
Target Kontrak Baru WIKA di Tahun 2026
PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) memiliki rencana ambisius untuk tahun 2026. Perusahaan konstruksi terbesar di Indonesia ini menargetkan perolehan nilai kontrak baru yang lebih dari Rp 20 triliun. Direktur Utama WIKA, Agung Budi Waskito, menjelaskan bahwa target ini merupakan peningkatan dari target tahun sebelumnya, yaitu di atas Rp 20 triliun.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Pencapaian ini akan menjadi bagian dari Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) 2026 yang sedang disusun oleh WIKA. Dalam acara Public Expose WIKA pada Rabu (12/11/2025), Agung menyampaikan bahwa pihaknya tengah melakukan restrukturisasi keuangan secara komprehensif. Tujuannya adalah untuk memastikan arus kas tetap stabil, sehingga proyek-proyek yang sedang berjalan dapat terlaksana dengan baik di tahun 2026.
Agung menegaskan bahwa permintaan terhadap proyek mulai mengalami pemulihan di awal tahun depan. Bahkan, peningkatan permintaan ini sudah dirasakan oleh WIKA di akhir tahun 2026. Hal ini ditunjukkan dengan semakin banyaknya lelang proyek yang dilakukan, baik oleh pemerintah maupun non pemerintah. Sentimen positif ini diharapkan menjadi katalis bagi pertumbuhan nilai kontrak di tahun 2026.
Fokus pada Transformasi dan Efisiensi
Di tahun 2026, WIKA akan fokus pada tiga pilar transformasi. Pertama, perusahaan akan lebih selektif dalam memilih kontrak dengan margin dan termin yang berkelanjutan dari sisi arus kas. Kedua, WIKA akan memperkuat efisiensi harga pokok penjualan (HPP) melalui penerapan lean construction. Ketiga, perusahaan akan meningkatkan kapasitas dan kualitas manajemen proyek.
Agung menjelaskan bahwa pilihan proyek yang lebih selektif diperlukan untuk memperbaiki cash flow. “Kami mencari proyek-proyek yang memiliki pembayaran bulanan agar arus kas tidak tertekan,” ujarnya.
Peran BPI Danantara dalam Proses Penggabungan
Selain itu, upaya perbaikan kinerja WIKA juga terkait dengan proses merger BUMN Karya yang sedang berjalan. Peran BPI Danantara sangat penting dalam penggabungan perusahaan-perusahaan konstruksi pelat merah ini. Harapan besar diarahkan kepada seluruh perusahaan pelat merah bisa membaik dan untung di tahun 2026.
Meskipun begitu, detail tentang proses merger tidak disampaikan lebih lanjut oleh manajemen WIKA. Namun, Agung menegaskan bahwa pihaknya sedang intens berkoordinasi dengan Danantara untuk memastikan penyehatan dan restrukturisasi WIKA berjalan baik.
Kinerja WIKA Hingga September 2025
Sebagai gambaran, hingga September 2025, WIKA hanya mampu mengantongi kontrak baru sebesar Rp 6,19 triliun. Angka ini turun 60,25% dibandingkan periode yang sama tahun lalu, yaitu Rp 15,58 triliun.
Pendapatan bersih WIKA tercatat sebesar Rp 9,09 triliun per September 2025, turun 27,54% dari Rp 12,54 triliun pada periode yang sama tahun 2024. Selain itu, WIKA mencatatkan rugi bersih sebesar Rp 3,21 triliun pada kuartal III 2025, jauh berbeda dari laba bersih Rp 741,43 miliar pada kuartal III tahun lalu.
Dengan langkah-langkah strategis yang telah diambil, WIKA berharap dapat bangkit dan kembali menunjukkan pertumbuhan yang signifikan di tahun 2026.