WMO: Mayoritas Negara Berkembang Tak Miliki Peringatan Dini Bencana Iklim

admin.aiotrade 21 Okt 2025 2 menit 13x dilihat
WMO: Mayoritas Negara Berkembang Tak Miliki Peringatan Dini Bencana Iklim


aiotrade.app
, JAKARTA — Organisasi Meteorologi Dunia (World Meteorological Organization/WMO) mengingatkan pentingnya tindakan segera untuk memperbaiki sistem pemantauan global yang bertujuan melindungi masyarakat dari cuaca ekstrem. Lembaga ini menekankan bahwa sistem peringatan dini sangat dibutuhkan, khususnya di negara-negara berkembang yang sering kali kurang memiliki infrastruktur yang memadai.

Dalam pertemuan khusus di Jenewa pada Senin (20/10/2025), WMO melaporkan bahwa dalam lima dekade terakhir, bencana yang terkait dengan cuaca, air, dan iklim telah menyebabkan kematian lebih dari 2 juta orang. Dari jumlah tersebut, 90% korban berasal dari negara berkembang. Hal ini menunjukkan betapa rentannya populasi di daerah-daerah tersebut terhadap ancaman alam.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Sekretaris Jenderal WMO Celeste Saulo menyoroti pentingnya peningkatan sistem peringatan dini sebagai prioritas utama. Namun, data yang dirilis oleh badan PBB tersebut menunjukkan bahwa hanya 55% negara yang memiliki kapasitas pemantauan yang memadai.

“Masih ada jutaan orang yang tidak memiliki perlindungan dalam menghadapi cuaca berbahaya. Saat ini, kerugian ekonomi dan kerusakan infrastruktur vital semakin besar,” demikian pernyataan resmi WMO.

Jumlah negara yang menggunakan sistem peringatan dini memang meningkat pesat dalam tiga tahun terakhir menjadi 119 negara. Namun, hasil evaluasi terhadap 62 negara menunjukkan bahwa setengah dari mereka hanya memiliki kapasitas dasar, sementara 16% bahkan di bawah standar dasar. Ini menunjukkan adanya ketimpangan yang signifikan dalam kemampuan negara-negara tersebut untuk merespons ancaman cuaca ekstrem.

Meski demikian, WMO mencatat adanya kemajuan di kawasan Afrika, termasuk di Mozambik dan Ethiopia. Di sana, semakin banyak negara yang memiliki situs pemantauan aktif dan mampu menerbitkan peringatan standar.

“Peringatan dini memungkinkan aksi pencegahan. Tujuan kami bukan sekadar memberi peringatan kepada dunia, tetapi juga memberdayakan masyarakat,” ujar Saulo dalam pidato pembukaan konferensi di Jenewa.

Temuan WMO menunjukkan bahwa angka kematian akibat bencana enam kali lebih tinggi dan jumlah korban terdampak empat kali lebih banyak di negara yang belum memiliki sistem peringatan dini multi-bahaya yang memadai. Hal ini menegaskan pentingnya pengembangan sistem peringatan dini yang efektif.

Kepala Departemen Dalam Negeri Federal Swiss, Elisabeth Baume-Schneider, menegaskan kepada para delegasi bahwa tidak ada negara atau wilayah yang terbebas dari dampak perubahan iklim dan cuaca ekstrem. Ia mencontohkan keberhasilan sistem pemantauan gletser di pegunungan Swiss yang memungkinkan ilmuwan memberikan peringatan dini atas potensi longsoran gletser pada Mei 2025, sehingga penduduk desa Blatten dapat dievakuasi tepat waktu.

“Pencairan permafrost akan menyebabkan makin banyak gletser runtuh dan batuan longsor. Karena itu, sistem peringatan dini menjadi kebutuhan mutlak,” ujarnya.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan