Bandung Berkobar di Bawah Hujan, Kisah Hangat dari Festival Sumirat Citylight 2025

Bandung Berkobar di Bawah Hujan, Kisah Hangat dari Festival Sumirat Citylight 2025

Perayaan Malam Penuh Cahaya di Bandung

Hujan yang turun sejak sore tidak mengurangi semangat warga Bandung untuk merayakan malam penuh cahaya. Dari arah Balai Kota hingga ke Tegalega, ribuan orang memadati sisi jalan, sebagian membawa payung, sebagian lainnya membiarkan rintik air membasahi wajah mereka. Bagi mereka, malam Sabtu itu bukan malam biasa — Bandung sedang “sumirat”, bersinar dalam pesta cahaya memperingati Hari Jadi ke-215 Kota Bandung (HJKB).

Kehadiran Kendaraan Hias yang Menarik Perhatian

Begitu lampu sorot dinyalakan, jalanan seketika berubah menjadi lautan warna. Sebanyak 62 kendaraan hias mulai berbaris rapi, masing-masing menampilkan miniatur bangunan bersejarah. Gedung Merdeka berdiri gagah dalam pancaran lampu putih, sementara replika Museum Geologi tampak memukau dengan efek cahaya biru. Dari kejauhan, kilau lampu seperti menari mengikuti musik marching band yang mengiringi pawai.

Penampilan Wali Kota Bandung

Di barisan paling depan, Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menaiki mobil pemadam kebakaran yang dihias megah. Ia tersenyum dan melambaikan tangan kepada warga yang bersorak riang. “Setelah hujan reda, Bandung tampak lebih terang. Ini simbol bahwa kota kita siap menyemburatkan cahaya,” ujarnya.

Rute yang Menjadi Panggung Berjalan

Rute panjang dari Balai Kota menuju Tegalega seolah menjadi panggung berjalan. Warga berdesakan di sepanjang Jalan Braga dan Suniaraja, sebagian naik ke trotoar, sebagian duduk di atas motor untuk mendapatkan pandangan lebih jelas. Di antara mereka, anak-anak tampak terpukau oleh gemerlap cahaya, sementara para pedagang keliling berkeliling menjajarkan jagung bakar dan balon karakter.

Pandangan Wakil Wali Kota tentang Acara

Wakil Wali Kota Erwin menilai acara ini bukan sekadar hiburan, tapi juga magnet wisata malam. “Bandung macet malam ini, tapi ini macet yang membahagiakan. Hotel penuh, wisatawan datang, warga senang,” katanya dengan tawa ringan.

Keikutsertaan Pengunjung dari Berbagai Daerah

Tak hanya warga kota, pengunjung dari Cimahi, Garut, hingga Subang juga ikut larut dalam suasana. “Saya datang sama keluarga, pengin lihat langsung Gigi tampil di panggung akhir,” ujar Rina, seorang pengunjung yang rela menunggu sejak sore.

Suasana yang Semakin Ramai di Tegalega

Setibanya di Tegalega, suasana makin ramai. Festival kuliner, pertunjukan musik, dan bazar UMKM telah berlangsung sejak siang. Aroma sate dan kopi memenuhi udara malam. Di tengah kepadatan, para petugas dengan sigap menjaga kelancaran pawai.

Konsep Sumirat sebagai Edukasi Budaya

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Adi Mustafa Junjunan, menjelaskan bahwa konsep Sumirat bukan hanya pesta cahaya, melainkan juga ruang edukasi tentang arsitektur kota. “Kami ingin warga mengenal warisan budaya Bandung. Tiap kendaraan hias membawa cerita bangunan cagar budaya,” katanya.

Penutup yang Memukau

Ketika pawai mencapai garis akhir, langit sudah cerah. Panggung utama di Tegalega menyala terang, menyambut penampilan band Kuburan dan Gigi. Ribuan warga bernyanyi bersama, melambaikan lampu ponsel di udara. Cahaya, musik, dan senyum berbaur jadi satu.

Bandung yang Selalu Bersinar

Malam itu, Bandung tidak hanya merayakan ulang tahunnya. Ia sedang menunjukkan jati dirinya — kota kreatif yang selalu tahu cara bersinar, bahkan di bawah hujan.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan