Badan Gizi Nasional: Dapur Makan Gratis Layani 20.419 Keluarga

Jumlah SPPG Program Makan Bergizi Gratis di Indonesia

Jumlah satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG) yang menjadi bagian dari program makan bergizi gratis (MBG) di Indonesia saat ini diklaim mencapai 20.419 unit. Di wilayah eks Karesidenan Surakarta atau Solo Raya, terdapat sebanyak 568 SPPG. Hal ini disampaikan oleh Deputi Bidang Pemantauan dan Pengawasan Badan Gizi Nasional (BGN), Dadang Hendrayudha, dalam acara Kilas Balik 1 Tahun MBG Solo Raya di Kalipepe Land Boyolali, Jawa Tengah, pada Jumat malam, 16 Januari 2026.

Menurut Dadang, jumlah dapur SPPG tersebut telah mencapai angka yang sangat signifikan, yaitu 20.419 unit. Dengan jumlah tersebut, secara tidak langsung telah membuka lapangan pekerjaan yang mencapai hampir 1 juta lebih. Ia menjelaskan bahwa dari total 20.419 SPPG tersebut, sudah melayani lebih dari 50 juta penerima manfaat. Penerima manfaat tersebut mencakup berbagai kalangan seperti siswa PAUD, TK, SD, SMP, SMA, balita, serta ibu hamil dan menyusui.

Dadang juga menyebutkan bahwa rencananya penerima manfaat MBG akan diperluas lagi, termasuk para tenaga kependidikan seperti guru. "Dan ini (penerima manfaat) diperluas lagi. Jadi para tenaga didik juga, guru, juga akan menerima," ujarnya.

Di wilayah Solo Raya, terdapat 568 SPPG yang tersebar di berbagai kabupaten. Di antaranya adalah Boyolali dengan 98 SPPG, Klaten 105 SPPG, Sukoharjo 77 SPPG, Wonogiri 72 SPPG, Karanganyar 77 SPPG, Sragen 85 SPPG, dan Solo 59 SPPG. Meski jumlahnya cukup banyak, Dadang mengakui bahwa masih kurang dari jumlah yang diinginkan terkait dengan jumlah penerima manfaat. Ia menilai ada peluang di mana-mana untuk membangun SPPG baru.

Evaluasi dan Perbaikan Program MBG

Sebagai program baru, pelaksanaan MBG terus dievaluasi agar ke depannya semakin baik. Dadang juga menyampaikan bahwa pelaksanaan program nasional pemerintahan Presiden Prabowo Subianto itu akan terus diperbaiki. "Ini barang baru, program baru, jadi kita juga di pusat berusaha yang terbaik," katanya.

Pada tahun 2026 ini, BGN memastikan program MBG berjalan dengan baik. Dukungan anggaran, kualitas dapur, kecukupan gizi, serta dampak luas pada masyarakat akan menjadi fokus utama. Selain memberikan lapangan pekerjaan, program ini juga diharapkan dapat meningkatkan perekonomian di masyarakat.

"Secara berkala, semua evaluasi yang kita temukan di lapangan, ini terus kita perbaiki. Alhamdulillah nanti tahun 2026 ini semua dukungan anggaran, kualitas infrastruktur dalam hal ini dapur tambah bagus, kecukupan gizi juga bagus dan paling penting di sini multiplier effect," ujar Dadang.

MBG sebagai Bentuk Kemanusiaan

Dadang menegaskan bahwa MBG bukan hanya sekadar bisnis, tetapi juga kemanusiaan. Program MBG memberi dampak luar biasa bagi perekonomian dan masyarakat di sekitar dapur SPPG. Ia berharap ibu-ibu, yayasan, maupun mitra yang terlibat dalam program ini tidak hanya melihatnya sebagai bisnis, tetapi juga sebagai bentuk bantuan sosial.

"Saya berharap ibu-ibu, yayasan, maupun mitra ini (MBG) bukan hanya bisnis. Tapi ini masalah kemanusiaan. Jadi uang yang bapak miliki investasikan untuk mendukung program MBG bisa dirasakan adik-adik kita," ujarnya.

Pemilik Yayasan Bangun Gizi Nusantara, Puspo Wardoyo, yang menaungi SPPG Gagaksipat Boyolali, mengimbau masyarakat untuk bersama-sama memastikan program MBG berjalan dengan baik. Ia juga menekankan agar seluruh dapur SPPG terus menjaga mutu layanan agar program MBG tetap lancar dan penerima manfaat merasa terbantu.

“Mari kita pelihara program ini dengan serius, jangan sampai terabaikan, terpecah, atau menimbulkan masalah,” ujar Puspo.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan