
aiotrade, RIYADH - Negara-negara Eropa mulai memperkuat persiapan mereka menghadapi lonjakan jumlah wisatawan muslim, terutama dari Indonesia. Direktur Eksekutif European Travel Commission (ETC), Eduardo Santander, menyebutkan bahwa Indonesia kini menjadi salah satu pasar yang paling penting bagi pariwisata Eropa.
“Indonesia adalah pasar utama di Asia Tenggara. Banyak wisatawan yang melakukan perjalanan pertama ke Eropa, dan banyak juga yang kembali berkunjung,” ujarnya dalam keterangan resmi yang diterima redaksi hari ini.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Keberlanjutan Jadi Dasar Strategi Baru Eropa
Santander menegaskan bahwa seluruh kebijakan pariwisata Eropa kini berpusat pada konsep keberlanjutan. Menurutnya, konsep ini bukan sekadar slogan, tetapi merupakan perubahan strategi menyeluruh yang mencakup aspek ekonomi, sosial, lingkungan, dan budaya.
“Keberlanjutan bukan tujuan akhir, melainkan transformasi total dalam bagaimana destinasi menerima wisatawan,” jelasnya.
Eropa Kejar Ketertinggalan Digital
Dalam hal kebutuhan wisatawan Asia akan kemudahan digital, Santander mengakui bahwa Eropa belum secepat kawasan Asia Timur. Namun, beberapa langkah telah dilakukan, seperti penggunaan AI untuk mempermudah komunikasi, kerja sama dengan platform pemesanan global, serta penyebaran wisatawan ke kota tier-2 dan tier-3.
Kebijakan ini juga bertujuan mengurangi antrean dan menekan kepadatan di destinasi utama.
Wisatawan Pasca-Pandemi Cari Pengalaman Personal
Menurut Santander, pandemi telah mengubah cara wisatawan berperilaku. Turis kini lebih memilih perjalanan yang personal, dekat dengan alam, serta mengutamakan keamanan dan kenyamanan.
“Wisatawan Indonesia ingin memastikan mereka diterima apa pun keyakinan atau penampilannya,” katanya. Hal ini mendorong pelatihan tambahan bagi pekerja pariwisata Eropa terkait sensitivitas budaya.
Layanan Halal Mulai Diperluas
Untuk merespons meningkatnya minat wisata halal dari Indonesia, Eropa mulai menambah fasilitas dan layanan ramah Muslim. Langkah tersebut mencakup penyediaan makanan halal, ruang salat, pelatihan staf, hingga jam layanan yang lebih sesuai bagi keluarga Muslim.
Beberapa negara yang dinilai paling proaktif antara lain Swiss, Prancis, Belgia, dan Spanyol, yang telah mengembangkan program Halal Friendly Travel.
“Negara yang memiliki direct flight dari Indonesia biasanya bergerak lebih cepat,” ujar Santander.
Kampanye Wisata Bertanggung Jawab
ETC juga meluncurkan Destination Europe Reporting Campaign, kampanye pariwisata berskala Eropa pertama yang menargetkan wisatawan langsung. Pesannya adalah mendorong perjalanan bertanggung jawab dengan empat prinsip: perjalanan di luar musim puncak, menginap di kota kecil, menggunakan transportasi publik, dan membeli produk lokal.
Kolaborasi dengan Indonesia Terus Diperkuat
ETC bekerja sama dengan Pacific Asia Travel Association (PATA) untuk meningkatkan pertukaran informasi antara Eropa dan Asia, termasuk Indonesia. Kolaborasi ini diharapkan membantu kedua kawasan memahami karakter, ekspektasi, dan tantangan wisata masing-masing.
“Tujuannya agar wisatawan dari latar belakang apa pun merasa diterima di seluruh Eropa,” tegas Santander.