
Target Pemerintah Mengurangi Tumpukan Sampah di Bantargebang
Menteri Koordinator Pangan Zulkifli Hasan mengungkapkan rencana ambisius untuk menghilangkan tumpukan sampah di tempat pengelolaan sampah terpadu Bantargebang, Bekasi, Jawa Barat, dalam waktu dua tahun. Dalam pernyataannya di Graha Mandiri, Jakarta, pada Selasa, 16 Desember 2025, ia menyampaikan bahwa Bantargebang akan menjadi contoh sukses dalam penerapan proyek waste to energy.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Pernyataan tersebut disampaikan saat Zulhas berbicara tentang proyek waste to energy dalam acara sosialisasi antikorupsi yang diadakan di lingkup Kementerian Koordinasi Bidang Pangan. Ia menegaskan bahwa salah satu tanggung jawab utamanya adalah menyelesaikan masalah tumpukan sampah yang semakin membesar. Menurutnya, selama 11 tahun proyek ini berjalan, pemerintah hanya menerbitkan tiga izin pengolahan sampah menjadi energi. Sebagai penanggung jawab proyek, ia bertekad agar Indonesia dapat memiliki 34 fasilitas pembangkit listrik tenaga sampah (PLTSa) dalam dua tahun ke depan.
Zulhas menjelaskan bahwa dulu proyek waste to energy menghadapi kendala besar karena proses perizinan yang rumit dan berlapis. Ia menggambarkan bagaimana perusahaan harus mengajukan izin kepada DPRD, bupati, hingga gubernur. Setelah itu, mereka juga perlu mendapatkan persetujuan dari Menteri Keuangan, Menteri Lingkungan Hidup, dan PLN.
“Tujuan Presiden adalah mempermudah proses ini, kita pangkas,” ujarnya.
Saat ini, pemerintah telah memangkas skema perizinan proyek waste to energy menjadi tiga langkah. Pertama, izin dari pemerintah daerah untuk penyiapan lahan. Kedua, izin dari Kementerian ESDM. Ketiga, izin dari Badan Pengelola Investasi Danantara.
Kolaborasi Penting dalam Proyek Waste to Energy
Managing Director Investment Danantara Indonesia, Stefanus Ade Hadiwidjaja, sebelumnya menyatakan bahwa proyek waste to energy adalah peluang besar bagi Indonesia dalam menyediakan energi bersih yang berkelanjutan. “Indonesia punya peluang menjaga kehidupan melalui waste to energy. Namun, tidak ada yang bisa melakukannya sendiri. Proyek ini hanya mungkin apabila ada kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dunia usaha, dan masyarakat,” tegasnya.
Ia juga menjelaskan bahwa Danantara menugaskan PLN sebagai offtaker listrik dari PLTSa dan akan berperan sebagai orkestrator dalam koordinasi teknis. “Tanpa solusi sistemik, kolaboratif, dan terukur, tidak akan ada keberlanjutan kehidupan ekonomi ke depan,” tambahnya.
Langkah-Langkah Strategis dalam Implementasi
Untuk mencapai target yang ditetapkan, beberapa langkah strategis dilakukan oleh pemerintah dan mitra kerja. Berikut adalah beberapa hal penting yang perlu diperhatikan:
- Percepatan Proses Perizinan: Pemerintah telah memangkas proses perizinan menjadi tiga tahap, yaitu:
- Izin dari pemerintah daerah untuk penyiapan lahan
- Izin dari Kementerian ESDM
-
Izin dari Badan Pengelola Investasi Danantara
-
Kolaborasi Lintas Stakeholder: Proyek ini membutuhkan keterlibatan aktif pemerintah pusat, daerah, dunia usaha, dan masyarakat. Tanpa kolaborasi yang kuat, proyek tidak akan berjalan efektif.
-
Pemanfaatan Teknologi: Penggunaan teknologi modern dalam pengolahan sampah menjadi energi akan meningkatkan efisiensi dan keberlanjutan proyek.
-
Pengelolaan Sampah Secara Terpadu: Penanganan sampah secara terpadu diperlukan untuk memastikan bahwa limbah tidak kembali menumpuk di tempat-tempat pengelolaan.
Proyek waste to energy ini tidak hanya bertujuan mengurangi tumpukan sampah, tetapi juga memberikan kontribusi nyata dalam penyediaan energi terbarukan. Dengan komitmen yang kuat dan kolaborasi yang baik, harapan besar ditempatkan pada keberhasilan proyek ini dalam dua tahun ke depan.