
Kinerja Emiten Batu Bara di Kuartal III/2025 Mengalami Penurunan
Kinerja emiten-emiten batu bara hingga kuartal III/2025 mengalami tekanan akibat melemahnya harga jual batu bara. Pelemahan ini diperkirakan akan berdampak pada pembagian dividen tahun buku 2025. Senior Equity Research Kiwoom Sekuritas, Sukarno Alatas, menjelaskan bahwa penurunan kinerja emiten tambang batu bara pada kuartal III/2025 dapat memengaruhi pembagian dividen.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
“Dengan laba yang turun dan harga batu bara global belum pulih, sebagian besar emiten kemungkinan menurunkan nominal dividen, meski payout ratio bisa tetap tinggi, terutama bagi yang punya kas kuat seperti PTBA dan ADRO,” ujarnya.
Perkembangan Investasi di Sektor Batu Bara
Meskipun kinerja menurun, Sukarno melihat bahwa sektor batu bara masih menarik bagi investor, meski tidak lagi menjadi dividend play sekuat tahun lalu. Fokus mulai bergeser ke efisiensi, diversifikasi bisnis, dan potensi rebound harga batu bara di 2026.
Kiwoom Sekuritas menilai saham PTBA masih menarik untuk dicermati karena yield yang stabil. Sementara itu, ADRO unggul dengan diversifikasi energi dan logistik. Saham lainnya yaitu ITMG bisa menjadi opsi value play dengan potensi dividen moderat.
Secara keseluruhan, kata Sukarno, saham batu bara tetap layak dicermati. Akan tetapi, ekspektasi investor harus realistis, karena dividen cenderung turun.
“Peluang [saham batu bara] kini lebih cocok bagi investor jangka menengah yang melihat momentum pemulihan harga dan efisiensi operasional,” tutur Sukarno.
Pembagian Dividen Interim oleh AADI
Sebagai informasi, dividen interim terbaru dari sektor batu bara akan dibagikan oleh PT Adaro Andalan Indonesia Tbk. (AADI). AADI menetapkan pembagian dividen interim tahun buku 2025 senilai US$250 juta atau setara lebih dari Rp3,9 triliun (asumsi kurs Rp15.600 per dolar AS).
Pembagian ini diambil dari laba bersih periode sembilan bulan hingga 30 September 2025, berdasarkan keputusan direksi dan dewan komisaris perseroan pada 7 November 2025.
Adapun AADI membukukan penurunan kinerja sampai sembilan bulan 2025. AADI mencatatkan laba bersih sebesar US$587,3 juta atau setara Rp9,8 triliun sampai September 2025 (kurs Jisdor BI Rp16.692 per dolar AS 30 September 2025).
Laba bersih AADI dalam 9 bulan 2025 tergerus hampir setengahnya, atau 45,35% secara tahunan. Sebelumnya, pada periode yang sama tahun lalu AADI membukukan laba bersih sebesar US$1,07 miliar.
Dividen Interim oleh ITMG
Selain AADI, emiten batu bara Grup Banpu PT Indo Tambangraya Megah Tbk. (ITMG) juga membagikan dividen interim sebesar Rp738 per saham. Pemegang saham ITMG akan mendapatkan pembayaran dividen pada 26 November 2025.
ITMG mencetak laba bersih sebesar US$130,5 juta atau setara Rp2,17 triliun sampai akhir September 2025 (kurs Jisdor BI Rp16.692 per dolar AS 30 September 2025). Laba bersih ITMG ini turun 52,17% secara tahunan dari sebelumnya sebesar US$273 juta pada 30 September 2024.
ITMG juga tercatat membukukan penurunan pendapatan menjadi US$1,36 miliar, turun 17,38% secara tahunan dari sebelumnya sebesar US$1,65 miliar.
Penyebab Penurunan Harga Batu Bara
Dalam keterangan resminya, manajemen ITMG menjelaskan penurunan pendapatan ini salah satunya disebabkan oleh penurunan harga jual rata-rata (average selling price / ASP) sebesar 21% dari US$97 per ton pada sembilan bulan 2024 menjadi US$77 per ton pada sembilan bulan 2025. Penurunan ini sejalan dengan pelemahan harga acuan batu bara.
Kinerja PTBA
Demikian juga dengan kinerja PTBA yang membukukan penurunan laba bersih sampai akhir September 2025. Bukit Asam mencatatkan laba bersih sebesar Rp1,39 triliun sampai akhir kuartal III/2025.
Laba yang dapat diatribusikan ke pemilik entitas induk PTBA ini tergerus 56,85% secara tahunan, dari Rp3,23 triliun pada akhir September 2024 menjadi Rp1,39 triliun pada akhir September 2025.
Corporate Secretary Division Head Eko Prayitno menyampaikan PTBA secara konsisten melakukan cost leadership dari sisi internal perusahaan untuk mencapai kinerja yang optimal.
“Perbaikan harga diharapkan membawa dampak positif seiring dengan berbagai strategi marketing maupun operasional yang dilakukan oleh perusahaan,” ujar Eko.
Disclaimer
Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. aiotrade tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.