WWF Indonesia: Penyebab Banjir dan Longsor di Sumatera Diungkap

admin.aiotrade 11 Des 2025 3 menit 31x dilihat
WWF Indonesia: Penyebab Banjir dan Longsor di Sumatera Diungkap

Penyebab Bencana di Sumatera: Tidak Hanya Tanggung Jawab Satu Pihak

Bencana banjir bandang dan longsor yang terjadi di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat telah memicu berbagai pertanyaan tentang siapa yang bertanggung jawab atas kejadian ini. Berbagai pihak mulai dari Kementerian Kehutanan hingga korporasi yang melakukan penebangan kayu di hutan, serta penambang ilegal di sekitar daerah aliran sungai (DAS) menjadi sasaran kritik.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

World Wide Fund for Nature (WWF) Indonesia turut menyoroti isu ini. CEO WWF Indonesia, Aditya Bayunanda, menyatakan bahwa bencana ini tidak bisa disalahkan hanya kepada satu pihak, termasuk Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni. Menurutnya, akar masalah lebih kompleks dan merupakan hasil dari tata kelola lingkungan yang buruk selama bertahun-tahun.

Aditya menjelaskan bahwa kerusakan ekosistem dan lemahnya pengawasan bukanlah hal yang muncul secara mendadak. Ia menilai bahwa bencana ini adalah akumulasi dari proses panjang yang terjadi selama belasan tahun.

"Terlihatnya ini sesuatu yang akumulasi ya. Jadi, ini sebetulnya akibat dari pengelolaan yang bertahun-tahun ya, belasan tahun jadi bukan hanya sesaat," ujarnya dalam pernyataannya.

Ia menekankan bahwa penyebab bencana harus dilihat dari rangkaian kebijakan masa lalu yang memberikan ruang besar bagi eksploitasi kawasan hutan tanpa mitigasi yang memadai. Izin-izin yang dikeluarkan pada periode-periode sebelumnya menjadi bagian dari masalah struktural yang kini menimbulkan dampak besar. Oleh karena itu, ia menilai tidak tepat jika publik hanya menyalahkan menteri yang sedang menjabat saat ini.

"Jelas ini bukan kesalahan ataupun sesuatu tanggung jawab yang hanya bisa dibebankan untuk menteri sekarang (Raja Juli Antoni). Karena, ini akumulasi dari kebijakan ataupun pemberian izin menteri-menteri dahulu juga," tegasnya.

Masalah Kepatuhan dan Implementasi Aturan Lingkungan

Aditya juga mengkritik lemahnya kepatuhan pemegang izin terhadap regulasi perlindungan lingkungan. Salah satu aturan yang sangat penting adalah perlindungan sepadan sungai yang sebenarnya dirancang untuk mencegah banjir bandang. Namun, implementasinya di lapangan tidak konsisten.

Contohnya, banyak perkebunan dan kegiatan pertambangan yang justru membangun hingga ke bibir sungai. Hal ini menunjukkan bahwa upaya melindungi sepadan sungai belum sepenuhnya dilakukan.

"Banyak sekali kita lihat perkebunan itu membuat kebunnya itu ya sampai pinggir sungai. Misalnya untuk konteks pertambangan dan sebagainya. Jadi, bahkan bisa dibilang hanya sebagian kecil yang betul-betul menjalankan upaya untuk melindungi sepadan sungainya," ungkapnya.

Solusi yang Perlu Dilakukan

Menurut Aditya, jalan keluar dari persoalan ini bukan dengan mencari kambing hitam, melainkan membenahi tata kelola hutan secara menyeluruh. Ini meliputi audit izin lama, penegakan aturan perlindungan sungai, hingga pengawasan yang lebih kuat.

WWF Indonesia sebagai organisasi konservasi independen memiliki visi untuk konservasi yang sejalan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan. Organisasi ini berkomitmen untuk memobilisasi aksi dari para pemangku kepentingan dan pendukung guna mencapai tujuan tersebut.

Dengan fokus pada tata kelola sumber daya alam yang adil, WWF Indonesia berupaya memastikan manfaat konservasi di masa depan. Dalam konteks bencana ini, organisasi ini menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan pelaku bisnis untuk menciptakan sistem yang lebih berkelanjutan dan ramah lingkungan.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan