13 Makanan Fermentasi Khas Indonesia yang Wajib Dicoba, Lezat dan Bergizi

Makanan Fermentasi Khas Indonesia yang Wajib Dicoba

Makanan fermentasi khas Indonesia memiliki cita rasa unik, aroma khas, dan kandungan gizi tinggi. Proses fermentasi melibatkan mikroorganisme seperti bakteri dan jamur yang mengubah bahan makanan menjadi lebih tahan lama, bernutrisi, dan enak dikonsumsi. Kuliner tradisional ini tak hanya populer di kalangan masyarakat lokal, tetapi juga menarik perhatian wisatawan.

Berikut adalah beberapa makanan fermentasi asli Indonesia yang wajib dicoba:

1. Terasi

Terasi merupakan salah satu makanan fermentasi asli Indonesia yang terbuat dari ikan dan udang yang difermentasi, kemudian dijemur hingga menjadi pasta beraroma kuat. Proses pembuatan terasi melibatkan bakteri asam laktat (BAL) seperti Staphylococcus piscifermentans yang berfungsi sebagai biopreservatif, memperpanjang umur simpan, serta memberikan rasa khas. Terasi banyak digunakan sebagai penyedap masakan di berbagai daerah, seperti Cirebon, Langkat, dan Langsa.

2. Urutan

Urutan adalah sosis fermentasi khas Bali yang terbuat dari daging dan lemak babi (60:40), dicampur rempah dan garam, lalu difermentasi spontan dalam selongsong usus babi. Bakteri asam laktat seperti Lactobacillus plantarum dan Pediococcus cereviceae berperan penting dalam fermentasi ini. Urutan memiliki aroma tajam dan rasa gurih yang khas, serta bisa disimpan hingga 12 hari pada suhu ruang.

3. Budik

Budik merupakan makanan fermentasi asal Indonesia dari Nusa Tenggara Timur, terutama Pulau Rote dan Kupang. Terbuat dari darah babi yang dicampur lemak, bumbu, dan usus sebagai selongsong. Budik melalui fermentasi alami, menghasilkan rasa gurih dan tekstur padat. Penambahan tepung beras merah pada budik dapat memperbaiki kualitas fisikokimia, meningkatkan kadar air dan lemak, namun menurunkan kadar protein.

4. Bekasam

Bekasam adalah ikan fermentasi khas Sumatera Selatan dan Kalimantan. Ikan seperti teri, nila, atau bandeng difermentasi secara spontan dengan garam dan sumber karbohidrat (nasi, tape ketan, singkong). Bekasam kaya protein dan rendah lemak. Penelitian menunjukkan, jumlah garam yang tepat meningkatkan aroma, warna, dan tekstur produk. Bekasam banyak dikonsumsi sebagai lauk atau camilan.

5. Naniura

Naniura adalah makanan fermentasi dari Suku Batak Toba, Sumatera Utara. Ikan mas direndam dalam asam jeruk batak (unte jugga) dan rempah seperti andaliman, kecombrang, dan kunyit. Fermentasi ini menurunkan pH, menghambat bakteri patogen, dan menghasilkan rasa asam gurih yang khas. Naniura juga mengandung bakteri asam laktat yang mampu memproduksi eksopolisakarida (EPS) dengan berbagai manfaat kesehatan.

6. Bebontot atau Buntilan

Bebontot adalah olahan fermentasi daging Bali, bisa dari babi, ayam, atau sapi. Daging dicampur rempah (laos, jahe, bawang putih, cabai, merica) dan dibungkus daun pisang, kemudian dikeringkan selama 4–5 hari. Proses fermentasi alami menghasilkan aroma khas dan rasa gurih, sering disajikan saat upacara adat.

7. Ikan Peda

Ikan peda dibuat dari ikan kembung yang difermentasi dengan garam selama minimal 6 hari. Bakteri halofilik dan bakteri asam laktat (L. plantarum, L. curvatus) aktif selama fermentasi. Ikan peda populer di Jawa Barat, awalnya diperkenalkan oleh pedagang Thailand. Inovasi modern pangan ini, yakni pembuatan bubuk peda sebagai bumbu masak.

8. Tempe

Tempe adalah makanan fermentasi asli Indonesia paling terkenal. Kedelai difermentasi menggunakan jamur Rhizopus, menghasilkan protein nabati tinggi. Tempe memiliki sejarah panjang, bahkan sedang diajukan sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO. Tempe dapat diolah menjadi berbagai masakan sehat dan lezat.

9. Tape

Tape adalah fermentasi beras ketan atau singkong. Dengan bantuan ragi, proses fermentasi menghasilkan rasa manis, asam, dan tekstur lembut. Tape biasanya disajikan saat Lebaran, sedangkan peuyeum populer sebagai camilan khas Bandung.

10. Dangke

Dangke adalah keju tradisional khas Enrekang, Sulawesi Selatan, terbuat dari susu kerbau dan getah pepaya, difermentasi beberapa hari. Dangke bertekstur lembut dan gurih, sering disajikan sebagai camilan atau lauk pendamping. Proses fermentasi alami memberi cita rasa unik dan meningkatkan nilai gizi.

11. Brem

Brem adalah makanan fermentasi dari Bali dan Nusa Tenggara, berbentuk minuman atau kue. Minuman brem terbuat dari beras ketan atau air tape ketan, dengan rasa manis dan sensasi ‘meletup-letup’. Brem kue biasa disantap sebagai camilan khas Madiun dan Wonogiri. Proses fermentasi memberi aroma dan rasa khas.

12. Oncom

Oncom adalah fermentasi ampas tahu atau kacang kedelai, terdapat oncom merah dan hitam. Oncom kaya protein, murah, dan mudah ditemukan di Jawa Barat. Digunakan sebagai bahan masakan untuk menambah rasa gurih, tekstur lembut, serta kandungan nutrisi yang tinggi.

13. Dadiah

Dadiah adalah yogurt tradisional Minangkabau dari susu kerbau, difermentasi dalam bambu selama 1–2 hari. Rasa asam khas dadiah muncul karena bakteri asam laktat alami. Dadiah sering disajikan sebagai camilan sehat atau pelengkap masakan, dan hanya bisa dibuat dari susu kerbau segar untuk hasil optimal.

Makanan fermentasi khas Indonesia bukan hanya menawarkan rasa yang unik, tetapi juga kaya manfaat kesehatan. Dari terasi hingga dadiah, setiap makanan memiliki nilai budaya, sejarah, dan proses pembuatan yang menarik. Mengonsumsi makanan fermentasi asli Indonesia membantu melestarikan tradisi sekaligus menambah variasi kuliner sehari-hari. Itu dia sejumlah makanan fermentasi khas Indonesia. Ada yang sudah pernah kamu coba atau bikin di rumah?

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan