
Strategi WIKA untuk Memperbaiki Kinerja Keuangan
PT Wijaya Karya Tbk (WIKA), salah satu emiten konstruksi pelat merah, tengah menghadapi tantangan dalam kinerja keuangannya. Untuk mengatasi hal ini, perseroan telah menyiapkan berbagai strategi yang mencakup divestasi aset, meminta dukungan dari Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara), serta lebih selektif dalam menerima proyek.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Direktur Utama WIKA, Agung Budi Waskito, mengakui bahwa kondisi keuangan perusahaan saat ini sedang tertekan. Namun, ia menyatakan bahwa pihaknya sedang melakukan restrukturisasi secara komprehensif agar dapat meningkatkan kinerja keuangan dan siap menghadapi ekspansi pada tahun 2026.
“Kami sedang melakukan restrukturisasi keuangan secara komprehensif, sejalan dengan rencana ekspansi dan target besar di 2026,” ujar Agung dalam paparan publik secara daring pada Rabu (12/11).
Pemilihan Proyek yang Lebih Selektif
Salah satu langkah pertama yang akan dilakukan oleh WIKA adalah lebih selektif dalam memilih proyek. Sebelum mengambil proyek baru, perseroan akan menerapkan prinsip know your partner atau know your owner. Hal ini bertujuan untuk memastikan bahwa pihak pemilik proyek memiliki kemampuan finansial yang baik.
Selain itu, WIKA juga akan menghindari proyek pre-finance atau turnkey, dan lebih memilih proyek dengan pembayaran uang muka (down payment) atau pembayaran bulanan (monthly payment). Dengan strategi ini, arus kas atau cashflow perusahaan dapat dijaga tetap positif, dan proyek-proyek baru yang dijalankan umumnya memberikan laba yang baik.
Target Nilai Kontrak untuk Tahun 2026
Dalam Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan 2026, WIKA menetapkan target nilai kontrak yang lebih besar dibandingkan tahun 2025, yaitu di atas Rp 20 triliun. Meskipun saat ini arus kas masih cukup untuk melanjutkan proyek-proyek ke depan, Agung menyatakan bahwa restrukturisasi dilakukan agar struktur keuangan WIKA lebih kuat menghadapi peningkatan aktivitas proyek di tahun depan.
Opsi Restrukturisasi dan Dukungan dari Danantara
WIKA saat ini sedang mengkaji berbagai opsi, termasuk kemungkinan melakukan restrukturisasi kembali (MRO) dengan pihak perbankan. Potensi ini masih terbuka mengingat kondisi keuangan yang sedang dihadapi.
Selain itu, WIKA juga terus melakukan koordinasi dengan Danantara untuk memperoleh dukungan tambahan. Perseroan juga tengah mempertimbangkan langkah restrukturisasi di sisi obligasi dan sukuk. Beberapa langkah awal telah dilakukan, termasuk permintaan penangguhan pembayaran kewajiban kepada para kreditur.
Rencana Divestasi Aset Non-Inti
WIKA berencana melepas beberapa aset non-inti, termasuk sejumlah jalan tol dan aset lainnya. Proses ini ditargetkan mulai berjalan pada tahun depan dan akan berlanjut selama tiga hingga empat tahun ke depan.
Rencana Merger BUMN Karya
Penyehatan WIKA juga mencakup rencana merger BUMN Karya. Agung menyatakan kajian mengenai penggabungan atau merger perusahaan-perusahaan BUMN Karya sudah hampir selesai. Berdasarkan keputusan bersama dengan Danantara, tujuh BUMN Karya akan dilebur sehingga menyisakan tiga klaster atau tiga perusahaan besar.
Berdasarkan informasi yang diberikan, masing-masing klaster sudah dalam tahap persiapan. Danantara juga telah membentuk Project Management Office (PMO) untuk mempercepat proses penggabungan tersebut. Diharapkan seluruh persiapan dapat rampung pada semester pertama 2026, dan proses eksekusinya dapat dimulai pada semester kedua 2026.
Status Saham WIKA yang Masih Disuspensi
Saham WIKA masih disuspensi oleh Bursa Efek Indonesia. Direktur WIKA, Sumadi, mengatakan pihaknya selalu melakukan komunikasi dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan BEI secara berkala dan intens. Baru-baru ini, pihaknya melakukan audiensi kepada BEI untuk menyampaikan kabar terbaru mengenai kondisi perusahaan.
Sumadi juga meminta dukungan dari BEI untuk dapat menuntaskan kewajiban dan memperdagangkan kembali sahamnya. Selain itu, WIKA juga telah menjalin komunikasi dengan wali amanat guna menyusun pola penyelesaian yang terbaik bagi seluruh pemegang instrumen obligasi dan sukuk.
Kinerja Keuangan Hingga Kuartal III 2025
Hingga kuartal III 2025, WIKA mengalami rugi bersih sebesar Rp 3,21 triliun, berbanding terbalik dari laba bersih Rp 741,43 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Pendapatan bersih WIKA juga tercatat turun menjadi Rp 9,09 triliun per September 2025, turun 27,54% dari Rp 12,54 triliun pada periode sama 2024.
Secara detail, segmen usaha infrastruktur dan gedung anjlok 40,42% year-on-year (yoy) menjadi Rp 3,58 triliun. Segmen industri merosot 25,36% yoy menjadi Rp 2,63 triliun. Sementara itu, segmen energi dan industrial plant mencatat pendapatan Rp 2,3 triliun, hotel Rp 203,78 miliar, realty dan properti Rp 192,33 miliar, serta investasi Rp 174,62 miliar.