
Keluhan Warga Kauman terhadap Pelayanan Air Bersih di Kabupaten Malang
Warga Dusun Kauman, Desa Pakisaji, Kecamatan Pakisaji, Kabupaten Malang kembali mengeluhkan pelayanan air bersih yang tidak memadai. Mereka merasa kecewa dengan kinerja PDAM Tirta Kanjuruhan Unit Pakisaji yang dinilai tidak profesional. Salah satu warga, Atok (47), mengungkapkan bahwa pasokan air ke rumah warga sering terganggu selama beberapa hari tanpa pemberitahuan.
Aliran air hanya mengalir pada malam hari sekitar pukul 22.00 WIB hingga dini hari, lalu kembali mati pada pagi hari. Hal ini menyulitkan warga dalam memenuhi kebutuhan dasar seperti mandi, mencuci, dan memasak.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
"Kadang saya sampai minta air ke tetangga yang pakai HIPAM, atau ke masjid. Konsumen jadi korban, mbok ya diperbaiki pelayanannya. Katanya pipa jebol terus, tapi kita gak pernah tahu pasti apa yang terjadi," keluh Atok, pada Senin (20/10/2025).
Perubahan Pelayanan Setelah Ganti Kepala Unit
Warga lainnya menilai bahwa sejak pergantian Kepala Unit Pelayanan Teknis (KUPT) PDAM Pakisaji, komitmen pelayanan 24 jam yang dulu sempat berjalan kini tidak lagi dirasakan. Selain aliran air yang tidak stabil, komunikasi dengan pelanggan pun minim.
"Kami hanya menuntut pelayanan air yang layak sesuai janji. Tapi kenyataannya, air sering mati tanpa pemberitahuan. Kalau soal pipa jebol, itu urusan teknis, mestinya PDAM introspeksi," kata seorang warga lain.
Masalah Tagihan dan Biaya Administrasi
Kondisi ini membuat masyarakat merasa dirugikan. Mereka menilai, tagihan air yang tetap berjalan meski air tidak mengalir menambah beban pelanggan. Bahkan, keterlambatan pembayaran dikenai biaya administrasi Rp12.500, yang dianggap tidak sebanding dengan kualitas layanan.
Penjelasan dari PDAM Tirta Kanjuruhan
Menanggapi keluhan warga, Imam Suprapto, pegawai KUPT PDAM Tirta Kanjuruhan Pakisaji, mengakui bahwa saat ini pihaknya masih melakukan perbaikan saluran air akibat pipa yang rusak di wilayah distribusi utama.
"Kami mohon maaf atas ketidaknyamanan pelanggan. Saat ini perbaikan masih berlangsung. Sementara, kebutuhan air warga tetap kami suplai lewat armada tangki," jelas Imam.
Ia menjelaskan, dua truk tangki dikerahkan secara bergantian untuk menyalurkan air bersih ke beberapa titik terdampak di wilayah Kauman dan sekitarnya.
"Sejak kemarin, dua truk kami silih berganti melakukan dropping air. Kami upayakan distribusi bisa kembali normal secepatnya," tandasnya.
Kritik terhadap Solusi Sementara
Namun, sejumlah warga menilai langkah itu hanya solusi sementara, bukan penyelesaian mendasar terhadap masalah teknis dan sistem distribusi air yang dianggap lemah.
"Dropping tangki itu bukan solusi jangka panjang. Kami butuh air mengalir di rumah, bukan menunggu tangki datang," tegas Atok.
Kurangnya Transparansi dan Kepuasan Warga
Selain pelayanan yang tidak stabil, warga juga menyoroti kurangnya transparansi PDAM terkait penyebab pasti gangguan air, lama perbaikan, serta status teknis pipa yang diklaim rusak setiap minggu.
"Selalu saja alasannya pipa jebol. Bagaimana bisa hampir tiap minggu rusak? Ini mirip kejadian sepuluh tahun lalu. Sepertinya tidak ada peningkatan sistem," terang Atok.
Warga mendesak agar pemerintah daerah dan dewan pengawas PDAM melakukan audit kinerja dan keuangan terhadap PDAM Tirta Kanjuruhan, terutama unit Pakisaji, karena dianggap tidak memiliki standar pelayanan yang konsisten.
Harapan Warga untuk Pelayanan yang Lebih Baik
Sementara itu, Kasi Humas PDAM Tirta Kanjuruhan Kabupaten Malang saat dikonfirmasi menyarankan agar pertanyaan media diarahkan ke KUPT Pakisaji.
Hingga berita ini diturunkan, Direktur Utama PDAM Tirta Kanjuruhan, H. Syamsul Hadi, S.Sos., MM, belum memberikan tanggapan resmi.
Sikap diam ini menambah keresahan pelanggan yang berharap ada penjelasan langsung dari manajemen tertinggi mengenai langkah-langkah strategis untuk memperbaiki pelayanan air di Pakisaji.
Warga Kauman menegaskan bahwa mereka tak menuntut lebih selain pelayanan air bersih yang stabil, transparan, dan manusiawi. Mereka berharap PDAM Kabupaten Malang dapat meniru respons cepat seperti yang diterapkan oleh PDAM Kota Malang dalam menangani gangguan teknis.
"Kalau PDAM Kota Malang bisa cepat tanggap, kenapa di sini tidak bisa? Kami pelanggan resmi yang bayar setiap bulan. Harusnya pelayanan juga profesional," pungkas Atok.
Polemik layanan air bersih di Pakisaji mencerminkan tantangan klasik PDAM daerah, keterbatasan infrastruktur, lemahnya komunikasi publik, dan manajemen krisis yang belum optimal. Di satu sisi, PDAM mengaku terus melakukan perbaikan teknis.