
aiotrade, JAKARTA — Sebagai salah satu perusahaan kontraktor pelat merah, PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) tengah menyiapkan langkah restrukturisasi keuangan tahap kedua. Hal ini dilakukan mengingat penurunan pendapatan dan meningkatnya utang berbunga yang mencapai sekitar Rp29 triliun pada kuartal III/2025.
Direktur Utama WIKA, Agung Budi Waskito, menjelaskan bahwa restrukturisasi tahap kedua akan disusun berdasarkan kondisi riil dari kontrak dan kewajiban yang ada. Langkah ini menjadi kelanjutan dari restrukturisasi awal yang telah dilakukan pada tahun 2024.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Pada tahun lalu, WIKA bersama sejumlah lembaga keuangan telah menyelesaikan master restructuring agreement (MRA) dengan nilai outstanding sebesar Rp20,79 triliun. Namun, kinerja keuangan yang terus menurun membuat WIKA kesulitan dalam membayar kewajibannya di tahun 2025.
Hingga kuartal III/2025, pendapatan WIKA turun sebesar 27,54% year on year (YoY) menjadi Rp9,09 triliun. Menurut Agung, hal ini menyebabkan kurangnya arus kas yang cukup untuk memenuhi kewajiban keuangan perusahaan.
“Karena pendapatan yang menurun, kami tidak memiliki cukup cash-in untuk membayar kewajiban yang ada di tahun 2025,” ujar Agung dalam paparan publik virtual, Rabu (12/11/2025).
Untuk menghadapi situasi ini, restrukturisasi keuangan tahap kedua akan menjadi salah satu pilar utama transformasi WIKA pada tahun 2026. Selain itu, perseroan juga berencana melakukan asset recycling serta memperkuat efisiensi operasional.
“Kami sedang merancang restrukturisasi keuangan yang komprehensif. Artinya, kami akan melakukan tahap kedua yang lebih baik, berdasarkan realita kontrak yang dihadapi WIKA,” tambah Agung.
Menurut Direktur Keuangan WIKA, Sumadi, saat ini perseroan masih mengkaji berbagai opsi restrukturisasi yang sesuai dengan kondisi saat ini. Salah satu skema yang dipertimbangkan adalah menerapkan MRA dengan perbankan.
“Kami sedang mengevaluasi bagaimana restrukturisasi yang paling cocok. Ada potensi bahwa WIKA akan melakukan MRA lagi dengan perbankan,” jelas Sumadi.
Sumadi juga menyampaikan bahwa koordinasi dan konsultasi dengan Danantara terus berjalan guna mendapatkan dukungan dalam menghadapi tantangan keuangan saat ini.
Selain itu, terkait obligasi dan sukuk, Sumadi menyatakan bahwa restrukturisasi juga sedang dipertimbangkan. Beberapa RUPO (Rapat Umum Pemegang Saham) dan RUPSU (Rapat Umum Pemegang Saham Untuk Usulan) telah digelar, dengan perseroan meminta persetujuan untuk menangguhkan beberapa kewajiban tertentu.
Dalam rangka menghadapi tantangan keuangan, WIKA terus berupaya untuk menemukan solusi yang paling efektif. Restrukturisasi keuangan menjadi langkah penting dalam upaya menjaga kelangsungan bisnis dan stabilitas finansial perusahaan. Dengan berbagai strategi yang diterapkan, WIKA berharap dapat kembali pulih dan meningkatkan kinerja keuangan di masa depan.