
Persebaya Surabaya Dalam Sorotan Pasca Lima Kartu Merah
Persebaya Surabaya kini menjadi perhatian utama setelah menerima lima kartu merah hingga pekan ke-12 Super League 2025/2026. Rekor ini menjadi yang terburuk dalam beberapa musim terakhir dan terjadi di bawah arahan pelatih Eduardo Perez, yang baru mengambil alih kepemimpinan tim sejak awal musim.
Salah satu pemain yang paling sering mendapat kartu merah adalah Francisco Rivera. Gelandang asal Meksiko itu telah dua kali diganjar kartu merah langsung, menunjukkan masalah kontrol emosi yang belum terselesaikan di dalam skuad.
Insiden terbaru terjadi dalam laga melawan Persik Kediri di Stadion Gelora Joko Samudro. Rivera harus keluar lebih cepat pada menit ke-76 setelah tekel kerasnya dianggap layak mendapat kartu merah. Sebelum insiden tersebut, Persebaya Surabaya tampil cukup baik dan memegang kendali tempo permainan pada babak kedua.
Tekanan intens dari lini depan membuat Persik kesulitan mengembangkan serangan. Peluang beruntun hadir dua menit setelah jeda ketika Gali Freitas menusuk dari sisi kiri dan melepaskan tembakan yang diblok Yusuf Meilana. Bola liar kemudian jatuh ke kaki Milos Raickovic yang mencoba mengirim umpan silang, tetapi belum tepat sasaran.
Persik memberi perlawanan melalui tembakan jarak jauh Imanol Garcia. Kiper Andhika Ramadhani tampil sigap dan melakukan penyelamatan penting untuk menjaga skor tetap imbang.
Gol Persebaya Surabaya baru tercipta pada menit ke-53 lewat skema sederhana namun efektif. Sundulan Gali Freitas yang ditepis kiper Persik jatuh tepat di depan Catur Pamungkas dan ia menanduk ulang bola untuk membawa Persebaya Surabaya unggul 0-1.
Green Force hampir menggandakan keunggulan pada menit ke-70 melalui serangan balik cepat. Mihailo Perovic mengirim umpan matang kepada Raickovic, tetapi sepakan pemain asal Montenegro itu masih melambung tipis di atas mistar gawang.
Enam menit kemudian, situasi berubah drastis ketika Rivera diganjar kartu merah. Eduardo Perez harus memutar strategi dan memasukkan Malik Risaldi untuk menjaga intensitas serangan meski Persebaya Surabaya bermain dengan sepuluh pemain.
Sejumlah peluang masih tercipta meski satu pemain berkurang, termasuk sontekan Dime Dimov dari situasi sepak pojok yang masih terlalu lemah. Bruno Moreira juga hampir memperbesar keunggulan di menit ke-90, tetapi kontrol terakhirnya tidak sempurna.
Tiga menit kemudian, tembakan keras Rizky Dwi membentur mistar gawang dan membuat suporter Persebaya Surabaya sempat menahan napas. Namun hakim garis lebih dulu mengangkat bendera tanda offside, sehingga peluang tersebut tetap tidak mengubah keadaan.
Sayangnya tekanan Persebaya Surabaya yang cukup konsisten tidak mampu dikonversikan menjadi kemenangan dan pertandingan akhirnya berakhir imbang 1-1. Hasil tersebut membuat Green Force mengoleksi 15 poin dan menempati peringkat ke-9 klasemen sementara.
Namun pembahasan terbesar tetap tertuju pada urusan disiplin yang mulai menyeret performa tim secara keseluruhan. Selain Rivera yang mengoleksi dua kartu merah, Dejan Tumbas, Leo Lelis, dan Mikael Tata juga pernah menerima kartu merah, dengan kasus Tata berasal dari akumulasi dua kartu kuning.
Catatan lima kartu merah dalam 12 pertandingan tentu bukan statistik yang bisa diabaikan begitu saja. Situasi ini mencerminkan kurangnya pengendalian emosi dan kedisiplinan taktik, sesuatu yang seharusnya menjadi fokus pembenahan dalam latihan.
Eduardo Perez perlu bekerja ekstra keras untuk memperbaiki problem ini jika tidak ingin situasi berlanjut dan berpengaruh langsung terhadap hasil-hasil ke depan. Terlebih laga berikutnya adalah duel sarat gengsi melawan Arema FC pada pekan ke-13, derbi Jawa Timur yang selalu menghadirkan tensi tinggi.
Persebaya Surabaya tentu tidak ingin menghadapi salah satu laga paling penting musim ini dengan bayang-bayang kesalahan yang sama. Konsentrasi, mental bertanding, dan kedisiplinan harus menjadi perhatian utama agar Green Force tidak kembali kehilangan poin dalam situasi yang seharusnya bisa mereka kendalikan.
Dengan musim yang masih panjang, kesempatan untuk memperbaiki diri masih sangat terbuka. Namun jika masalah kedisiplinan tidak segera diselesaikan, Persebaya Surabaya berpotensi menghadapi musim yang jauh dari harapan pendukungnya.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar