Alasan PHK Massal 431 Karyawan di Indofarma dan Hanya 3 Tersisa

Perubahan Signifikan dalam Struktur Karyawan PT Indofarma

Pada pertengahan bulan September 2025, PT Indofarma (Persero) Tbk. melakukan tindakan besar-besaran terkait pengurangan jumlah karyawan. Sebanyak 413 orang karyawan diberhentikan secara massal. Dengan demikian, hingga tanggal 15 September 2025, hanya tersisa tiga karyawan yang bekerja di perusahaan tersebut.

Dalam laporan keuangan yang dipublikasikan di Bursa Efek Indonesia pada 31 Oktober 2025, Indofarma menyatakan bahwa tindakan pemutusan hubungan kerja (PHK) dilakukan sebagai bagian dari upaya untuk memastikan penggunaan sumber daya perusahaan yang lebih efektif dan tepat. Proses ini dikenal dengan istilah rightsizing.

Setelah PHK massal tersebut, Indofarma kembali merekrut sejumlah karyawan. Pada akhir September 2025, perusahaan menambahkan 18 karyawan baru. Sehingga, hingga tanggal 30 September 2025, jumlah karyawan Indofarma mencapai 21 orang.

Direktur Utama Indofarma, Sahat Sihombing, menjelaskan bahwa penambahan karyawan tersebut disesuaikan dengan kebutuhan sumber daya manusia yang diperlukan untuk menjalankan model bisnis terbatas sesuai dengan Putusan Homologasi. Penjelasan ini disampaikan dalam laporan keuangan perusahaan.

Kinerja Keuangan yang Menurun

Hingga 30 September 2025, Indofarma membukukan kerugian sebesar Rp 127 miliar. Angka ini lebih rendah dibandingkan kerugian pada periode yang sama tahun lalu, yaitu sebesar Rp 166,4 miliar. Selain itu, penjualan bersih perusahaan juga mengalami penurunan, mencapai Rp 133,7 miliar dibandingkan penjualan sebesar Rp 137,8 miliar pada periode yang sama tahun lalu.

Penjualan Indofarma terdiri dari beberapa komponen. Di pasar lokal, penjualan etikal mencapai Rp 56,5 miliar, vaksin sebesar Rp 59,1 miliar, serta alat kesehatan, jasa klinik, dan lainnya sebesar Rp 1,7 miliar. Sementara itu, penjualan ekspor meliputi obat bebas (over the counter) sebesar Rp 11,1 miliar dan etikal sebesar Rp 5,1 miliar.

Kondisi Aset dan Liabilitas

Hingga 30 September 2025, aset Indofarma tercatat sebesar Rp 581,5 miliar. Namun, liabilitas perusahaan meningkat menjadi sebesar 1,4 triliun rupiah. Hal ini menyebabkan ekuitas perusahaan mengalami defisiensi modal sebesar Rp 890,9 miliar, turun dari Rp 1,1 triliun pada periode sebelumnya.

Selama kuartal pertama tahun 2025, Indofarma juga mencatatkan kerugian sebesar Rp 25,1 miliar. Angka ini lebih baik dibandingkan kerugian pada periode yang sama tahun lalu, yaitu sebesar Rp 53,9 miliar. Pendapatan yang diperoleh perusahaan selama kuartal I-2025 mencapai Rp 36,7 miliar.

Strategi dan Tantangan Berikutnya

Perubahan struktur karyawan dan penurunan kinerja keuangan menunjukkan bahwa Indofarma sedang menghadapi tantangan besar dalam menjalankan operasionalnya. Langkah rightsizing dan rekrutmen ulang merupakan strategi untuk menyesuaikan diri dengan kondisi bisnis yang berubah. Namun, perlu dilihat apakah langkah-langkah ini akan berhasil dalam jangka panjang, terutama dalam menghadapi persaingan di sektor farmasi yang semakin ketat.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan