
Polusi Mikroplastik di Udara Jakarta Mencemari Air Hujan dan Tanah
Polusi mikroplastik di udara Jakarta kini memasuki tahap yang sangat mengkhawatirkan. Penelitian yang dilakukan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menunjukkan bahwa partikel plastik berukuran sangat kecil ini tidak hanya mencemari udara, tetapi juga telah terdeteksi dalam air hujan yang turun di Jakarta. Temuan ini menjadi peringatan serius atas dampak aktivitas manusia terhadap kualitas udara, air, dan kesehatan masyarakat perkotaan.
Sumber Utama Mikroplastik di Udara
Menurut Profesor Riset BRIN Muhammad Reza Cordova, sumber utama mikroplastik di udara berasal dari dua hal, yaitu pakaian berbahan sintetis dan sampah plastik sekali pakai. Ia menjelaskan bahwa sumber utama polutan tersebut adalah pakaian berbahan sintetis seperti polyester dan nylon, serta sampah plastik sekali pakai yang masih mendominasi kehidupan masyarakat.
“Sumber utama polutan tersebut, lanjut Reza, berasal dari pakaian berbahan sintetis seperti polyester dan nylon, serta sampah plastik sekali pakai yang masih mendominasi kehidupan masyarakat,” kata Reza dalam paparannya di Balai Kota DKI Jakarta.
Riset BRIN yang dilakukan di 18 kota besar Indonesia, termasuk Jakarta, menunjukkan peningkatan signifikan kadar mikroplastik seiring bertambahnya populasi dan aktivitas manusia. “Semakin banyak penduduknya, semakin banyak aktivitasnya, semakin tinggi pula mikroplastik yang ditemukan, baik di udara maupun air,” ujarnya.
Air Hujan Kini Turut Tercemar
Di Jakarta, penelitian BRIN mencatat peningkatan kadar mikroplastik hingga lima kali lipat di kawasan Muara Angke antara 2015 dan 2022. Pengukuran menggunakan alat penangkap air hujan (rain gauge) selama 12 bulan mengungkapkan bahwa partikel mikroplastik kini ikut terbawa air hujan.
“Rata-rata, terdapat 3 hingga 40 partikel mikroplastik per meter persegi per hari yang terbawa oleh air hujan,” kata Reza. Ia menambahkan bahwa air hujan yang awalnya bersih kini dapat menjadi media pembawa polutan. “Air hujan yang awalnya bersih ternyata bisa menjadi media pembawa mikroplastik. Dalam waktu sangat singkat, partikel-partikel plastik di udara bisa larut dan ikut terbawa air hujan.”
Partikel berukuran mikron hingga nanometer itu mudah tersuspensi di udara dan ikut terhirup manusia.
Peran TPA dan Rumah Tangga dalam Pencemaran
Reza menuturkan bahwa peningkatan mikroplastik di udara turut dipengaruhi oleh pengelolaan tempat pembuangan akhir (TPA) yang masih menggunakan sistem terbuka (open dumping). “Semakin terbuka sistemnya, semakin tinggi mikroplastik yang dihasilkan. Dari hasil riset kami, air lindi di TPA bisa meningkatkan kandungan mikro dan mesoplastik 3 sampai 9 kali lipat di badan air,” ujarnya.
Ia menjelaskan, paparan sinar matahari terhadap tumpukan sampah plastik di TPA memicu proses degradasi fotokimia, memecah plastik menjadi partikel kecil yang mudah terbawa angin. Selain itu, rumah tangga juga berperan besar dalam menyumbang mikroplastik. Saat mencuci pakaian sintetis, serat mikro terlepas dan mengalir ke saluran air.
Dalam bentuk debu rumah tangga, partikel tersebut bahkan dapat terhirup manusia. “Mikroplastik bisa menjadi media pembawa polutan lain atau bahkan virus yang kemudian terhirup oleh manusia,” kata Reza.
Ancaman bagi Kesehatan Manusia
Reza menjelaskan, mikroplastik berukuran di bawah 50 mikron berpotensi masuk ke aliran darah dan menuju organ vital. “Jika ukurannya di bawah 50 mikron, mikroplastik berpotensi masuk ke darah dan menuju organ vital seperti jantung,” ujarnya. Paparan jangka panjang dapat menyebabkan iritasi, peradangan, dan gangguan kardiovaskular.
Ketua Sub Kelompok Penyehatan Lingkungan Dinas Kesehatan DKI Jakarta, dr. Rahmat Aji Pramono, menegaskan bahwa partikel ini dapat masuk ke tubuh melalui pernapasan maupun pencernaan. “Mikroplastik adalah benda asing bagi tubuh manusia. Jika masuk melalui saluran pernapasan, partikel kecil ini dapat menimbulkan peradangan atau luka di sepanjang saluran tersebut,” kata Rahmat. Ia menambahkan, partikel mikro dan nano bahkan bisa menembus peredaran darah, merusak pembuluh darah, dan meningkatkan risiko serangan jantung atau stroke.
Mikroplastik dan Dampaknya terhadap Tanah
Selain mencemari udara dan air hujan, BRIN menemukan indikasi bahwa mikroplastik telah mencapai lapisan tanah dangkal di Jakarta. “Semakin besar pori-pori tanah, semakin besar kemungkinan polutan termasuk mikroplastik masuk ke dalam sumur,” ujar Reza. Ia menjelaskan, partikel plastik yang terbawa air hujan dapat menginfiltrasi tanah dan mengubah komposisi kimia serta mikroorganisme di dalamnya.
“Ketika mikroplastik sudah masuk ke tanah, dia bisa mengubah komposisi kimia dan mikroba di dalamnya,” katanya. Reza menegaskan bahwa riset mengenai mikroplastik di tanah masih terus berjalan karena sifat polutannya yang kompleks dan sulit dilacak sumber pastinya.
Respons Pemerintah DKI dan Upaya Mitigasi
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta, Asep Kuswanto, menyebut pemerintah memperketat pengawasan terhadap pembuangan dan pembakaran sampah sembarangan. “Kami sudah menerapkan sanksi administratif dan denda bagi pelaku pembuangan atau pembakaran sampah di ruang terbuka. Ke depan, kami juga mendukung pemberlakuan sanksi sosial sebagai langkah edukatif,” kata Asep. DLH juga tengah mengkaji penerapan sanksi sosial berupa publikasi foto pelaku pembakaran sampah di media sosial.
“Ke depan kami akan mulai menerapkan sanksi sosial, di mana pelaku open burning bisa kami tampilkan wajahnya di media sosial DLH,” ujar Asep. Langkah ini diharapkan dapat menimbulkan efek jera dan mendorong partisipasi masyarakat dalam menjaga lingkungan. DLH juga membentuk Satgas Lingkungan di tiap kelurahan untuk memperkuat pengawasan dan pelaporan berbasis komunitas.
“Kami ingin masyarakat jadi bagian dari pengawasan. Dengan teknologi dan partisipasi warga, penegakan aturan bisa lebih cepat dan efektif,” ujar Asep.
Seruan Perubahan Gaya Hidup
Reza menegaskan bahwa kebijakan pemerintah tidak akan cukup tanpa perubahan perilaku masyarakat. “Ini bukan untuk menakut-nakuti, tapi untuk membangun kesadaran. Polusi mikroplastik adalah cermin dari gaya hidup kita sendiri,” tutupnya. Ia mendorong masyarakat untuk mulai mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, memilih pakaian berbahan alami, serta menjaga kebersihan rumah agar paparan mikroplastik dapat diminimalkan.
Peneliti BRIN dan Dinas Kesehatan DKI menegaskan, mikroplastik kini menjadi ancaman lintas dimensi, yakni mencemari udara, air, tanah, dan tubuh manusia. Perubahan gaya hidup dan pengelolaan sampah yang berkelanjutan menjadi langkah nyata untuk menekan dampaknya bagi generasi mendatang.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar