Meningkatnya Penggunaan Uang Tunai di Rusia
Masyarakat Rusia kini mulai kembali beralih menggunakan uang tunai untuk transaksi sehari-hari. Hal ini terjadi karena pemerintah setempat semakin sering memutus jaringan internet seluler di berbagai wilayah. Gangguan jaringan tersebut membuat masyarakat dan pelaku usaha mencari cara yang lebih pasti untuk bertransaksi. Akibatnya, jumlah peredaran uang tunai di Rusia tercatat bertambah hingga 600 miliar rubel (Rp140,26 triliun) pada bulan April 2026 lalu.
Jumlah Peredaran Uang Tunai Meningkat Sejak September 2022
Berdasarkan data Bank Sentral Rusia, jumlah uang tunai di negara tersebut bertambah sekitar 600 miliar rubel (Rp140,26 triliun) pada April 2026. Angka ini menjadi kenaikan bulanan tertinggi sejak September 2022, tepatnya saat Presiden Vladimir Putin mengumumkan mobilisasi parsial untuk perang di Ukraina. Catatan ini tidak memasukkan kenaikan uang tunai yang memang biasa terjadi setiap bulan Desember.
Peningkatan ini tidak terjadi secara tiba-tiba. Selama tiga bulan ke belakang, uang tunai yang beredar telah bertambah lebih dari 1,1 triliun rubel (Rp257,15 triliun). Angka tersebut bahkan lebih besar dari total kenaikan uang tunai sepanjang tahun 2025. Pihak Bank Sentral Rusia menjelaskan bahwa hal ini terjadi karena masyarakat dan pengusaha ingin memiliki alat pembayaran cadangan yang bisa digunakan tanpa harus tersambung ke jaringan internet.
"Permintaan uang tunai ini sedikit lebih tinggi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Perubahan ini terjadi karena masyarakat dan pelaku usaha ingin menyiapkan uang tunai untuk pembayaran, terutama karena adanya kabar tentang pemutusan internet sementara," kata perwakilan Bank Sentral Rusia.

Pemerintah Membatasi Internet untuk Mencegah Serangan Drone
Pemerintah Rusia menjelaskan, pembatasan jaringan internet seluler merupakan langkah keamanan untuk mencegah serangan drone dari Ukraina. Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, mengatakan bahwa kebijakan tersebut adalah bentuk perlindungan keamanan dari negara tetangga. Sejak Mei 2025, pemutusan internet telah diterapkan di banyak wilayah, termasuk Moskow dan Sankt Peterburg. Saat ini, pemutusan jaringan terjadi hampir setiap hari di lebih dari 50 daerah.
Kebijakan pembatasan ini semakin diperketat setelah Ukraina melakukan Operasi Spiderweb pada Juni 2025 yang menyebabkan kerusakan pada puluhan pesawat militer Rusia di pangkalan udara penting. Menyikapi keadaan ini, anggota parlemen Rusia, Vladimir Gutenev menyarankan masyarakat membiasakan diri untuk selalu membawa uang tunai.
"Anda jangan hanya terbiasa dengan gaya hidup modern di pusat kota Moskow. Hidup ini tidak selalu tentang kenyamanan," kata Anggota Parlemen Rusia, Vladimir Gutenev.

Warga Kembali Menggunakan Alat Komunikasi Tanpa Internet
Gangguan sinyal internet ini menghambat banyak aktivitas sehari-hari, mulai dari sistem pembayaran digital, aplikasi pesan singkat, layanan transportasi daring, hingga pengiriman barang. Warga di berbagai kota mau tidak mau harus kembali memakai uang tunai. Bahkan, beberapa warung kecil hanya bisa memproses pembayaran digital jika mereka memiliki sambungan WiFi.
"Ini sudah menjadi kendala yang cukup besar bagi para penyedia jasa yang sangat membutuhkan jaringan internet seluler," kata peneliti Human Rights Watch, Anastasiia Kruope.
Dampak dari kebijakan ini juga dirasakan di luar sektor jasa dan pelayanan umum. Penjualan peta kertas dan alat komunikasi tanpa internet, seperti walkie-talkie dan pager, dilaporkan mengalami peningkatan. Menurut situs pengadaan barang TenderPro, pembelian alat komunikasi yang tidak membutuhkan jaringan internet oleh perusahaan-perusahaan di Rusia naik 82 persen dalam setahun terakhir. Selain itu, permintaan untuk perangkat internet satelit juga naik hingga dua kali lipat.
