahwa hal seperti ini bisa terjadi di Bondi."
Michael, yang telah tinggal di Sydney selama delapan tahun, mengatakan bahwa banyak umat Yahudi tinggal di sisi timur Sydney, termasuk di sekitar Pantai Bondi. Serangan terjadi saat umat Yahudi sedang merayakan hari pertama Hanukkah di pinggir pantai.
Ia merasa "kecewa dan sedih" mengetahui bahwa aksi penembakan bisa terjadi di Australia, yang menurutnya sudah seperti rumah kedua. "Mengapa sampai ada pembunuhan? Karena di sini kita pikir pasti tidak akan ada kejadian seperti ini, baik di sekolah maupun di mana pun," katanya.
Erna Tambunan, ibu Michael, yang sedang berkunjung ke Sydney, juga merasa terkejut. Ia mengatakan bahwa proses seleksi visa ke Australia sangat ketat, sehingga ia tidak pernah membayangkan bahwa kejadian semacam ini bisa terjadi. "Kita semua tahu bahwa Australia adalah negara yang sangat aman," ujarnya.
Setelah kejadian tersebut, Michael berencana untuk menghindari Pantai Bondi. "Kami akan mencari tempat yang lebih tenang dan privat, karena banyak daerah lain di sini yang bagus untuk berjalan-jalan bersama anak-anak di sore hari," ujarnya. "Sementara ini, kami akan hindari beberapa minggu ke depan."
Perasaan takut dan waspada juga dirasakan oleh Gilang Pahalawan, yang baru saja pindah ke Sydney pada tahun 2023. Ia mengaku sengaja ingin menghabiskan waktu di Pantai Bondi setelah membeli ponsel di daerah tersebut. Awalnya, ia rencananya bertemu dengan penjual ponsel pada pukul 4 sore, tapi akhirnya memutuskan untuk bertemu lebih awal.
Setelah bertemu dengan penjual, ia sempat bersantai di bawah pohon dan mengunjungi bazaar yang sedang berlangsung. Ia memutuskan untuk pulang sekitar pukul dua siang, sekitar lima jam sebelum penembakan terjadi. "Beruntungnya karena cuaca panas, saya memutuskan untuk kembali dan meninggalkan tempat itu, dan kejadian itu terjadi di sore hari," ujarnya.
Gilang baru mengetahui tentang insiden penembakan setelah menerima telepon dari temannya pada malam hari. Ia merasa Sydney tidak lagi seperti tempat yang ia kenal dulu. "Australia yang saya kenal adalah tempat kedua teraman di dunia, tapi sekarang ada peristiwa seperti ini. Itu terjadi di waktu yang tidak terduga dan di tempat yang tidak kita sangka," katanya.
Awal pekan ini, Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Sydney mengeluarkan imbauan kepada Warga Negara Indonesia (WNI) di wilayah Sydney untuk "meningkatkan kewaspadaan dan kehati-hatian." Mereka diminta untuk menghindari lokasi kejadian dan area keramaian serta mematuhi arahan dari otoritas setempat.
Perayaan Tahun Baru di Pantai Bondi dibatalkan. Waverley Council, otoritas di kawasan tersebut, mengumumkan pembatalan acara Malam Tahun Baru di Pantai Bondi, termasuk elrow XXL Bondi dan Local's Lawn. Penyelenggara acara New Year's Eve event, Fuzzy, mengatakan keputusan tersebut diambil setelah mempertimbangkan rasa empati terhadap komunitas Yahudi di Sydney.
Tim Gabungan Kontra Terorisme (JCTT) di New South Wales sedang melakukan penyelidikan terkait kasus ini. Gilang berharap kasus ini bisa segera dituntaskan agar warga kembali merasa aman.
Michael berharap Australia bisa kembali menjadi kota yang damai dan menyenangkan. "Semoga semua berjalan dengan damai, dan kita kembali seperti Australia sebelumnya, di mana kami hidup dan bekerja dengan tenang."
Pemerintah Australia berencana untuk memperketat undang-undang kepemilikan senjata setelah serangan tersebut. Beberapa perubahan yang dipertimbangkan antara lain membatasi jumlah senjata yang dapat dimiliki oleh satu orang dan menjadikan kewarganegaraan Australia sebagai syarat untuk memiliki senjata api.
Sajid Akram, pelaku penembakan yang tewas di lokasi, memiliki kewarganegaraan India. Ia pindah ke Australia pada November 1998. Sementara itu, putranya, Naveed Akram, diketahui pernah memiliki kaitan dengan kelompok ISIS di Sydney. Naveed saat ini masih di rumah sakit dan polisi sedang menunggu kondisinya stabil sebelum dijatuhkan hukuman.
Hari Rabu (17/12), pemakaman pertama bagi korban penembakan, Rabbi Eli Schlanger, dilakukan. Perdana Menteri Australia, Anthony Albanese, menyatakan akan terus mengambil langkah tegas untuk "membasmi" antisemitisme. "Kebencian semacam itu tidak memiliki tempat di Australia," ujarnya.
Seorang warga bernama Ahmed El Ahmed mendapat pujian dan gelar "pahlawan" karena keberaniannya merebut senapan dari salah satu penyerang. Ia mengalami luka tembakan dan harus menjalani operasi di beberapa bagian tubuhnya. PM Australia telah menjenguk Ahmed dan menyebutnya sebagai "pahlawan Australia sebenarnya" serta inspirasi bagi semua warga Australia.