
Prospek Saham Blue Chip di Tahun 2026
Saham-saham kelompok blue chip, yang dikenal sebagai emiten dengan kapitalisasi pasar besar dan stabilitas keuangan yang baik, diproyeksikan memiliki prospek yang lebih cerah pada tahun 2026. Namun, meskipun ada peluang yang menjanjikan, risiko-risiko tertentu tetap menghantui sektor ini.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Menurut Muhammad Wafi, Head of Research KISI Sekuritas, peluang rebound saham blue chip cenderung membaik pada tahun 2026. Namun, beberapa tantangan masih menghadang, seperti pertumbuhan kredit yang moderat, konsumsi kelas menengah yang belum pulih sepenuhnya, serta kompetisi antar emiten yang semakin ketat.
“Selain itu, pasar domestik kadang lebih memilih saham high-beta. Jadi, blue chip kurang dilirik dalam jangka waktu pendek,” ujar Wafi, Senin (15/12/2025).
Perkembangan Saham Blue Chip di Tahun 2025
Sepanjang tahun 2025, koreksi terhadap saham blue chip lebih disebabkan oleh perubahan preferensi pasar. Investor domestik lebih memilih saham-saham dengan cerita pertumbuhan cepat, seperti saham konglomerat.
Beberapa saham yang menguat secara signifikan selama tahun 2025 antara lain: * PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN) naik 2,43% YtD. * PT Barito Pacific Tbk. (BRPT) melonjak 291,30%. * PT Chandra Daya Investasi Tbk. (CDIA) naik 868,42%. * PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk. (CUAN) meningkat 111,71% YtD. * PT Bukit Uluwatu Villa Tbk. (BUVA) naik 2.610% YtD. * PT Sanurhasta Mitra Tbk. (MINA) melonjak 938,30% YtD.
Sementara itu, saham blue chip mengalami perlambatan pertumbuhan pendapatannya, net sell asing, dan valuasi awal tahun kemarin masih premium.
Tantangan di Tahun Mendatang
Abdul Azis, Analis Kiwoom Sekuritas, menilai bahwa kendati peluang penguatan saham blue chip cukup terbuka, tantangan-tantangan tetap ada pada tahun mendatang. Beberapa masalah yang disoroti antara lain carry trade global yang masih menjadi kekhawatiran serta data perlambatan ekonomi AS yang berpotensi mendorong pelemahan terhadap rupiah. Rupiah sendiri telah terdepresiasi sebesar 2,33% YtD ke level Rp16.670 per dolar AS.
Di sisi lain, jika data ekonomi Indonesia belum menunjukkan perbaikan maka ini bisa juga mempengaruhi pergerakkan saham blue chip pada tahun depan.
Koreksi pada Saham Blue Chip
Sepanjang 2025, sejumlah saham blue chip tampak terkoreksi cukup dalam. Dari sektor perbankan, saham BBRI terkoreksi 7,35%, BMRI terkoreksi 12,46%, hingga BBCA terkoreksi 14,21%. Hanya BBNI yang masih mencatatkan pertumbuhan tipis 2,07% YtD.
Saham PT Indofood Sukses Makmur Tbk. (INDF) juga terkoreksi 12,01%, PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. (ICBP) terkoreksi 27,03%, hingga PT Kalbe Farma Tbk. (KLBF) terkoreksi 10,29%.
Peluang di Tahun 2026
Abida Massi Armand, Analis BRI Danareksa Sekuritas, menilai bahwa peluang membaiknya saham blue chip pada 2026 terbuka cukup lebar. Hal itu mengingat saham-saham berfundamental solid ini telah diperdagangkan pada valuasi yang murah dibandingkan posisi historisnya.
Ketertinggalan indeks IDX30 menciptakan valuasi diskon yang sangat menarik dibandingkan historisnya, membuka peluang akumulasi bagi investor institusi domestik maupun asing.
Belum lagi, terdapat spread antara dividend yield saham blue chip dengan yield obligasi pemerintah yang cukup lebar. Yield dividen berada di kisaran 5–7%, sementara yield SBN berada pada level mendekati 5%. Hal ini menurut Abida bakal memaksa terjadinya rotasi dana dari instrumen berpendapatan tetap ke ekuitas.
Rotasi ini diperkirakan akan memuncak menjelang musim dividen pada periode Maret–Juni 2026. Hal itu juga didorong oleh revisi laba emiten blue chip yang kian positif sehingga berpeluang mengejar ketertinggalannya dengan IHSG.
Rekomendasi Saham
Kiwoom merekomendasikan saham BBRI dengan target harga Rp4.050 dan saham PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk. (JPFA) dengan target harga Rp3.110 per saham.
Sementara itu, KISI merekomendasikan investor untuk mengakumulasi saham BBCA, BBRI, BMRI, ICBP, MYOR, hingga KLBF. Menurut Wafi, valuasi kesemua saham tersebut cenderung atraktif untuk jangka menengah hingga panjang.
“Fokus ke emiten dengan earnings visibility tinggi dan balance sheet kuat,” tegas Wafi.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. aiotrade tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.