Bank Enggan Turunkan Bunga Kredit, Ini Alasannya

Bank Enggan Turunkan Bunga Kredit, Ini Alasannya


aiotrade, JAKARTA — Meskipun Bank Indonesia (BI) telah menurunkan suku bunga acuan sepanjang tahun 2025, perbankan belum sepenuhnya meneruskan penyesuaian tersebut melalui penurunan bunga kredit. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor yang memengaruhi kebijakan pemberian kredit oleh bank.

Penyebab Terbatasnya Penurunan Bunga Kredit

Bank menilai bahwa biaya dana yang masih tinggi, risiko kredit yang relatif tinggi, serta permintaan kredit yang belum pulih sepenuhnya menjadi hambatan dalam pengambilan keputusan untuk menurunkan bunga kredit. BI telah melakukan berbagai langkah seperti memangkas BI Rate hingga 125 basis poin dan melonggarkan kebijakan makroprudensial guna meningkatkan likuiditas perbankan. Namun, dampak dari kebijakan tersebut belum sepenuhnya terasa di sektor riil.

Hingga November 2025, pertumbuhan kredit perbankan tercatat sebesar 7,74% secara tahunan (year-on-year), yang masih di bawah target BI sebesar 8% hingga 11%. Selain itu, penurunan suku bunga kredit juga terbatas, sehingga tidak sepenuhnya mencerminkan kebijakan moneter yang lebih longgar.

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Penurunan Bunga Kredit

Direktur Utama CIMB Niaga, Lani Darmawan, menjelaskan bahwa salah satu faktor utama yang menghambat penurunan bunga kredit adalah permintaan kredit yang masih rendah, baik dari segmen korporasi maupun Usaha Kecil dan Menengah (UKM). Hal ini terkait dengan daya beli masyarakat yang masih terbatas. Ia menyatakan bahwa suku bunga kredit sangat bergantung pada beberapa faktor, termasuk cost of fund, risiko kredit, dan hubungan dengan nasabah.

Sementara itu, Direktur Utama KB Bank, Kurnady Darma Lie, mengatakan bahwa penurunan suku bunga acuan tidak langsung berdampak pada penurunan bunga kredit karena adanya time lag dan struktur biaya dana perbankan. Premi risiko kredit juga masih tinggi akibat kondisi ekonomi yang belum stabil. Bank perlu menjaga keseimbangan antara mendorong kredit dan menjaga profitabilitas serta kualitas aset.

Kondisi Permintaan Kredit yang Masih Rendah

Kondisi serupa juga diungkapkan oleh Chief Financial Officer Bank Neo Commerce, Sufen Triantio. Ia menyatakan bahwa sikap kehati-hatian bank dalam menyalurkan kredit, khususnya pada segmen UMKM dan konsumer, menjadi faktor utama belum turunnya bunga kredit. Peningkatan risiko kredit pada segmen tersebut membuat bank enggan menurunkan bunga demi menjaga profitabilitas.

Untuk bank digital, perlambatan penyaluran kredit terutama terjadi pada segmen korporasi dan konsumer. Hal ini sejalan dengan strategi bank yang lebih prudent dalam proses penilaian dan analisis kredit.

Tantangan dalam Penyaluran Kredit ke Sektor Prioritas

Selain itu, penyaluran kredit ke sektor-sektor prioritas dan padat karya yang menjadi sasaran insentif kebijakan likuiditas makroprudensial (KLM) juga belum menunjukkan akselerasi signifikan. Baik KB Bank maupun Bank Neo Commerce menilai bahwa kesiapan proyek, kelayakan usaha, serta profil risiko debitur masih menjadi tantangan utama.

Prognosis Ke depan

Perbankan menilai bahwa penurunan suku bunga kredit akan lebih optimal apabila didukung oleh pemulihan permintaan domestik, stabilitas ekonomi global yang lebih kondusif, serta sinergi kebijakan fiskal dan sektoral. Dengan demikian, pelonggaran moneter dapat lebih efektif mendorong intermediasi perbankan.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan