5 Fakta Mengesankan Persebaya di Bawah Eduardo Perez! Rajin Kumpulkan Kartu, Tidak Cetak Gol

5 Fakta Mengesankan Persebaya di Bawah Eduardo Perez! Rajin Kumpulkan Kartu, Tidak Cetak Gol

Kondisi Persebaya Surabaya yang Memprihatinkan


Persebaya Surabaya kini sedang menghadapi tantangan besar dalam kompetisi Super League 2025/2026. Di bawah arahan pelatih Eduardo Perez, tim asal Surabaya ini terus dihantam oleh serangkaian kartu merah yang muncul secara beruntun. Hal ini tidak hanya mengganggu taktik permainan, tetapi juga membuat performa Green Force terlihat semakin sulit untuk menunjukkan progres yang signifikan.

Dalam lima pertandingan terakhir, empat pemain Persebaya Surabaya sudah menerima kartu merah dan harus meninggalkan lapangan lebih cepat. Situasi ini memicu ketidakseimbangan dalam strategi permainan dan membuat tim kesulitan menjaga ritme serangan yang seharusnya menjadi kekuatan utama mereka.

Kartu Merah yang Terus Muncul

Kartu merah terbaru terjadi pada Francisco Rivera saat melawan Persik Kediri pada 7 November 2025. Gelandang asal Meksiko itu disebut melakukan pelanggaran keras yang tidak diperlukan, sehingga ia harus absen dalam laga kontra Arema FC yang memiliki tensi tinggi. Absennya Rivera menjadi pukulan telak bagi Persebaya Surabaya karena ia adalah motor serangan dan pengatur ritme permainan.

Selama beberapa pertandingan sebelumnya, kontribusi Rivera terlihat nyata. Ia tidak hanya membantu membangun serangan, tetapi juga menciptakan peluang-peluang berbahaya di sepertiga akhir lapangan. Tanpa kehadirannya, skema permainan tim jadi terganggu dan sulit untuk berjalan sesuai rencana.

Pemain Kunci yang Sering Absen

Situasi semakin rumit karena sebelumnya, Dejan Tumbas, Leo Lelis, dan Mikael Tata juga telah menerima kartu merah di laga-laga penting. Akumulasi kartu merah ini menyebabkan rotasi pemain menjadi terbatas dan memaksa Perez untuk menurunkan komposisi yang tidak ideal. Akibatnya, struktur permainan Persebaya Surabaya sering kali kacau ketika harus bermain dengan jumlah pemain lebih sedikit.

Dalam salah satu laga kontra PSBS Biak, Persebaya Surabaya bahkan bertanding hanya dengan sembilan pemain, situasi yang jarang terjadi di level kompetisi profesional. Dampak langsung dari kondisi ini terlihat pada hasil pertandingan mereka di Super League 2025/2026. Meski sempat unggul saat menghadapi Persik, Green Force harus puas bermain imbang 1–1 karena kesulitan mempertahankan tekanan setelah bermain dengan sepuluh pemain.

Minimnya Kontrol Emosi

Fenomena kartu merah beruntun ini mulai memicu reaksi keras dari para suporter Persebaya Surabaya, khususnya Bonek. Banyak yang menilai Eduardo Perez gagal menanamkan kedisiplinan dan kontrol emosi kepada para pemainnya, sehingga masalah ini terus berulang di setiap pekan.

Komentar bernada frustrasi dan sinis memenuhi media sosial, menuntut evaluasi menyeluruh baik terhadap strategi pelatih maupun dukungan manajemen klub. Beberapa suporter bahkan menyebut masalah kartu merah ini sudah menjadi “penyakit lama” yang tidak kunjung tuntas dibenahi.

Pihak manajemen sebelumnya pernah berupaya melakukan perbaikan aspek mental dengan menggandeng Dinas Psikologi Angkatan Laut (Dispsial). Program tersebut sempat digadang-gadang sebagai solusi untuk meningkatkan fokus dan kedewasaan pemain dalam menghadapi tekanan pertandingan. Namun, kenyataannya insiden kartu merah masih terus terjadi dan bahkan semakin sering muncul di momen-momen krusial.

Perbaikan Belum Berhasil

Jika situasi ini tidak segera dibenahi, Persebaya Surabaya berisiko kehilangan momentum di Super League musim ini. Hukuman kartu merah bukan hanya merugikan satu pertandingan, tetapi juga berdampak pada absennya pemain kunci di laga berikutnya yang sama pentingnya.

Konsistensi menjadi kunci bagi Persebaya Surabaya jika ingin kembali meramaikan persaingan papan atas dan merebut posisi terbaik. Dengan jadwal kompetisi yang ketat, kehilangan pemain inti akan semakin mempersulit langkah tim untuk mengumpulkan poin penting.

Kehilangan Momentum

Perubahan tidak bisa hanya dilakukan dalam strategi permainan, tetapi juga dalam membangun karakter, ketenangan, dan kecerdasan dalam mengambil keputusan di lapangan. Green Force harus bergerak cepat sebelum situasi ini semakin memperburuk posisi mereka di klasemen.

Jika tidak, Persebaya Surabaya akan terus lebih dikenal sebagai tim yang rajin mengumpulkan kartu daripada mencetak gol dan meraih kemenangan.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan