Korban Eksploitasi Sindikat Penipuan Daring di Kamboja Masih Terancam
Seorang pria berusia 26 tahun asal Bogor, Indonesia, menjadi korban eksploitasi sindikat penipuan daring di Kamboja. Meski kini telah berada di bawah perlindungan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Phnom Penh, ancaman dari sindikat masih terus diterima.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Korban yang identitasnya dirahasiakan kini sedang dalam perlindungan KBRI, namun kondisi psikologisnya masih rentan karena terus menerima pesan-pesan ancaman. Orang tua korban, Firman, mengaku masih menunggu proses pemulangan anaknya ke Indonesia. Ia menjelaskan bahwa komunikasi hanya bisa dilakukan melalui WhatsApp, dan korban tetap trauma saat melihat orang yang tidak dikenal.
Firman menunjukkan bukti tangkapan layar pesan teror yang dikirim ke anaknya melalui nomor tak dikenal. Isi pesan tersebut antara lain:
- “Bajinhan, sampe Indo gak bakal idup tenang lu, setan.”
- “Lu di mana? Lu mau balik atau gua kejar sampe Indo? Balik gak lu ke mess?”
Menurut Firman, pesan ancaman itu diterima setelah anaknya berhasil melarikan diri dari lokasi para pelaku yang mengeksploitasi WNI untuk melakukan penipuan online secara paksa. Firman menjelaskan bahwa korban disandera dan dijadikan pekerja paksa. Akhirnya, ia bisa kabur saat diberi tugas memesan makanan online. Saat itu, dia memanfaatkan kesempatan untuk melarikan diri bersama temannya.
Peristiwa pelarian terjadi pada Selasa (21/10/2025) sekitar pukul 20.00 waktu setempat. Mereka memesan makanan berdua, lalu kabur pada pukul 05.00 pagi dan berhasil memesan mobil daring menuju KBRI. Malamnya sekitar pukul 19.00, mereka tiba di KBRI.
Firman mengaku tidak menyangka anaknya bisa menjadi korban eksploitasi. Menurutnya, anaknya berangkat ke luar negeri setelah diajak teman semasa SD untuk bekerja di Singapura. Awalnya, Firman tidak curiga. Di Singapura, anaknya benar-benar bekerja di kantor sebagai customer service. Namun, setelah sebulan, komunikasi mereka terputus pada Jumat (17/10/2025).
Perubahan nasib terjadi ketika korban diajak temannya bepergian dengan pesawat. Ia baru menyadari berada di Kamboja usai tiba di sana, dan sehari kemudian diculik di depan sebuah toko roti di kota Bavet, perbatasan Kamboja–Vietnam. Dia tidak sadar dibawa ke sana. Setelah itu, ia diculik dan dijadikan pekerja paksa untuk penipuan online.
Firman berharap KBRI dapat segera memulangkan anaknya ke Indonesia. Ia mengaku kondisi anaknya masih rawan karena terus diteror, sementara biaya hidup di Kamboja harus ditanggung sendiri. Katanya, proses pengurusan berkas bisa sampai enam bulan dan tidak ada tempat tinggal dari KBRI. Mereka harus menanggung biaya hotel, makan, dan kebutuhan sehari-hari, sedangkan mereka orang biasa yang penghasilannya pas-pasan.
“Kami mohon bantuan pemerintah untuk memulangkan anak kami,” tambahnya.