
Dana Asing Masuk Pasar Saham Indonesia
Dana asing kembali membanjiri pasar saham Indonesia sejak awal tahun 2026, meskipun situasi global masih penuh ketidakpastian. Hal ini didorong oleh beberapa faktor, termasuk rebalancing indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI) dan Financial Times Stock Exchange (FTSE) yang akan berlangsung pada bulan Februari mendatang. Katalis utama ini memberikan dorongan signifikan bagi investor asing untuk meningkatkan aktivitas mereka di pasar modal Indonesia.
Selama periode 2–14 Januari 2026, total dana asing yang masuk ke pasar modal Indonesia mencapai Rp 76,45 triliun. Sementara itu, penjualan saham oleh investor asing tercatat sebesar Rp 70,10 triliun. Dengan demikian, net foreign buy di seluruh pasar mencapai angka Rp 6,35 triliun. Di pasar reguler, net foreign buy tercatat sebesar Rp 5,50 triliun, sementara transaksi tunai dan negosiasi menyumbang sekitar Rp 849,17 miliar.
Saham yang Diserbu Investor Asing
Hingga tanggal 14 Januari 2026, investor asing tercatat memborong saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) dengan net foreign buy sebesar Rp 1,2 triliun. Harga saham ANTM saat ini berada di level Rp 4.090, dan telah naik sebesar 23,94% sejak awal tahun ini.
Sementara itu, saham PT Astra International Tbk (ASII) juga menjadi incaran investor asing. Net foreign buy pada saham ASII mencapai sekitar Rp 977 miliar, dengan harga penutupan sebesar Rp 7.125, atau naik 6,74%. Selain itu, PT Vale Indonesia Tbk (INCO) dibeli asing hingga senilai Rp 875,6 miliar, dengan harga penutupan Rp 6.400, naik 26,11%.
Di bidang telekomunikasi, saham PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) juga menjadi target investor asing. Net foreign buy pada TLKM mencapai Rp 572,7 miliar, dengan harga penutupan Rp 3.650, naik 4,58%. Saham PT Petrosea Tbk (PTRO) juga diserbu asing dengan net foreign buy sebesar Rp 502,3 miliar, dan ditutup di harga Rp 12.400, naik 14,81%.
Perkembangan Saham Lainnya
Selain saham-saham di atas, investor asing juga membeli saham PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) senilai Rp 438,3 miliar, dengan harga penutupan Rp 770, naik 32,76%. Saham PT Archi Indonesia Tbk (ARCI) juga mengalami net foreign buy sebesar Rp 396,5 miliar, dengan harga Rp 1.950, naik 13,70%.
PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) juga menjadi target investor asing, dengan net foreign buy sebesar Rp 377,3 miliar, dan harga penutupan Rp 3.060, naik 31,90%. Saham PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) dibeli asing hingga Rp 370,4 miliar, dengan harga Rp 2.230, naik 14,65%.
Namun, tidak semua saham mengalami kenaikan. Saham PT Impack Pratama Industri Tbk (IMPC) tercatat memiliki net foreign buy sebesar Rp 359,2 miliar, tetapi harga saham turun menjadi Rp 3.400 atau turun 15,42%.
Rebalancing Indeks MSCI dan FTSE
MSCI akan mengumumkan hasil review indeksnya pada 10 Februari 2026, sedangkan FTSE akan menyusul pada 20 Februari 2026. Henan Putihrai Sekuritas menyebut bahwa kombinasi dari dua rebalancing ini dapat memicu "double-index catalyst window", yaitu fase di mana saham tidak hanya melonjak sesaat, tetapi juga mengalami perubahan struktural dalam basis investor dan kerangka valuasi.
Menurut Henan, inklusi suatu saham ke dalam indeks global memiliki karakteristik yang berbeda dibandingkan reli spekulatif jangka pendek. Masuknya saham ke indeks acuan dunia menciptakan permintaan yang bersifat struktural karena dana pasif, ETF, serta manajer investasi berbasis benchmark wajib menyesuaikan portofolionya. Ketika dua indeks global utama masuk secara berurutan, dampaknya bisa lebih besar dan berkelanjutan.
MSCI dinilai berpotensi memicu fase awal re-rating, sementara FTSE berperan sebagai penguat lanjutan yang memperpanjang momentum pergerakan saham. Dengan demikian, investor asing akan terus berminat untuk membeli saham-saham yang diprediksi akan masuk ke dalam indeks global.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar