Masyarakat Koto Gadang Merasa Takut Pasca Korban Hipnotis
Masyarakat di Koto Gadang, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, mengaku merasa takut dan waspada setelah seorang ibu diduga menjadi korban hipnotis. Hal ini disampaikan oleh salah satu warga setempat, Retmi Delvira, saat dimintai keterangan oleh aiotrade.app.
Retmi mengatakan bahwa setelah kejadian tersebut, ia merasa lebih waspada dan takut untuk masa depannya. Ia menyebutkan bahwa saat ini mencari uang sangat sulit, sehingga banyak orang menggunakan berbagai cara untuk mendapatkan uang.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
"Kini ekonomi sedang susah, makanya mencari uang jadi payah. Banyak modus yang digunakan orang sekarang," tambahnya.
Kronologi Kejadian

Seorang ibu di Koto Gadang, Sumatera Barat, diduga menjadi korban hipnotis saat ingin belanja di Pasar Bawah Bukittinggi. Korban bernama Jumi Rah Mariati (58) mengaku kehilangan uang sebesar Rp 35 juta akibat kejadian itu.
Jumi menceritakan kejadian tersebut saat ditemui di kediamannya di Jorong Gantiang, Nagari Koto Gadang, Kecamatan IV Koto, Kabupaten Agam. Menurutnya, kejadian itu terjadi pada Minggu (19/10/2025) ketika ia sedang berbelanja ke Pasar Atas Bukittinggi.
Awalnya, Jumi berjalan kaki dan berencana untuk berbelanja sekitar pukul 09:00 WIB pagi. Saat berada di depan Bank Mandiri di Pasar Bawah Bukittinggi, ia dihampiri oleh seseorang yang bertanya tentang museum di daerah tersebut. Pria tersebut mengaku berasal dari Jawa dan ingin menggadaikan barang antik ke museum.
Tujuan pria tersebut adalah untuk biaya perawatan kakeknya yang dirawat di Rumah Sakit Achmad Mochtar (RSAM) Bukittinggi. Di tengah pembicaraan, tiba-tiba datang pria lain menggunakan mobil Toyota Avanza warna hitam. Pria dalam mobil menanyakan apa yang akan digadaikan.
Pria pertama mengaku memiliki batu antik yang ingin digadaikan, namun hanya bisa dilihat di dalam mobil. Pria dalam mobil tertarik membeli barang tersebut dan meminta Jumi masuk ke dalam mobil sebagai saksi.
Awalnya, Jumi menolak, tetapi pelaku mengatakan hanya butuh waktu lima menit. Saat itu juga, Jumi merasakan pundaknya ditepuk oleh seseorang. Setelah masuk ke dalam mobil, ia terus dipengaruhi hingga menuruti perintah untuk mengambil uang dari rumahnya sendiri.
Masih dalam pengaruh hipnotis, korban mengambil semua uang yang disimpan di rumah. Pelaku yang ada di dalam mobil menunggu tak jauh dari rumah korban. Setelah menjemput uang, korban dibawa keliling menggunakan mobil hingga Padang Lua.
Di sana, korban diminta menghitung uang kembali agar tidak ada yang kurang. Lalu, korban diturunkan dan disuruh ke musala untuk salat Dhuha, sedangkan uangnya diserahkan ke pelaku.
Sementara pelaku mengaku menunggu di dalam mobil setelah Jumi hendak melaksanakan salat Dhuha. Setelah salat Dhuha, Jumi sadar bahwa dirinya telah ditipu.
"Uang saya ada di rumah. Entah kenapa tiba-tiba saya ikut saja saat diperintah ambil uang di rumah dan menyerahkan kepada mereka," ujarnya.