Perubahan Komposisi Indeks Economic 30, Lima Saham Baru Masuk dan Lima Lainnya Keluar
Bursa Efek Indonesia (BEI) telah merilis hasil evaluasi terhadap konstituen indeks Economic 30. Berdasarkan keterbukaan informasi yang diterbitkan pada Senin (23/2/2026), terdapat lima saham baru yang masuk ke dalam indeks tersebut. Kelima emiten tersebut adalah PT Bank Neo Commerce Tbk (BBYB), PT Sentul City Tbk (BKSL), PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA), PT Kawasan Industri Jababeka Tbk (KIJA), dan PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL).
Di sisi lain, lima saham yang keluar dari indeks Economic 30 antara lain PT Aspirasi Hidup Indonesia Tbk (ACES), PT Bank Jago Tbk (ARTO), PT MD Pictures Tbk (FILM), PT Summarecon Agung Tbk (SMRA), serta PT Saratoga Investama Sedaya Tbk (SRTG). Perubahan komposisi ini akan berlaku efektif mulai tanggal 2 Maret hingga 31 Agustus 2026 mendatang.
Prospek Saham-Saham di Dalam Indeks Economic 30
Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI), Muhammad Wafi, menilai bahwa prospek saham-saham yang masuk ke dalam indeks Economic 30 cukup beragam karena berasal dari sektor yang berbeda. Meski demikian, ia melihat potensi peningkatan likuiditas perdagangan seiring dengan masuknya saham-saham tersebut ke dalam indeks.
“Secara historis, saham yang masuk indeks cenderung memperoleh tambahan likuiditas. Investor biasanya melakukan rebalancing dengan membeli saham yang masuk dan melepas saham yang keluar. Namun, kenaikan harga akibat euforia umumnya terjadi di awal (front-loaded),” ujar Wafi kepada aiotrade, Rabu (25/2/2026).
Dari sisi peran sebagai acuan atau benchmark, Wafi menilai bahwa indeks tematik seperti Economic 30 belum akan menggeser dominasi indeks utama. Pasalnya, indeks ini lebih berperan sebagai screener sekunder bagi investor untuk memantau saham mid-cap dengan aktivitas transaksi yang sedang aktif.
Peran Indeks Economic 30 dalam Investasi
Secara terpisah, Fundamental Analyst BRI Danareksa Sekuritas, Abida Massi Armand, menambahkan bahwa masuknya BBYB, BKSL, HRTA, KIJA, dan NCKL mencerminkan kecenderungan pada saham-saham siklikal yang sensitif terhadap pemulihan ekonomi. Menurutnya, sektor perbankan, kawasan industri, dan konstruksi berpeluang menarik apabila suku bunga menurun dan investasi domestik meningkat.
Disamping itu, Abida melihat perubahan komposisi umumnya meningkatkan likuiditas dan visibilitas saham yang masuk karena penyesuaian portofolio oleh manajer investasi.
“Economic30 berpotensi menjadi benchmark alternatif untuk saham-saham siklikal, terutama bagi investor yang ingin mengeksposur tema pertumbuhan ekonomi domestik,” ucap Abida kepada aiotrade, Rabu (25/2/2026).
Analisis Fundamental Emiten Terpilih
Secara fundamental, Wafi menyoroti NCKL dan HRTA sebagai dua emiten yang paling menarik. NCKL dinilai memiliki fundamental kuat sebagai pemain besar di hilirisasi nikel, dengan margin laba yang konsisten tebal serta ekspansi smelter yang berjalan sesuai rencana.
Sementara itu, HRTA diproyeksikan tetap prospektif di tengah tren harga emas yang masih tinggi. Model bisnisnya yang terintegrasi mulai dari penjualan perhiasan, emas batangan ritel, hingga gadai emas terus menunjukkan pertumbuhan.
Adapun prospek KIJA dan BBYB dinilai masih sangat dipengaruhi sentimen makro, khususnya arah suku bunga. Sedangkan BKSL dinilai masih menghadapi tantangan dalam optimalisasi aset.
Rekomendasi Investasi
Abida juga menilai saham perbankan dan kawasan industri relatif menarik secara tematik dalam fase ekspansi ekonomi. Ia menyarankan investor untuk melakukan strategi selektif berbasis fundamental dan valuasi, dengan pendekatan akumulasi bertahap seiring konfirmasi perbaikan kinerja 2026.
Sementara itu, Wafi merekomendasikan investor mencermati sejumlah saham seperti NCKL di target harga Rp 2.100 per saham, HRTA dengan target harga Rp 3.000 per saham, dan KIJA pada level target harga Rp 300 per saham.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar