
aiotrade, JAKARTA — Organisasi Meteorologi Dunia (World Meteorological Organization/WMO) mengajak seluruh negara untuk segera mengambil tindakan dalam mengatasi ketidakseimbangan yang ada di sistem pemantauan global. Sistem ini sangat penting dalam melindungi masyarakat dari ancaman cuaca ekstrem. WMO menekankan bahwa sistem peringatan dini menjadi kebutuhan mendesak, terutama bagi negara-negara berkembang.
Dalam pertemuan khusus yang digelar di Jenewa pada Senin (20/10/2025), WMO melaporkan bahwa dalam lima dekade terakhir, bencana yang terkait dengan cuaca, air, dan iklim telah menyebabkan lebih dari 2 juta kematian. Dari jumlah tersebut, sekitar 90% korban berasal dari negara-negara berkembang. Hal ini menunjukkan bahwa negara-negara dengan sumber daya terbatas cenderung lebih rentan terhadap dampak bencana alam.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Sekretaris Jenderal WMO, Celeste Saulo, menyoroti pentingnya meningkatkan sistem peringatan dini sebagai prioritas utama. Namun, data yang dirilis oleh organisasi PBB ini menunjukkan bahwa hanya 55% negara yang memiliki kemampuan pemantauan yang memadai.
“Masih ada jutaan orang yang tidak memiliki perlindungan terhadap cuaca berbahaya. Saat ini, kerugian ekonomi dan kerusakan infrastruktur semakin besar,” demikian pernyataan resmi WMO.
Jumlah negara yang memiliki sistem peringatan dini memang meningkat tajam dalam tiga tahun terakhir, mencapai 119 negara. Namun, hasil penilaian terhadap 62 negara menunjukkan bahwa setengah dari mereka hanya memiliki kapasitas dasar, sedangkan 16% bahkan di bawah standar dasar.
Meski begitu, WMO mencatat adanya kemajuan di kawasan Afrika. Beberapa negara seperti Mozambik dan Ethiopia kini memiliki situs pemantauan aktif dan mampu memberikan peringatan standar.
“Peringatan dini memungkinkan aksi pencegahan. Tujuan kami bukan hanya memberi peringatan, tetapi juga memberdayakan masyarakat,” ujar Saulo dalam pidato pembukaannya di Jenewa.
Temuan WMO menunjukkan bahwa angka kematian akibat bencana enam kali lebih tinggi, dan jumlah korban terdampak empat kali lebih banyak di negara yang belum memiliki sistem peringatan dini multi-bahaya yang memadai.
Kepala Departemen Dalam Negeri Federal Swiss, Elisabeth Baume-Schneider, menegaskan kepada para delegasi bahwa tidak ada wilayah yang aman dari dampak perubahan iklim dan cuaca ekstrem. Ia memberikan contoh keberhasilan sistem pemantauan gletser di pegunungan Swiss yang berhasil memberikan peringatan dini atas potensi longsoran gletser pada Mei 2025. Akibatnya, penduduk desa Blatten dapat dievakuasi tepat waktu.
“Pencairan permafrost akan menyebabkan lebih banyak gletser runtuh dan batuan longsor. Karena itu, sistem peringatan dini menjadi kebutuhan mutlak,” tambahnya.