
Jakarta – Dalam dunia investasi, strategi dan perencanaan yang matang menjadi kunci untuk mencapai imbal hasil yang mampu mengimbangi laju inflasi. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), dalam 10 tahun terakhir, inflasi tertinggi terjadi pada 2023 dengan angka 5,3%, sedangkan inflasi terendah tercatat pada 2024 sebesar 1,6%. Secara rata-rata, inflasi tahunan selama periode tersebut adalah 2,9%.
Infovesta mencatat bahwa pertumbuhan inflasi Indonesia dalam kurun waktu 10 tahun terakhir mencapai 32%. Artinya, investor perlu memperoleh imbal hasil minimal setara dengan angka tersebut agar daya beli tidak tergerus. Meski tingkat inflasi tergolong rendah secara historis, karena pertumbuhan ekonomi yang melambat, para investor tetap perlu menjaga keuntungan dari portofolio mereka.
Oneshildt Agustina Fitria, perencana keuangan, menyarankan investor menargetkan imbal hasil minimal sekitar 2,82% per tahun melalui strategi investasi dan reinvestasi yang konsisten. Target ini, menurutnya, masih bisa dicapai melalui instrumen berisiko rendah seperti reksadana pasar uang.
Namun, ia menekankan pentingnya selektivitas dalam memilih produk investasi. Salah satu indikator utama adalah memastikan dana kelolaan (AUM) produk reksadana di atas Rp 10 miliar. Hal ini penting untuk memenuhi kriteria minimal regulator dan menghindari risiko likuidasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Bagi investor yang lebih mengutamakan kepastian hasil, deposito bisa menjadi pilihan. Meskipun pajaknya relatif lebih tinggi, bunga deposito sebelum pajak harus mencapai minimal 3,525% per tahun. Selain itu, hasilnya perlu diinvestasikan kembali ke pokok deposito agar efek compounding berjalan optimal. Jika prediksi suku bunga stabil atau cenderung turun, investor dapat memilih tenor lebih panjang, misalnya di atas satu bulan.
Selain itu, obligasi atau sukuk juga bisa menjadi alternatif. Investor perlu memastikan kupon minimal sekitar 3,13% per tahun. Namun, hasil kupon tersebut harus diinvestasikan kembali ke instrumen sejenis agar manfaat compounding maksimal.
Agustina menekankan bahwa faktor terpenting dalam investasi adalah disiplin. Investor perlu menjaga kesabaran, menghindari kecemasan (FOMO), dan tetap fokus pada tujuan keuangan jangka panjang.
Dengan strategi yang tepat dan pengelolaan keuangan yang baik, investor dapat mencapai imbal hasil yang mampu melampaui inflasi. Kunci utamanya adalah konsistensi dan pemilihan instrumen yang sesuai dengan profil risiko serta tujuan keuangan.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar